28

•Februari 23, 2010 • 3 Komentar

Tanpa terasa
28 telah berlalu
masa keemasan telah berakhir
kau menemaniku
menapaki usia dewasa
aku tak pernah menyesal
memandang tahun-tahun yang lewat
tatkala detak jantung
kita menyatu
kau tertidur pulas dalam
pelukanku

dan hujan pun datang
mengambil usia kita

Tanpa terasa
semua telah menjadi biasa
kau ada di mimpiku
aku di mimpimu
gelombang aura kita pun
telah menyatu

Sayang kita tidak cengeng
apalagi romantis
Tanpa banyak drama
kau selalu dahaga

dan aku selalu sepi

Terasa, sangat,
cepat bumi berputar
meninggalkanku

Aku hanya ingin tidur
dan terbangun di Samui
saat aku 28
dan cinta di hatiku
dunia di tanganku.

Iklan

Janji Sepi

•Februari 17, 2010 • 3 Komentar

Di saat sepi
aku melihatmu
menjelma daun-daun lembut
yang membuai angin sepanjang jalanku

mereka berjanji
tidak akan ada yang berubah
daun akan menguning dan jatuh
setiap tahun musim berganti

Di saat sepi
aku mendengarmu
membisikkan puisi cinta
lewat labirin lirik lagu
kau mengikutiku ke mana-mana

aku merindukanmu
peri yang keluar dari kepulan debu
melangkah samar-samar
mengerling kau menggodaku

kau sibakkan tirai sedikit
demi sedikit
hingga aku melihat ke dalam
cantik hatimu
molek tubuhmu
hangat memanas
hasratku; aku mengejarmu.

Tukang Flirting

•Desember 29, 2009 • 4 Komentar

Alkisah sebuah negeri dongen yang indah rupawan….dengan istana dan para permaisuri dan para putri raja yang hidup penuh kenyamanan.  Nah di situlah hidup princess Fiona yang hidup dengan segala kemewahan berjuta.  Tapi entah kenapa hatinya tak jua tenang, rasanya ada yang kurang….kurang asin lah, kurang asem lah, kurang manis lah….pokoknya berasa kurang.  Padahal di sampingnya sang pendamping hidup juga merupakan pilihannya, seorang putri cantik negeri seberang yang bermata biru, Putri Rebecca. Tapi entah kenapa ya hatinya kok masih saja gelisah. Hingga datanglah kunjungan tamu putri cantik lainnya dari negeri lainnya, Putri Federica. Tiba-tiba saja ada blink-blink mengalir sendu di hati Fiona. Kunjungan pertama keduanya diawali dengan bertukar senyuman, lalu diakhiri dengan sebuah kedipan dari Fiona.

Itulah sepenggal kisah Putri Fiona si tukang flirting. Lalu bagaimana akhirnya? Ya tentu sulit di duga, tapi paling tidak ujung-ujungnya cuma main  kedip-kedipan mata, pegangan tangan, and cipika cipiku. Namun karakter Fiona ini tak jauh dari karakter Bette dalam film L Word yang dikategorikan oleh pasangannya sebagai flirtatious person alias tukang flirting. Nah karakter ini ada dan nyata, serta banyak ditemui di dunia sehari-hari. Penggoda berat, tukang kedip and blink-blink, namun tidak membahayakan jika diketahui bagaimana cara menghandlenya.

Nah ketika kata kunci flirtatious person ini diketikkan di miss google, maka berderet pula penjelasan dan versinya. Namun paling tidak pernyataan yang lumayan adem adalah gambaran bahwa tukang flirting ini ya sekedar tukang flirting, dia menikmati dan tidak pernah bermaksud melukai siapapun (uhmmm sebuah pembenaran), dan biasanya bisa dibedakan dengan tukang selingkuh serius, yakni tukang flirting selalu terbuka akan hubungan seriusnya yang sudah ada. Dia tidak akan mendramatisir bahwa hidupnya merana dengan pasangan tercinta, tidak pernah, justru dia akan menunjukkan hidupnya bahagia dan tidak ingin berpisah dengan kekasih atau pasangan hidupnya. Tapi sekaligus dia akan memberikan sinyal pada “pendatang baru” bahwa dirinya tidak menolak untuk dikagumi, disanjung, dan dicintai dalam bentuk lainnya. Jadi tidak ada janji untuk masa depan dengan yang dikedipin…tapi sekadar bertukar rasa bahagia dalam saling memberikan pujian dan perhatian.

Karena manusia mana sih yang tidak suka diberi perhatian? Jadi begitulah cara kerja flirtatious person, bersifat menghibur dan harmless, tidak melukai. Yah namanya juga flirting kan artinya kedip-kedipin mata…blink-blink, main mata deh. Kan kalo lagi flirting jelas-jelas tidak bakal mengeluarkan golok or badik, iya kan……uhhhhh indah dan nikmatnya jadi tukang flirting……

3M

•Desember 17, 2009 • 22 Komentar

Sue sedang suka dengan seorang perempuan, bukan suka dalam artian cinta ya, tapi suka karena perempuan ini indah.

Sue sedang tidak narsis, jadi jangan berburuk sangka dulu.  Perempuan ini ia temui saat sedang mencari narasumber, ya perempuan ini seorang narasumber Sue.  Kerjaan Sue sebagai penulis, membuatnya kerap bertemu perempuan-perempuan yang asyik.. ada yang asyik buat diliatin, ada yang asyik buat dibayang-bayangin, ada juga yang asyik buat dicuekin.  Termasuk, asyik buat digeli-geliin.. maksudnya Sue suka geli sendiri, kalau melihat perempuan yang kayak anjing pudel.  Tahu anjing pudel kan? Itu lho yang kalau jalan suka bergoyang-goyang dan sukanya manja-manja.  Perempuan yang kayak gini bikin Sue geli.   

Pertama bertemu perempuan ini, Sue sudah merasakan daya tarik kuat dari diri perempuan tersebut.  Kedua bertemu dengannya, Sue merasakan medan magnet yang kuat menyergap dirinya tuk bikin janji pertemuan ketiga.  Bukan Sue, kalo gak bisa cari-cari alasan untuk bertemu. Sue bilang kaset wawancaranya kecuci, jadi gak bisa dipakai lagi. Dan anehnya perempuan tersebut gak marah, malah mau diwawancara lagi.  Mungkin ia juga suka didatangi Sue, padahal kalau mau kan bisa lewat telpon ya. Mungkin perempuan tersebut juga suka dengan Sue, abis gak pernah nolak juga kalau didatangi. 

Perempuan yang gayanya praktis ini, kerap membuat Sue blingsatan.  Secara wajah sebenarnya ia gak cakep-cakep amat, tapi manis. Tubuhnya juga gak tinggi, rata-rata perempuan Asia dengan rambut yang pendek tapi serasi.  Di pertemuan ketiga, Sue makin yakin kalau  perempuan ini memang indah.  Dan semakin dipikirin, Sue makin tergoda untuk menyergapnya.. kok kayak mau nangkap anjing liar sih.

Wajah dan penampilan perempuan ini menarik, sikapnya matang, dan pekerjaannya  mapan… hmm inilah gambaran perempuan indah dimata Sue, 3M (menarik, matang, dan mapan).   Gambaran perempuan masa kini, yang tahu apa yang ia mau sekaligus bahagia menjadi dirinya sendiri.  Sempurna dalam kacamata Sue.  Walau sebenarnya gak ada yang sempurna dalam hidup ini kan?  Siapa tahu perempuan ini ternyata dulunya laki-laki.. atau siapa tahu aja perempuan ini mengidap penyakit sapi gila…. .  Tapi itu ntar dulu deh, jangan dibahas sekarang.  Gak bagus bikin sesuatu yang indah, jadi rusak dalam waktu dekat.. hehehe.

Balik ke perempuan ini, di usianya yang relatif muda, ia sudah menjadi manager, sikapnya yang matang dan yakin membuat Sue ingin terus ada di dekatnya, ngebayangin  caranya bicara dan caranya menatap Sue, membuat Sue makin terpesona. Tahu sendiri, Sue yang suka norak dan bikin sebel, ternyata gak bisa membuat emosi perempuan itu berubah.  Sue merasa perempuan ini L.   Radar Sue bilang begitu, tapi masalahnya radar Sue gak sebagus radar Joy atau Tee, yang sudah terlatih berabad-abad lalu.  Radar Sue lebih banyak ngaconya dibanding benarnya, mungkin pengaruh dari otak Sue yang terbatas itu. 

Tapi melihat gaya perempuan ini yang lepas dan matanya itu saat menatap mata Sue, aduuhhh Sue jadi gak bisa bertahan lama membalas tatapan matanya.  Rasanya gimana  gitu…

Perempuan ini benar-benar indah.  Sue yang senang dengan keindahan, memiliki satu lagi koleksi keindahan yang ada dalam benaknya.    

Menjadi perempuan yang indah adalah harapan semua perempuan, mungkin.  Sue merasa semua perempuan itu indah, asal perempuan tersebut bisa memahami diri mereka sendiri dan tahu apa yang jadi kekuatan mereka, nah kekuatan itulah yang terpancar keluar dari dalam diri perempuan yang indah ini. 

Kekuatan disini bukan berarti manipulatif ya, karena semua yang manipulatif hanya berumur sementara, hanya bisa bikin geli kayak anjing pudel tadi.  Tapi ini kekuatan yang sifatnya permanen, dibutuhkan pemahaman dan penerimaan diri untuk dapat memancarkannya. Seperti perempuan yang ditemui Sue ini. 

Sue tidak berani bikin pertemuan ke-empat,  takut tergoda, takut digoda juga.  Tapi yang lebih tepat, sudah gak ada alasan untuk bertemu lagi, masak mau bilang kaset wawancaranya kecuci lagi atau gak sengaja ke makan….ih norak abis deh..  tapi sebenarnya yang paling ditakutin Sue adalah takut  kalau ternyata benar perempuan tersebut dulunya laki-laki.  Dasar L….

Kukumu = Tandamu

•Desember 11, 2009 • 6 Komentar

Suatu siang ketika bertemu dengan seorang “calon” klien secara informal, diri ini ternganga, bagaimana tidak, semua kukunya terawat rapih. Bisa jadi hasil perawatan meni pedi, yang jelas dicat warna merah, merah saga. Ketika dia beranjak pergi, melenggang dengan sepatu sandalnya yang high heels makin terlihat jelas kuku kakinya pun bercat senada dengan scrafnya, merah saga. Ternyata tak cuma diri ini yang terpana, sahabat yang siang itu menemani juga ternganga. Pendeknya kalau nih klien berjalan semua orang akan terpesona. A..a..a…a…. begitulah irama syairnya.

Nah kembali soal kuku tadi, lalu teringat lah akan celetukan lama dari sahabat lainnya yang selalu bilang. “Posisi aktif pasif dalam hubungan seksual pasangan lesbian, bergantung dari kukunya!”…Nah lo…. Apa benar? Lalu mengalirlah argument segudangnya, seolah pakar hubungan perkukuan dengan seksualitas, katanya lagi: “Kalau dia kukunya pendek-pendek, tidak panjang ala Bima dan Ranggda, maka pastilah dia yang memainkan peran di ranjang, kalo yang panjang-panjang kuku jemarinya, dia hanya dimainkan”. Begitu tegasnya penuh keyakinan. Tapi tak usah kuatir dengan premis semacam itu, itu kan jaman dahulu kala, ketika segala alat bantu sulit ditemukan.

Sekarang? Pastilah berbeda, siapa aja bisa jadi pemain utama, punya kuku pendek, panjang, bibir tipis, bibir tebal, gigi pendek, gigi panjang, hidung pendek, hidung panjang, sampai rambut pendek dan rambut panjang, tidak menjadi persoalan lagi siapa yang bisa menjadi pemainnya. Dan tidak juga perlu dikotak-kotak-an siapa pemain utama, dan siapa pemain cadangan, toh bukan bermain bola :).

Soal kuku ini pula, diri ini kategori yang tidak mau menghabiskan secara total panjangnya, maklum akan terasa lebih greng kalo kuku-kuku ini ikut bermain di punggung dan pundak pasangan….uhmmm, rasanya gimana gitu, yang belum pernah mencoba silakan mencoba. Tapi seorang teman lesbian tetap kemudian ngotot: “Saya kalau mau cari pasangan, juga selalu melihat kukunya, kalau kukunya kotor, tidak terawatt, saya jadi ill feel”. Dan tidak heran juga, kalau dia tidak pernah lagi punya pasangan semenjak pindah kerja jadi manager pengawas bengkel motor, dan kemudian pindah lagi jadi pengawas bengkel mobil, dan ada wacana dia hendak dipindahkan ke bagian pengawas percetakan sistem tinta basah, pokoknya perempuan yang dia temui bakal berkuku hitam semua.

Tapi barangkali memang para guru TK dan SD yang akan menjadi favorit para perempuan penggila kebersihan kuku. Kan para guru TK dan SD inilah yang paling rajin memeriksa perawatan kuku jari tangan. Seminggu sekali paling tidak. Namun teman lesbian lain punya solusi jitu, baginya yang penggemar kuku panjang, namun sekaligus lebih suka pakai jari-jarinya untuk bercinta, maka dijalankanlah strategi kuku panjang pendek sesuai kebutuhan. “Ya pake kuku palsu dunk….buatan korea yang paling sip, kalo kelihatan lentik tinggal pake, mo bercinta tinggal copot” ungkapnya mendayu. Pilihan jitu, namun sekali lagi jangan cemas soal identitas kuku tadi, kan ukuran kuku tidak menjadi ukuran bagi kehandalan Anda bercinta.

Ratri M.

dunia kecil Tee

•Desember 8, 2009 • 3 Komentar

Selain mendiami alam semesta yang sangat luas, Tee juga tinggal di sebuah dunia yang kecil. Tee baru sadar dunia itu begitu kecilnya ketika dia menarik garis koneksi antara makhluk-makhluk penghuni dunia itu. Semua saling terkoneksi, bukan lagi dengan six degrees of separation seperti halnya teori yang mendasari situs-situs pertemanan di internet, tetapi kayaknya jauh lebih pendek, mungkin hanya sekitar dua atau tiga degree. Beberapa orang menjadi center dalam interkonektivitas itu, dan salah satu dari orang-orang di pusat itu adalah mantan Tee sendiri.

Secara biologi, penghuni dunia itu mempunyai jenis kelamin yang sama (=mempunyai alat kelamin yang sama), namun secara ilmu lainnya (sosiologi, psikologi, fisika, kimia, sebut saja) tidak ada satu pun yang sama di antara mereka. cara memandang mereka lebih mudah dengan memandang gender sebagai suatu garis kontinum yang panjang dimana setiap orang berdiri di suatu tempat yang berbeda di dalam garis itu, di antara ekstrem yang satu dengan ekstrem yang lain. Peran gender adalah suatu yang luas di dunia itu, tidak hanya dua jenis seperti yang berlaku di alam semesta di luar mereka. Tidak hanya luas, peran itu juga sangat fleksibel. Bisa berubah-ubah sesuai dengan tuntutan sikon, sesuai dengan tuntutan pasangan.

Meskipun berjenis kelamin satu, penghuni dunia itu masing-masing sangat berbeda. Setiap dari mereka mempunyai keunikan yang sangat unik, sangat tidak tipikal seperti kebanyakan orang. Satu-satunya yang sama di antara mereka—selain alat kelamin—juga suatu kenyataan, bahwa mereka semua ternyata, tidak bahagia. Dan seperti kata Tolstoy tentang keluarga yang tidak bahagia, mereka juga, tidak bahagia dengan cara mereka sendiri-sendiri.

Ada yang tidak bahagia karena tidak kunjung bertemu dengan pasangan ideal. Ada yang selalu gagal dalam hubungan, tidak pernah langgeng. Ada yang selalu harus cukup puas dengan hubungan dari jarak jauh (LDR). Ada yang selalu jatuh hati pada istri orang. Banyak yang ditinggal kawin setelah pacaran cukup lama. Tidak sedikit juga yang terjebak dalam soundtrack lagu The Virgin “cinta Terlarang.” Bahkan ketika mereka telah berpasangan dan hidup bersama dengan pasangan seperti cita-cita banyak orang, mereka harus selalu menyanyikan lagu Krisdayanti “Cobalah untuk Setia.”

Dan bahkan dalam sebuah hubungan yang sudah dianggap sempurna: saling mencintai, saling memiliki, super romantis, langgeng, dll, menurut Tee, mereka tidak mungkin merasakan kebahagiaan sejati.

Kenapa? Karena mereka membenci diri mereka sendiri.

Makhluk-makhluk dunia kecil Tee ini selalu gagal menerima diri mereka sendiri apa adanya. Bahkan setelah bisa mencintai diri sendiri, bisa menerima diri sendiri apa adanya dengan segala kekurangan mereka, mereka masih gagal mencintai diri mereka yang mencintai seorang berjenis kelamin sama. Sebagian dari diri mereka selalu menolak bagian yang itu. Setiap kali mereka keluar dari diri mereka sendiri dan melihat diri mereka dengan pasangan, mereka merasa ada yang aneh. Boro-boro mendapatkan penerimaan dari keluarga atau lingkungan luar. Bahkan mereka sendiri tidak suka melihat gambaran itu. Mereka sendiri risih melihat gambar seperti itu. Dan ketika mereka akan punya anak, satu-satunya doa mereka adalah agar anak tidak menjadi seperti mereka.

Terkadang mereka merasa muak. Muak dengan dunia kecil yang isinya itu-itu saja. Muak dengan topik yang berputar-putar tidak ke mana-mana. Muak dengan rasa frustrasi karena tidak menemukan cinta. Mereka bosan dan lalu pindah ke dunia lain, on and off karena mereka akan selalu kembali. Tidak sedikit yang bahkan tidak pernah berani masuk ke dalam dunia kecil Tee. Mereka mencoba membunuh bagian diri mereka yang itu, tetapi tak pernah berhasil.

Lalu apa yang harus dilakukan bila kau hidup di dalam dunia tempat orang-orang merasa tidak bahagia? Tee berusaha berpikir keras. Apakah yang dapat dilakukannya?

Sudah banyak yang pernah dilakukan. Mereka membuka klinik-klinik konseling, yang hanya punya dua pilihan: apabila masih bisa diubah, akan diubah. Bila tidak, bagaimana kemudian membuat makhluk-makhluk itu bisa menerima diri mereka sendiri
. Nah inilah yang menurut Tee cukup susah, sementara mereka tetap hidup dan menjadi bagian dari alam semesta yang lebih luas itu. Penerimaan diri sepenuhnya masih menjadi PR selama berpuluh-puluh tahun ke depan.

Club-club dan pertemanan adalah suatu hal yang sangat membantu, namun tetap saja persoalan inti sepertinya tidak pernah selesai. Maka suatu hari Tee pun pergi ke suatu tempat yang sangat jauh. Dia berjalan kaki selama 5 hari hingga tiba di sebuah desa dan bertemu dengan seorang nenek yang sangat tua yang katanya bisa melihat masa depan.

Nenek itu memberi Tee sebuah ramuan. “Eureka,” Inilah solusi untuk dunia kecilnya, pikir Tee. Ramuan itu akan membuat siapapun yang meminumnya langsung jatuh cinta. Tak peduli berapa pun umurnya, dan berapa pun keras hatinya, pasti akan langsung merasakan perasaan berbunga-bunga itu. Perasaan yang membuat seseorang lupa segalanya. Mereka yang jatuh cinta mengira mereka hanya berdua saja di dunia ini, tidak ada orang lain. Bahkan bila ada, mereka tidak perlu peduli. Jatuh cinta membuat siapa pun merasa bahagia dan seolah keluar dari dunia tempat dia berada dan masuk ke surga. Mereka tidak mungkin merasakan masalah-masalah tadi, karena mereka tidak di sini.

Maka jatuh cinta adalah satu-satunya jalan menuju bahagia. Jatuh cinta harus terus terjadi, untuk mencegah ketidakbahagiaan muncul kembali. Apabila perasaan itu hilang, tinggal diminum lagi ramuannya. Perasaan itu akan kembali lagi. Dan apabila tidak ada orang untuk dijatuhi cinta, tidak apa-apa, nikmati saja perasaan itu, sudah cukup membuat kita bahagia. Tidak percaya? Coba saja.

’Istri-istri’ takut istri

•November 24, 2009 • 5 Komentar

Tadi pagi Joy telpon ke Sue, dia cerita tentang Ibet, partner tetap Joy saat ini.  Dibilang tetap, karena Joy juga memiliki banyak partner tidak tetap. 

Joy memang dikejar-kejar banyak pengagum rahasia.  Diantara anggota 3P yang lain, memang Joy yang paling ’nakal’ dan paling banyak penggemarnya. Mungkin ia pakai susuk.  Susuk kuda liar.  Karena itu pengagum Joy kebanyakan kuda.

”Sue, Ibet lagi ke luar kota. Barusan gue anterin ke bandara,” terdengar suara Joy yang renyah di pagi itu.

“hmm, sudah ada flirting-an untuk nanti malam?”

”Ah, jangan gitu dong Sue.. gue sekarang setia, beda dengan yang dulu. Lo tahu kan.  Flirting-flirting sedikit sih masih, tapi ngga separah dulu.  Gue yakin dengan pilihan gue yang sekarang,” sahut Joy dengan suara sedikit ngambek.  Memang setahu Sue, hanya Ibet yang bisa mengendalikan Joy.  Sue yakin itu karena hubungan mereka sudah berjalan hampir sepuluh tahun, sempat putus sambung, tapi makin hari hubungan mereka makin stabil. Kayaknya sih….

”hehehe… senang mendengar elu sudah setia, Joy.”

”Makanya, lo ingetin gue kalau gue salah melangkah.”

”Ya..iyalah…masa ga-lah… emang mau ngambil dondong?” terdengar Sue menjawab cuek.
 
“Jadi sekarang hubungan elu dengan Ibet gimana? makin yakin untuk menikah?”  lanjut Sue sambil membaca email-email di laptopnya.

”ya gitu deh.. gue mau aja menikah, tapi belum siap dengan ini itunya.. ribet. Eh tapi gue mau cerita nih. Masa tadi pagi Ibet ketakutan ma gue.”

”Ketakutan? Ibet bisa takut ama lo? Gak percaya gue,” Sue mulai tertarik dengan cerita Joy.  Ibet seorang perempuan yang sudah mapan (kata lebih halus dari sudah berumur, hanya sedikit lebih muda dari ibunya Joy..).  Joy memang suka yang lebih berumur darinya.   Dan Ibet  adalah contoh dari sedikit perempuan yang memiliki emosi sangat terkendali.

”gue juga gak percaya… Padahal dia cuma mau bilang kalau tugasnya di luar kota diperpanjang jadi dua minggu dari yang seharusnya cuma tiga hari.  Dia gak berani bilang ada perubahan jadwal ke gue, padahal perubahan itu sudah dia ketahui sejak dua hari sebelum berangkat.  Jadi sepanjang perjalanan ke bandara tadi, dia seperti serba salah dan gak berani ngapa-ngapain. Awalnya memang gue sempat ngerasa ada yang beda dari dia, tapi gue gak tahu kalau itu karena dia takut sama gue.  Memang sudah pasti sih, gue bakal sebal dikasih tahu mendadak, terus bakal ditinggal lama lagi. Tapi gue gak tahu kalau dia sampai ketakutan gitu.”

”Terus?” tanya Sue penasaran.

”terus dia bilang:  Non, aku kok seperti suami-suami takut istri ke kamu, padahal aku cuma mau bilang kalau jadwal keluar kota diperpanjang..,” lanjut Joy sambil tertawa.  Non adalah panggilan kesayangan Ibet ke Joy.

”Bayangkan Sue! kalimat itu keluar dari seorang Ibet lho.  Lo tahu sendiri kalau Ibet itu sangat terkendali emosinya.. kalau dia ngomong gitu, pasti karena ada sesuatu dalam diri gue yang bikin dia sampai panik gitu.  Gue kaget, senang sekaligus jadi mikir juga, apakah sekuat itu dampak gue ke Ibet ya?” suara Joy terdengar bangga.

”ya jelas, Joy.  Itu berarti dia memang takut sama reaksi lo, takut bikin lo kecewa. Bisa jadi juga dia takut elo turunin di pinggir jalan, padahal belum sampai bandara,” kata Sue sambil membaca email lagi.

”Kira-kira apa yang menyebabkan ia begitu ya?” Joy pura-pura tidak mendengar omongan Sue yang terakhir.

”Elu gak nanya dia?”

”Gak berani.”

”Gue tahu.”

“Tahu, Sue?” tanya Joy ganti ia yang penasaran.
 
“Iye, gue jadi tahu kalau selama ini Ibet yang ngasih nafkah batin.” hehehe ketahuan deh siapa yang jadi ‘suami’nya..

“Sialan lu.”

 

Dalam menjalin relasi memang selalu ada dinamika berpasangan. Bukan saja di dunia hetero, di dunia homo pun terjadi apa yang dinamakan dinamika ’kekuasaan’.  Dalam hal ini, Ibet mungkin memandang Joy lebih ber-’kuasa’ dalam mengatur hubungan mereka, jadi muncullah rasa ’takut’ itu.  Tapi bisa jadi juga rasa takut itu muncul bukan karena relasi kekuasaan, tapi karena faktor-faktor lain, selalu ada faktor x kan? apalagi jika sudah berhubungan dengan yang namanya manusia. Jadi faktor x itu bisa berkaitan dengan apa saja.  Termasuk berkaitan dengan….. kuda?