dunia kecil Tee

Selain mendiami alam semesta yang sangat luas, Tee juga tinggal di sebuah dunia yang kecil. Tee baru sadar dunia itu begitu kecilnya ketika dia menarik garis koneksi antara makhluk-makhluk penghuni dunia itu. Semua saling terkoneksi, bukan lagi dengan six degrees of separation seperti halnya teori yang mendasari situs-situs pertemanan di internet, tetapi kayaknya jauh lebih pendek, mungkin hanya sekitar dua atau tiga degree. Beberapa orang menjadi center dalam interkonektivitas itu, dan salah satu dari orang-orang di pusat itu adalah mantan Tee sendiri.

Secara biologi, penghuni dunia itu mempunyai jenis kelamin yang sama (=mempunyai alat kelamin yang sama), namun secara ilmu lainnya (sosiologi, psikologi, fisika, kimia, sebut saja) tidak ada satu pun yang sama di antara mereka. cara memandang mereka lebih mudah dengan memandang gender sebagai suatu garis kontinum yang panjang dimana setiap orang berdiri di suatu tempat yang berbeda di dalam garis itu, di antara ekstrem yang satu dengan ekstrem yang lain. Peran gender adalah suatu yang luas di dunia itu, tidak hanya dua jenis seperti yang berlaku di alam semesta di luar mereka. Tidak hanya luas, peran itu juga sangat fleksibel. Bisa berubah-ubah sesuai dengan tuntutan sikon, sesuai dengan tuntutan pasangan.

Meskipun berjenis kelamin satu, penghuni dunia itu masing-masing sangat berbeda. Setiap dari mereka mempunyai keunikan yang sangat unik, sangat tidak tipikal seperti kebanyakan orang. Satu-satunya yang sama di antara mereka—selain alat kelamin—juga suatu kenyataan, bahwa mereka semua ternyata, tidak bahagia. Dan seperti kata Tolstoy tentang keluarga yang tidak bahagia, mereka juga, tidak bahagia dengan cara mereka sendiri-sendiri.

Ada yang tidak bahagia karena tidak kunjung bertemu dengan pasangan ideal. Ada yang selalu gagal dalam hubungan, tidak pernah langgeng. Ada yang selalu harus cukup puas dengan hubungan dari jarak jauh (LDR). Ada yang selalu jatuh hati pada istri orang. Banyak yang ditinggal kawin setelah pacaran cukup lama. Tidak sedikit juga yang terjebak dalam soundtrack lagu The Virgin “cinta Terlarang.” Bahkan ketika mereka telah berpasangan dan hidup bersama dengan pasangan seperti cita-cita banyak orang, mereka harus selalu menyanyikan lagu Krisdayanti “Cobalah untuk Setia.”

Dan bahkan dalam sebuah hubungan yang sudah dianggap sempurna: saling mencintai, saling memiliki, super romantis, langgeng, dll, menurut Tee, mereka tidak mungkin merasakan kebahagiaan sejati.

Kenapa? Karena mereka membenci diri mereka sendiri.

Makhluk-makhluk dunia kecil Tee ini selalu gagal menerima diri mereka sendiri apa adanya. Bahkan setelah bisa mencintai diri sendiri, bisa menerima diri sendiri apa adanya dengan segala kekurangan mereka, mereka masih gagal mencintai diri mereka yang mencintai seorang berjenis kelamin sama. Sebagian dari diri mereka selalu menolak bagian yang itu. Setiap kali mereka keluar dari diri mereka sendiri dan melihat diri mereka dengan pasangan, mereka merasa ada yang aneh. Boro-boro mendapatkan penerimaan dari keluarga atau lingkungan luar. Bahkan mereka sendiri tidak suka melihat gambaran itu. Mereka sendiri risih melihat gambar seperti itu. Dan ketika mereka akan punya anak, satu-satunya doa mereka adalah agar anak tidak menjadi seperti mereka.

Terkadang mereka merasa muak. Muak dengan dunia kecil yang isinya itu-itu saja. Muak dengan topik yang berputar-putar tidak ke mana-mana. Muak dengan rasa frustrasi karena tidak menemukan cinta. Mereka bosan dan lalu pindah ke dunia lain, on and off karena mereka akan selalu kembali. Tidak sedikit yang bahkan tidak pernah berani masuk ke dalam dunia kecil Tee. Mereka mencoba membunuh bagian diri mereka yang itu, tetapi tak pernah berhasil.

Lalu apa yang harus dilakukan bila kau hidup di dalam dunia tempat orang-orang merasa tidak bahagia? Tee berusaha berpikir keras. Apakah yang dapat dilakukannya?

Sudah banyak yang pernah dilakukan. Mereka membuka klinik-klinik konseling, yang hanya punya dua pilihan: apabila masih bisa diubah, akan diubah. Bila tidak, bagaimana kemudian membuat makhluk-makhluk itu bisa menerima diri mereka sendiri
. Nah inilah yang menurut Tee cukup susah, sementara mereka tetap hidup dan menjadi bagian dari alam semesta yang lebih luas itu. Penerimaan diri sepenuhnya masih menjadi PR selama berpuluh-puluh tahun ke depan.

Club-club dan pertemanan adalah suatu hal yang sangat membantu, namun tetap saja persoalan inti sepertinya tidak pernah selesai. Maka suatu hari Tee pun pergi ke suatu tempat yang sangat jauh. Dia berjalan kaki selama 5 hari hingga tiba di sebuah desa dan bertemu dengan seorang nenek yang sangat tua yang katanya bisa melihat masa depan.

Nenek itu memberi Tee sebuah ramuan. “Eureka,” Inilah solusi untuk dunia kecilnya, pikir Tee. Ramuan itu akan membuat siapapun yang meminumnya langsung jatuh cinta. Tak peduli berapa pun umurnya, dan berapa pun keras hatinya, pasti akan langsung merasakan perasaan berbunga-bunga itu. Perasaan yang membuat seseorang lupa segalanya. Mereka yang jatuh cinta mengira mereka hanya berdua saja di dunia ini, tidak ada orang lain. Bahkan bila ada, mereka tidak perlu peduli. Jatuh cinta membuat siapa pun merasa bahagia dan seolah keluar dari dunia tempat dia berada dan masuk ke surga. Mereka tidak mungkin merasakan masalah-masalah tadi, karena mereka tidak di sini.

Maka jatuh cinta adalah satu-satunya jalan menuju bahagia. Jatuh cinta harus terus terjadi, untuk mencegah ketidakbahagiaan muncul kembali. Apabila perasaan itu hilang, tinggal diminum lagi ramuannya. Perasaan itu akan kembali lagi. Dan apabila tidak ada orang untuk dijatuhi cinta, tidak apa-apa, nikmati saja perasaan itu, sudah cukup membuat kita bahagia. Tidak percaya? Coba saja.

~ oleh tomatjuice pada Desember 8, 2009.

3 Tanggapan to “dunia kecil Tee”

  1. waaa mumet aku mat…

  2. hahahahaha… makin mumet, makin mantebbb.

  3. hwaaa yoi jatuh cinta jadi ya ramuannya ya.. Jatuh cinta sm bini sendiri or sama bini orang bagusnya? hehehe. Tapi mat happy itu sebenernya bisa di set permanen sih kayaknya, asal pas lagi sedih dan senang (perasaan yg fluktuatif) terjadi kita ngak usah terlalu berlebihan menerimanya… landai2 aja kata si yayang, apa yang ada ya dinikmati saja. wehh si kikuk ikut absen juga nih! hihihi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: