di tempat aku menunggumu

di tempat aku menunggumu
Di tempat aku menunggumu
ada enam meja
dan dua puluh kursi
yang semuanya kosong.
Ada tulisan di atas meja:
Yth Bapak/Ibu, terima kasih untuk
tidak duduk di sini kecuali tamu,
tapi aku tetap duduk.
Ya, abis gimana mau jadi tamu, wong
cafe-nya sudah tutup.
Yang tersisa hanya sebuah bar senyap;
satpam dan cleaning service yang mengobrol
tentang NU atau Muhammadiyah dan kapan lebaran
di depan kaca gedung memperlihatkan
gerakan Jakarta sehabis maghrib;
bergerak lancar. Tanda hari
sudah malam. Satu per satu
mbak-mbak kantoran berpamitan.
Bedak dan gincu telah dipoleskan,
siap menunggu jemputan dan
menyongsong malam.
Di tempat aku menunggumu
lampu pun mulai dipadamkan.
Aku bertanya-tanya… berapa lama lagi
kamu akan datang?
Waktu merangkak sepelan cicak
di sela putaran kipas angin
tua yang melambat.
ngek, ngok, ngek, ngok
Membuatku teringat penari darwish yang
lelah.
Dan bila kamu akhirnya datang
apakah mukamu berseri
atau kelelahan?
Sehabis bertarung untuk kehidupan,
apakah periku akan berubah menjadi monster malam?
Aku pun membayangkan seorang
gadis kecil yang duduk di taman
setangkai bunga di tangannya
helai demi helai dilepasnya
sambil menghitung dengan gelisah
“He loves me”
“He loves me not”
“He loves me”
“He loves me not.”

Di tempat aku menunggumu

ada enam meja

dan dua puluh kursi

yang semuanya kosong.

Ada tulisan di atas meja:

Yth Bapak/Ibu, terima kasih untuk

tidak duduk di sini kecuali tamu,

tapi aku tetap duduk.

Ya, abis gimana mau jadi tamu, wong

cafe-nya sudah tutup.

Yang tersisa hanya sebuah bar senyap;

satpam dan cleaning service yang mengobrol

tentang NU atau Muhammadiyah dan kapan lebaran

di depan kaca gedung memperlihatkan

gerakan Jakarta sehabis maghrib;

bergerak lancar. Tanda hari

sudah malam. Satu per satu

mbak-mbak kantoran berpamitan.

Bedak dan gincu telah dipoleskan,

siap menunggu jemputan dan

menyongsong malam.

Di tempat aku menunggumu

lampu pun mulai dipadamkan.

Aku bertanya-tanya… berapa lama lagi

kamu akan datang?

Waktu merangkak sepelan cicak

di sela putaran kipas angin

tua yang melambat.

ngek, ngok, ngek, ngok

Membuatku teringat penari darwish yang

lelah.

Dan bila kamu akhirnya datang

apakah mukamu berseri

atau kelelahan?

Sehabis bertarung untuk kehidupan,

apakah periku akan berubah menjadi monster malam?

Aku pun membayangkan seorang

gadis kecil yang duduk di taman

setangkai bunga di tangannya

helai demi helai dilepasnya

sambil menghitung dengan gelisah

“He loves me”

“He loves me not”

“He loves me”

“He loves me not.”

“He loves me…”

~ oleh tomatjuice pada September 18, 2009.

3 Tanggapan to “di tempat aku menunggumu”

  1. hmm lg nunggu siapa nihhh mat?
    btw maap lahir batin ya.. kt blom smpt ktmu2 lagi ya. Nongkrong ke ahmei boo.. jauhh bnr nunggu ke cimori.

  2. maap lahir batin juga neng. Yuk, atur aja, ahmei itu favorit gw sekarang😀

  3. kafe apa habis magrib tutup?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: