Mengapa Kita Butuh Suami?

Ada beberapa alasan—atau fungsi—suami, seandainya nanti gue sampai memutuskan untuk menikah. Prokreasi sepertinya bukan alasan buat gue, secara gue gak punya apa-apa untuk diwariskan. Alasan common lainnya misalnya menikah untuk status, saat ini gue belum terdesak-terdesak amat untuk mempertimbangkannya. Untuk sex, well, saat ini sudah cukup puas sih tanpa perlu adanya p***s.

So… andai nanti gue akan menikah, berikut ini kira-kira alasan gue dan kira-kira suami gue akan difungsikan terutama dalam hal apa:

1. Gue gak suka ke bengkel. Setiap harus ada urusan ke bengkel gue mulai bingung. Dan gue selalu menunggu sampai batas akhir banget, sampai kepepet dan terpaksa gue baru deh datang ke bengkel. Dan selalu orang-orang bengkel menatap gue dengan tatapan aneh karena mereka jarang atau gak pernah kali liat cewek secantik gue ke bengkel sendirian (hahaha ngarep mode on). Selain itu gue juga gak ngerti sama sekali urusan mesin-mesin gini, dan gak pernah mau belajar. Sama halnya gue selalu nyasar dan butuh navigasi, dan dalam hal ini gue gak pernah maju-maju. Makanya gue berharap suami gue yang ngurusin semua urusan perbengkelan jadi gue tinggal pake mobilnya aja.

2. Gue udah bosen kondangan sendirian. Kalau bawa partner kayaknya gak mungkin, jadi mostly gue selalu kondangan sendiri. Itu pun akhirnya gue batasi untuk undangan temen-temen deket aja, yang gak mungkin gue tolak. Kalau dulu, masih bisa bawa temen-temen deket cowok, minta dianterin, tapi makin ke sini, teman-teman makin sedikit, mereka entah udah menikah atau udah punya pacar, lah apa kata istri/pacar mereka kalau mereka nganterin gue kondangan? Nah kalau punya suami kan gak perlu bingung lagi setiap ada acara-acara resmi kayak gini…

3. Kalau punya suami/keluarga, bisa dapat tunjangan yang lebih banyak dari kantor. Banyak perusahaan yang memberikan tunjangan untuk suami/keluarga. Tidak mungkin untuk partner kan? Dan kita juga bisa minta ijin tidak masuk karena suami sakit, atau bahkan suami cuti (jadi bisa ikutan liburan sekalian). Untuk partner, yah gak mungkin kali ya.

Hmmmm… Apa lagi ya alasannya? Ada yang mau nambahin? Kok kayaknya semuanya gak ada yang serius?😀 Yah biar aja deh. Kalau untuk alasan menjalankan tugas agama, kayaknya gue juga gak terlalu religius. Untuk alasan finansial juga saat ini belum terdesak-terdesak amat. So… yah, untuk sementara, those are the reasons I can think of, mungkin karena kontext saat ini juga sih. Who knows besok-besok keadaan berubah dan juga pastinya gue akan punya alasan yang berbeda.

Who knows.

~ oleh tomatjuice pada September 7, 2009.

3 Tanggapan to “Mengapa Kita Butuh Suami?”

  1. saya tetap aja ga butuh laki-laki, saya cm butuh perempuan dalam segala hal….

  2. Heeehhee keren bahasannya…!
    btw gw jg yg paling gw butuhin binii.. (ada dia buat gw lbh tenang hdp n ngak liar2 amat hehehe, hmmm suami yg ada kalah macho ma gw booo!🙂

    eM

  3. “Lho,krain pure lesbian yg ga bkal nikah….Trnyata msh ada niat bwt nkah…Hmmmh,kcian partnernya klo bca ini,lma2 pcran eh km nya terdesak krn suatu kbtuhan,,,nkah deh km nya…huftt,,,sorry,just my opinion…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: