Another Earthquake

Another Earthquake
Kemarin, telah terjadi gempa. Cukup dahsyat untuk membuat Jakarta bergoyang. Goyangannya memabukkan. Getarannya cukup lama, seperti orgasme yang panjang. Mustahil untuk tidak merasakannya. Hampir seluruh Jakarta bergetar. Kaca-kaca pecah. Orang-orang pun berhamburan keluar. Para kekasih mengeluarkan handphone. Saat itulah kita tahu siapa yang paling penting. Ada yang lupa menelepon orangtuanya, bahkan lupa menelepon suaminya, tapi malah menelepon pacarnya.
Saat sebuah bencana, saatnya menunjukkan kasih sayang. Berapa banyak pasangan yang setelah syok gempa pada siang hari, pada malam harinya saling memeluk dan berkasih-kasihan, yang berujung pada terjadinya sebuah gempa yang lain?
Gempa yang ini terjadi di dalam tubuh, gemuruhnya sangat kencang, bagaikan ledakan besar yang melunturkan tebing-tebing gunung. Suara dari dalam ini hanya diketahui alam, dan telah dirahasiakannya selama bertahun-tahun dariku.
Sebelum merasakannya sendiri, aku benar-benar tidak tahu. Bahwa sesungguhnya tubuhku membawa beberapa bom (bukan bom bunuh diri) yang dapat meledak bila dinyalakan. Ledakan ini begitu dahsyat sehingga tidak bisa diceritakan ataupun digambarkan. Hanya bisa dirasakan.
Seusai semua gemuruh itu, kemudian yang keluar adalah desahan. Suara inilah yang sering disebut orang suara terindah di dunia. Padahal, setelah kamu mengetahui rahasianya, sesungguhnya, orgasme bukanlah soal desahan itu. Desahan bisa dipalsukan. Banyak yang bisa melakukan fake orgasme. Tapi ledakan atau gempa yang satu itu, tidak ada yang bisa menipu.
Seperti halnya gempa bumi, gempa tubuh juga menyisakan perasaan mabuk. Setelah merasa bergoyang-goyang padahal tidak sedang naik kapal, aku pun tiba-tiba teringat pada gempa yang lain itu. Pikiran yang sangat aneh. Aku tidak berani menceritakannya pada siapapun. Apakah ada yang merasa seperti aku? Sepuluh tahun yang lalu ketika aku masih berada dalam masa kegelapan sex, tidak akan terpikirkan olehku pikiran seperti ini.
Kupikir orgame adalah tentang Uh-oh-uh-oh, tapi ternyata orgasme lebih cocok dilukiskan dengan Duarrrrrrrrrr…. barangkali begitu.
But, maybe it’s just me. Gak tahu deh.
How about you? Kalau kamu belum tahu rasanya, well, dulu aku juga seperti kamu kok. Aku pernah mengalami masa sex tanpa orgasme. Kemesraan tanpa puncak. Appettizer tanpa main course. Jalan tiada ujung. Dan aku bisa hidup dengan itu. Aku bisa menerima itu. Setelah lelah mencoba, aku sampai pada kenyataan bahwa sex tidak harus sama dengan orgasme. Namun, itulah dulu. Itu yang kusebut dengan masa kegelapan sex dan hal itu tidak perlu dibahas lagi. Suatu saat kamu pun akan menemukan rahasianya. Dan ternyata rahasia itu bukan terletak pada pasanganmu. Jawabannya harus dicari dari dalam dirimu sendiri.
Setelah beberapa saat berayun-ayun di atas bumi Jakarta yang berguncang, aku pun merasa sedikit mabuk. Apakah tadi aku baru saja merasakan gempa bumi, atau aku hanya baru saja jatuh cinta?

gempa

Kemarin, telah terjadi gempa. Cukup dahsyat untuk membuat Jakarta bergoyang. Goyangannya memabukkan. Getarannya cukup lama, seperti orgasme yang panjang. Mustahil untuk tidak merasakannya. Hampir seluruh Jakarta bergetar. Kaca-kaca pecah. Orang-orang pun berhamburan keluar. Para kekasih mengeluarkan handphone. Saat itulah kita tahu siapa yang paling penting. Ada yang lupa menelepon orangtuanya, bahkan lupa menelepon suaminya, tapi malah menelepon pacarnya.

Saat sebuah bencana, saatnya menunjukkan kasih sayang. Berapa banyak pasangan yang setelah syok gempa pada siang hari, pada malam harinya saling memeluk dan berkasih-kasihan, yang berujung pada terjadinya sebuah gempa yang lain?

Gempa yang ini terjadi di dalam tubuh, gemuruhnya sangat kencang, bagaikan ledakan besar yang melunturkan tebing-tebing gunung. Suara dari dalam ini hanya diketahui alam, dan telah dirahasiakannya selama bertahun-tahun dariku.

Sebelum merasakannya sendiri, aku benar-benar tidak tahu. Bahwa sesungguhnya tubuhku membawa beberapa bom (bukan bom bunuh diri) yang dapat meledak bila dinyalakan. Ledakan ini begitu dahsyat sehingga tidak bisa diceritakan ataupun digambarkan. Hanya bisa dirasakan.

Seusai semua gemuruh itu, kemudian yang keluar adalah desahan. Suara inilah yang sering disebut orang suara terindah di dunia. Padahal, setelah kamu mengetahui rahasianya, sesungguhnya, orgasme bukanlah soal desahan itu. Desahan bisa dipalsukan. Banyak yang bisa melakukan fake orgasme. Tapi ledakan atau gempa yang satu itu, tidak ada yang bisa menipu.

Seperti halnya gempa bumi, gempa tubuh juga menyisakan perasaan mabuk. Setelah merasa bergoyang-goyang padahal tidak sedang naik kapal, aku pun tiba-tiba teringat pada gempa yang lain itu. Pikiran yang sangat aneh. Aku tidak berani menceritakannya pada siapapun. Apakah ada yang merasa seperti aku? Sepuluh tahun yang lalu ketika aku masih berada dalam masa kegelapan sex, tidak akan terpikirkan olehku pikiran seperti ini.

Kupikir orgame adalah tentang Uh-oh-uh-oh, tapi ternyata orgasme lebih cocok dilukiskan dengan Duarrrrrrrrrr…. barangkali begitu.

But, maybe it’s just me. Gak tahu deh.

How about you? Kalau kamu belum tahu rasanya, well, dulu aku juga seperti kamu kok. Aku pernah mengalami masa sex tanpa orgasme. Kemesraan tanpa puncak. Appettizer tanpa main course. Jalan tiada ujung. Dan aku bisa hidup dengan itu. Aku bisa menerima itu. Setelah lelah mencoba, aku sampai pada kenyataan bahwa sex tidak harus sama dengan orgasme. Namun, itulah dulu. Itu yang kusebut dengan masa kegelapan sex dan hal itu tidak perlu dibahas lagi. Suatu saat kamu pun akan menemukan rahasianya. Dan ternyata rahasia itu bukan terletak pada pasanganmu. Jawabannya harus dicari dari dalam dirimu sendiri.

Setelah beberapa saat berayun-ayun di atas bumi Jakarta yang berguncang, aku pun merasa sedikit mabuk. Apakah tadi aku baru saja merasakan gempa bumi, atau aku hanya baru saja jatuh cinta?

~ oleh tomatjuice pada September 3, 2009.

3 Tanggapan to “Another Earthquake”

  1. jadi intinya…kapan merit?😀😀

  2. eh sori…tanggapan di atas buat artikel “SUAMI” itu…bersyukurlah aku yang merasa orgasme bukan masalah besar hahahahahaha….

  3. mungkin memang ada orang-orang yang ditakdirkan untuk tidak memiliki ‘ledakan’ atau ‘gempa’ itu.. merasakan guncangan saja sudah cukup untuk saya.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: