hari yang cerah untuk jiwa yang sepi

Pagi telah menganga, begitu menyilaukan, tapi matamu masih berat. Kelopak matamu berjuang membuka. Mengapa aku masih berada di sini, pikirmu. Kamu ingin terbangun di tempat lain, di suatu kehidupan yang lain, di dalam suatu cerita yang lain, dimana kamu menjadi seorang pelukis, atau pianis. Mungkin bisa juga dua-duanya.

Jadi begini ceritanya. Kamu naik pesawat, pesawat yang kamu tumpangi jatuh, pada usia kamu yang masih muda—kira-kira separuh usia seseorang layak mati—dan kamu tewas seketika. Tentu saja arwahmu penasaran. Masih banyak urusan yang belum sempat terselesaikan.

Si arwah (yang tak sadar bahwa dia sudah mati) pergi membeli sebuah piano. Sesuatu yang dari dulu diinginkannya, tapi untuk membelinya dia harus menghabiskan seluruh tabungan seumur hidupnya. Dan piano itu akan tampak sangat kontras dengan rumahnya yang sempit dan kumuh. Tetangga-tetangga pun akan heran ketika kau memainkannya, dari mana asal suara semewah itu di lingkungan rakyat jelata yang biasa menikmati suara piano hanya dari cakram-cakram padat?

Penjual piano pun bertanya, “Hei, bukankah kamu yang kemarin meninggal dalam kecelakaan pesawat? Buat apa kamu membeli piano? Mengapa tidak kamu lakukan pada waktu kamu masih hidup?”

Itulah, kamu tidak berani melakukannya sewaktu kamu masih hidup. Sama seperti kamu tidak berani meninggalkan pekerjaanmu untuk melukis. Tidak cukup bakat, lukisanmu tidak akan menjadi apa-apa selain menjadi hiburan di saat kamu kesepian. Kamu juga menulis puisi, prosa, atau blog di waktu senggang, tetapi sama seperti yang lainnya, kamu tidak pernah berani serius.

“Aku tidak bisa main piano. Sebenarnya, aku baru mau mulai belajar kok,” katamu pada si penjual piano. Lalu dia pun membiarkan kamu mendapatkannya, dengan bayaran seluruh air mata yang menangisi kematianmu, yang ketika itu telah berubah menjadi alat penukar yang layak ditukarkan dengan sebuah piano, bahkan masih berlebih. “Simpan saja kembaliannya,” katamu kepada si penjual piano.

Lalu kamu mulai belajar. Dari dulu kamu ingin menulis lagu. Kamu yakin kamu bisa mengarang lirik yang baik. Dipadukan dengan keterampilan membuat melodi yang baik, barangkali kamu bisa terkenal, seperti David Foster atau Babyface yang lagunya dinyanyikan banyak orang, meskipun kemudian tidak terlalu penting lagi bagimu untuk terkenal atau menjadi kaya, asalkan lagu-lagumu dapat mempunyai makna bagi orang-orang. Kamu dapat menyuarakan percakapan hati yang tak mampu diungkapkan orang-orang.

Dan terlebih, suara hatimu sendiri. Kamu yang selalu berjuang melawan mendung menggantung di hatimu. Setiap pagi. Setiap pagi kamu ingin menangis. Bukan karena apa-apa. Kamu tidak selalu punya alasan penting untuk menangis. Malah ketika alasan penting itu beneran ada, kamu tidak merasa terlalu sedih lagi. Rasa sedihmu terlalu global. Terlalu gak penting. Lebay deh, kata orang jaman sekarang. Di saat itulah kamu bisa menjadi romantis. Seandainya tidak terkungkung oleh jadwal yang padat, kamu seharusnya melukis. Lukisan-lukisan itu akan menjadi semprotan jiwa yang abstrak. Begitu abstrak sehingga hanya bisa dibaca oleh kalangan terbatas, kalangan elit, orang-orang yang mengerti seni dan mungkin karena itulah harganya mahal.

Kemudian Tuhan masih berbaik hati memberi arwahmu banyak waktu untuk melakukan hal-hal yang tidak sempat kamu lakukan. Setelah lelah mencoret-coret di atas kanvas sepanjang hari, malamnya kamu keluar untuk bersantai di klub-klub kelas atas. Di sini Buddha Bar tidak ada yang memprotes, dan kamu punya kartu keanggotaan VIP.

Kamu bebas menjadi dirimu sendiri di sini. Di sini adalah rumahmu, tempat kamu tidak perlu berpura-pura. Kamu boleh merayu gadis-gadis, kamu boleh tidur dengan istri orang, kamu boleh menggoda pacar temanmu sendiri. Tidak ada yang akan menilai kamu. Sepanjang hidupmu kamu diharapkan untuk hidup seperti Musa, seperti Yesus, seperti Budha, atau seperti Muhamad. Tetapi tidak ada yang menyuruhmu untuk jadilah dirimu sendiri, setotal-totalnya. Seperti malam ini.

Kamu seorang peminum yang baik. Berapa gelas wine, vodka, martini, tidak akan membuatmu mabuk. Hanya membuatmu semakin original. Ketika kamu minum, kamu bisa lebih baik. Lukisanmu lebih baik, tulisanmu lebih bernas, suaramu lebih lirih. Kamu lebih liar, di atas ranjang kamu adalah seorang pencinta yang lebih garang. Malam ini, kamu ingin tidur dengan siapa?

Tidak apa-apa, karena kamu tidak harus terikat dengan satu orang. “Kamu harus jatuh cinta setiap saat,” kata Oscar Wilde kalau enggak salah. A poet should always be in love. Bagaimana mungkin kamu selalu in love dalam waktu yang panjang dengan orang yang sama? Bisa saja tetapi semua itu harus diusahakan. Mungkin itulah yang disebut dengan komitmen. Dan cinta adalah komitmen, bukan perasaan sesaat.

Namun setelah mati kamu boleh melupakan komitmen. Kamu boleh memfokuskan perhatianmu pada maha karya-maha karya yang tak sempat lahir, karena, hey, ternyata kamu masih di sini. Kamu masih hidup. Buka matamu. Kamu sedang siap-siap untuk sebuah meeting yang lain lagi. Sebuah Senin yang datang lagi walau tak pernah diinginkan. Aku telah ngelantur.

Maafkan aku Ariel, aku bisa saja membuat judul yang lebih baik dan original, tetapi aku ingin mengutipmu, seperti banyak sekali orang lain suka mengutipmu. Hari ini sangat terang, sangat cerah. Hari yang cerah untuk jiwa yang sepi…

nuage

~ oleh tomatjuice pada Maret 23, 2009.

2 Tanggapan to “hari yang cerah untuk jiwa yang sepi”

  1. Aku suka tulisan ini..

  2. makasih re…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: