My Blackberry is Killing Her Softly

Sebelum sempat aku menyadarinya, blackberry-ku, yang kupegang terus belakangan ini, telah membuat kekacauan kecil dalam hidupku. Aku mendapati partnerku ternyata posesif juga. Akhir-akhir ini dia menunjukkan sikap posesif yang belum pernah kulihat sebelumnya, sikap posesif yang harus dengan tidak berdaya disembunyikan olehnya. (Sementara mari kita sebut itu covert possessiveness)

Karena, bagaimana mungkin dia bisa menunjukkan sikap posesif itu? Sementara yang dicemburuinya tidak jelas. Bagaimana dia bisa melampiaskan kebenciannya pada benda mati yang tak berdaya itu? Hanya seonggok benda kecil yang pipih, berlayar flourescent yang menyilaukan dan penuh dengan tombol di bawahnya.

Mau gak mau, sikap posesif itu harus disembunyikan, dikubur dalam-dalam, lalu kemudian tanpa disadarinya bangkit dari kubur, menjadi hantu-hantu bergentayangan yang mewujud dalam sikap-sikap aneh akhir-akhir ini.

Yah, bagaimana dia tidak menjadi gila. Semua orang yang baru memiliki blackberry mendapat kutukan menjadi norak. Biasanya mereka tidak tahu harus ngapain dengan blackberry itu, mereka membelinya hanya karena tuntutan pergaulan. Memegang blackberry lalu bagaikan berbaring telanjang di ranjang dan siap untuk diapa-apain. Sudah tidak ada kebebasan (baca: kekuatan) lagi untuk mengelak, hanya bisa merespons dari rangsangan-rangsangan yang datang.

Setiap hari lebih dari dua ratus email dari 10 akun , yang kedatangannya selalu real time. Harus segera dibuka dan dibaca di mana pun Anda berada, karena kalau tidak, buat apa juga beli blackberry? Bos-bos dan klien sudah mencatat PIN BB Anda, jadi Anda harus menjawab begitu ada pesan.

Belum lagi Facebook. Facebook memiliki antar muka khusus di dalam BB, sehingga apa pun update yang terjadi di Facebook akan muncul, menjadi sebuah tanda silang warna merah di atas icon Facebook yang sudah sangat familiar itu, ditambah dengan dering yang mengganggu, cukuplah untuk merusak suasana pergaulan di dunia nyata yang sedang terjadi. Tapi apa daya, kaum norak urban ini merasa terhibur dengan gangguan -gangguan seperti itu. Bahkan mereka merasa keren. Apabila menunggu apa pun, dikeluarkanlah si kecil itu, sumber kebahagiaan yang tak tergantikan, mereka lalu senyum-senyum sendiri, membuat orang-orang di sekitar mereka sirik setengah mati dan bersumpah pada diri mereka sendiri untuk segera ingin memiliki BB juga.

Perkawinan BB dengan Facebook itu memang petaka. Facebook adalah sebuah affair kita dengan seluruh dunia. Sebuah perselingkuhan tingkat tinggi. Betapa bahagianya kita ketika semua teman-teman memperhatikan kita, membaca update status kita, mengetahui kita lagi ngapain, memberikan komentar, aduuuh betapa kita merasa disayangi. Apalagi kalau di-poke sama orang yang kita sukai, orang yang kita kagumi. Hmmmm, indahnya dunia ini.

Di sisi lain, kita pun mengetahui apa yang semua orang lakukan. Kita telah menerima informasi lewat chanel-chanel yang membanjir, informasi itu sendiri pun membanjir, mengepung kita dari segala arah. Setiap hari, bisakah kita mengeluh: aduh, please deh, too much information!!! Aku tahu kapan temanku bercinta dengan istrinya, statusnya di Plurk sering mesum bila hujan turun di hari Sabtu pagi. Aku tahu siapa saja yang lagi PMS, aku tahu siapa saja yang lagi Bete, aku tahu siapa yang jalan-jalan ke luar negeri, bagaimana pendapat mereka tentang gosip terbaru, dan masih banyak lagi hal-hal yang,sesungguhnya, tidak perlu aku ketahui.

Semua kegilaan ini sudah mencapai taraf di mana seorang teman menganggap Facebook lebih baik daripada sex. Dia bisa tidak ngeseks setiap hari, tetapi Facebook? Mungkinkah kita hidup tanpa Facebook, bahkan sehari saja? Tidakkah ada yang kurang ketika hari ini kita belum buka Facebook? Well, kata-kata teman itu memang berlebihan (masa Facebook lebih baik dari sex? Come on…), tapi buat yang menjadi korban kegilaan ini tentu bisa memaklumi kata-kata itu.

Demi memahami dunia di mana aku berada itulah, aku membeli Blackberry. Biar gimana pun, suka atau tidak suka, aku berada dalam masyarakat yang gila itu. Aku harus menyebur ke dalamnya, bukan hanya menjadi seorang pengintip adegan-adegan mesum di dalamnya. Masyarakat ini, masyarakat urban yang sehari-hari berjalan di mall, merasa dirinya keren dengan apapun yang disandangnya. Mereka adalah pasarku, aku harus memahami mereka.

Setan lain yang turut menyumbang adalah provider telekomunikasi yang memberikan harga terjangkau untuk terkonek terus ke dunia hitam. Dunia yang memperkosa kita setiap hari. Aku, dengan tak berdaya, terbaring telanjang, mengangkang, siap menjadi korban kenikmatannya.

Aku menyadari kegilaan ini sudah sampai pada titik yang tidak tertahankan lagi, ketika seorang klien memberikan order lewat Yahoo Messenger, dan ternyata setelah beberapa kali membalas, dia mengatakan bahwa dia sedang menyetir !!!! OMG. Bayangkan kalau semua orang Jakarta menyetir sambil YM-an, apakah tingkat kecelakaan tidak akan meningkat gila-gilaan?

Coba gimana partnerku tidak menjadi gila? Tanpa sadar, benda kecilku itu telah membunuhnya perlahan-lahan. Bagaikan lagu cinta yang mengiris-iris perasaannya. Membuat dia marah tapi tak berdaya. Membuat dia benci. Membuat dia cemburu. Membuat dia dendam.

Dendam itu mungkin hanya bisa dituntaskan dengan satu jalan: membeli blackberry juga dan bergabung dengan klub.

~ oleh tomatjuice pada Februari 26, 2009.

3 Tanggapan to “My Blackberry is Killing Her Softly”

  1. hihihi, aku mengerti perasaan partnermu. Solusinya cuma satu, mari bergabung, daripada gila sendiri!

  2. Wew!…bagus2 tulisannya ,it’s rising sun…then write on breakfree!

  3. aku ditawari kantorku BB dan aku bilang,”teman2 lain dululah yang dikasih, aku belakangan saja.” BB bagiku = working.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: