Agnostik Cinta

Pandanganku tentang cinta seperti seorang agnostik dalam memandang agama. Seorang agnostik memilih untuk menahan keputusan apakah Tuhan itu ada atau tidak. Berbeda dengan seorang atheis yang sudah yakin bahwa Tuhan itu tidak ada, sebaliknya seorang beragama sudah yakin seratus persen, Tuhan itu ada.

Dengan cinta juga demikian. Apakah cinta itu ada, apakah cinta itu tidak ada? Apakah aku percaya cinta, apakah aku tidak percaya cinta? Aku memutuskan untuk saat ini bahwa tidak mungkin mengetahui kebenaran absolut tentang cinta.

Semua orang membicarakan cinta. Novel-novel terlaris. Film-film box office. Televisi dan radio. Bahkan bersebaran di jagat blog lesbian ini. Tidakkah terkadang terasa memuakkan, bila sudah terlalu banyak? Cinta-cinta ini membuatku muak.

Apakah yang sesungguhnya mereka bicarakan? Cinta bisa nengandung seribu arti. Dia bisa berbeda dalam situasi berbeda, dikatakan oleh orang yang berbeda, dikatakan dengan maksud yang berbeda, dan bahkan seringkali pula tidak harus dibahasakan dengan kata-kata. Perasaan yang demikian abstraknya sehingga definisi dan interpretasinya bisa begitu luas, tidak berbatas.

Ada yang sedemikian mudah menyatakan cinta, ada yang tidak pernah mengucapkan cinta seumur hidupnya. Ada yang sangat mudah jatuh cinta, ada yang menjadi baik karena cinta, tetapi ada juga yang menjadi jahat, ada yang rela membunuh demi cinta. Ada yang mencuri dan menipu, atas nama cinta. Lalu sebenarnya cinta itu apa?

Cinta itu adalah berbagi, cinta itu adalah kesetiaan, cinta itu menjadi sahabat, cinta itu membiarkan kita menemukan yang terbaik pada diri kita sendiri, dan masih banyak lagi cara orang mengartikan cinta.

Cinta itu lemah lembut, cinta itu sabar, cinta tidak mengagungkan diri, cinta itu… apa lagi ya? Demikian yang tertulis dalam Kitab Suci. (ketahuan deh gak apal…)

Ada juga yang mencoba membagi cinta ke dalam cinta erotis, cinta agape, cinta mania, dll.

Dilihat dari asal katanya, cinta (love) berasal dari bahasa Inggris kuno lufu, yang berkaitan dengan bahasa Sansekerta lubh, yang berarti “untuk menghasrati” (to desire) dan bahasa Latin lubere, yang berarti “untuk menyenangkan” (to please).

Sementara kamus bahasa Inggris mendefiniskan cinta sebagai: perasaan menyukai seseorang yang sangat kuat. Perasaan penuh gairah yang kuat kepada orang lain.

Begitu banyak definisi, tetap saja menurutku semua itu adalah konsep abstrak yang harus diturunkan dan diejawantahkan ke dalam hal-hal yang lebih sederhana dan dapat dipahami oleh otak kecilku yang sarat dengan sekat-sekat yang sudah terlanjur menolaknya. Sekat-sekat itu antara lain adalah rasionalisme, akal sehat, ilmu ekonomi, ilmu matematika, fisika mungkin dan seorang guru lain yang katanya merupakan guru terbaik dalam hidup. Dia bernama pengalaman.

“Love is the flower of life, and blossoms unexpectedly and without law, and must be plucked where it is found, and enjoyed for the brief hour of its duration.”

– D. H. Lawrence

~ oleh tomatjuice pada Februari 21, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: