Cinta Laura

Seandainya cinta adalah sejenis materi, maka aku berharap cinta itu mengambil wujud benda padat. Benda padat satu-satunya wujud materi yang tidak berubah-ubah. Kalaupun mau diubah, dia harus dihancurkan terlebih dahulu, dirusak, atau dicairkan. Kenyataannya, orang-orang dari sepanjang masa lebih suka melukiskan cinta sebagai benda cair, atau juga gas (semacam energi). Kedua materi yang terakhir ini tidak mempunyai bentuk.

Desai (2006) melukiskan cinta seperti adonan. Bentuknya mengikuti bentuk wadah tempat dia dituangkan. Mengenai ini aku pun teringat tentang seorang yang kukenal. Sebut saja namanya Laura.

Laura adalah adonan itu. Ketika terpikir adonan, aku pun teringat Laura. Dia selalu berubah-ubah mengikuti pacar barunya. Di dalam delapan hubungan yang pernah dia jalani, satu-satunya hal yang konsisten mengenai dirinya adalah inkonsistensi.

Pada saat bertemu dengan pacar terakhirnya dia menyadari, selama ini dia telah mengulang-ulang cerita yang sama. Kepada setiap pacarnya. Cerita itu adalah mengenai sesuatu yang belum ditemukan olehnya.

Mungkin itulah sebabnya dia terkesan murahan. Dia mudah mengikuti, karena dia tidak tahu apa yang dia inginkan dengan pasti. Dia akan tanpa pikir panjang menyambut ajakan ke pulau kecil eksotis (dengan prospek bercinta) oleh seorang pria asing yang baru ditemuinya di sebuah tempat tujuan wisata.

Ya. Mungkin kamu ingat adegan itu. Ketika Javier Bardem menghampiri Scarlett Johansen dan temannya di sebuah cafe. Belum lama ini Laura menonton Vicky Cristina Barcelona dan dia sangat terpesona dengan film itu. Film ini gue banget, katanya. Sangat Spanish. Agak-agak sinting.

Laura selalu terpesona dengan Spanish. Luis Miguel membuatnya menangis. Dia jatuh cinta pada film-film Pedro Almodovar, terutama Talk to Her. Dia ingin mendengarkan akustik gitar Spanyol dalam pernikahannya, dan dia selalu membayangkan jalan-jalan di Barcelona dengan orang-orang aneh lainnya.

Barcelona kota yang asyik, kota yang hidup dan meriah, penuh dengan pesta di jalanan. Orang-orang sinting berkeliaran dan bebas mengekspresikan dirinya. Setidaknya itu adalah gambaran yang ada dalam benak Laura dan membuatnya memasukkan Barcelona dalam daftar teratas kota-kota yang ingin dikunjunginya.

Segalanya dapat terjadi di kota itu. Dan itulah awal cerita dalam Vicky Cristina Barcelona. Laura terkesima dengan tokoh Cristina. Dia merasa Cristina itu seperti dia, orang yang lemah dan menderita ketidakpuasan kronis.

Di sinilah dia, kembali lagi mengulang cerita yang sama. Tentang kehidupannya yang menjemukan, tentang kubikel-kubikel yang menjeratnya, tentang arah hidupnya yang tidak jelas, tentang karir yang tidak bergerak vertikal, tentang tidak adanya pertumbuhan. Ohhhh…. Laura….

Betapa kamu sudah melewati semuanya. Berbagai jenis manusia. Berbagai warna kulit, berbagai agama, berbagai cara memandang dunia, berbagai aliran politik, berbagai suku, berbagai hobi, berbagai profesi…

Kamu bahkan sudah mencoba semuanya, semua gaya yang ada di Kamasutra. Bercinta di berbagai tempat, berkejar-kejaran tanpa busana di pantai pribadi, dan mengembara ke negeri-negeri asing.

Setelah semua perjalanan itu, kamu menyadari, kamu masih berada di titik yang sama. Kamu adalah adonan yang masih mencari wadah yang paling cocok.

All of my life, where have you been… (Kravitz, 2000)

~ oleh tomatjuice pada Februari 18, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: