Pertaruhan, Serunya Seksualitas!

pertaruhan2Jika dalam resensi super serius lainnya film dokumenter berbasis antologi yang bertajuk Pertaruhan ini dideskripsikan dengan mengharu biru, dengan menyayat-nyayat, dan penuh rasa ditampar-tampar, maka tulisan ini menggambarkan hal yang berbeda. Demikian juga kalau para penonton filmnya merasakan dada penuh sesak, mata sembab bercucur air mata, maka diri melihatnya dengan satu rasa; penuh memberi inspirasi!

Sehingga satu kata pun pantas disandangkan pada film ini: SERU!. Nia Dinata sang produser sekali lagi dan semoga akan sering begitu, memberikan pencerahan yang luar biasa pada penonton dengan 4 cerita antologi yang disajikan di film ini. Dengan 4 cerita utama, lakon-lakon perempuan yang berderet, dan 5 sutradara yang menggawanginya, film ini mampu membuat penonton tersenyum kecil, nyengir, tersindir, miris, terbahak, tersedak, dan segerobak perasaan lain yang sangat berbeda diterima masing-masing penonton. Hebatnya semua cerita yang ada tidak lepas dari isu seks dan seksualitas. Nah seru kan…..Terlebih penyampaiannya pun sangat terbuka, transparan, blak-blakan, dan bagi yang tidak terbiasa melihatnya adegan kasat mata ini, maka bisa dianggap vulgar.

Yang jelas, bagi penonton lesbian, film ini bisa membuahkan acungan jempol. Bagimana tidak, 2 dari 4 cerita yang ada, secara terang-terangan dan terbuka menyajikan bagian dari kisah kehidupan teman-teman lesbian. Misalnya saja pada cerita pertama dengan judul: Mengusahakan Cinta, dikisahkan pergulatan kisah cinta dua tokoh utamanya yakni Ruwati dan Riantini, dua orang buruh migran di Hong Kong. Ruwati yang tidak pernah menikah dalam usia yang sangat matang sedang gundah karena calon suaminya di Malang, Jawa Timur mulai mempertanyakan kebenaran rencana operasi masalah reproduksinya yang harus melalui vagina. Sang calon suami meragukan alasan operasi itu sebagai sangkaan atas ”ketidakperawanan” calon istrinya tersebut. Sementara Riantini, yang suka dipanggil Rian, janda beranak satu yang di Hongkong justru melabuhkan rasa cintanya kepada perempuan lain yang juga berasal dari Indonesia. Gambaran lesbianisme yang seolah terperangkap antara dua dunia, yakni kepercayaan sang majikan Rian di Hongkong dan sekaligus penghargaan sang majikan atas hak seksualitas perempuan ini, dan juga persiapan mental Rian bila nanti pulang, dan harus ”mengubur” kehidupan cintanya terhadap sesama perempuan.

Cerita lainnya yang penuh aroma wangi lesbian adalah sepenggal kisah bertajuk: Nona Nyonya. Sebuah potret nyata tentang betapa sulitnya perempuan single, saat harus memeriksakan dirinya ke dokter kandungan. Sebuah cerita yang juga pernah diri ini bagi dan tulis di blog lain, saat memiliki pengalaman sama. Alih-alih mau memeriksaan diri di bagian urusan reproduksi, namun yang terjadi mulai dari pertanyaan sederhana, wawancara, bahkan sindiran soal ketiadaan suami dan ”ketidakperawanan lagi”. Rata-rata perempuan yang statusnya lajang (tidak terikat pernikahan) dan termasuk di dalamnya teman-teman lesbian akan merasakan perlakuan diskriminatif saat berurusan dengan pap smear . Nah di balik yang tidak mengenakan ini ada sebingkai kisah pengalaman pasangan lesbian Ade dan Bonnie yang justru mendapatkan pelayanan yang sangat ramah dan bersahabat dari dokter genekolog perempuan yang paham benar akan arti kesehatan dan meminggirkan isu diskriminasi.

2 cerita lainnya dalam antologi film dokumenter ini juga sangatlah membuka mata, teman lain menterjemahkannya: membuka nurani. Seperti kisah tentang praktek khitan pada anak-anak perempuan, dan juga kisah nyata tentang PSK perempuan di salah satu sudut kota kecil di Jawa Timur, yang harus berjuang tiap malam rata-rata melayani 4 orang laki-laki dengan tarif, 1 klien Rp. 10.000,- , ya SEPULUH RIBU RUPIAH dalam satu kali hubungan seks!

Ratri M.

~ oleh tomatjuice pada Desember 18, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: