Kecantikan Yang Tersiksa

Barangkali ini yang seringkali dijadikan indikator perempuan secara umum dipandang  ”aneh”, ”ajaib”, ”amazing”, ”hebat”, dan segudang istilah lainnya. Bayangkan saja sanggup lho mereka pake high heels ke mall. Jalan-jalan, muter-muter, berjam-jam menikmati berbagai corner plaza dan mall yang berserak di Jakarta. Diri ini yang sesama perempuan, dan tahu benar merasakan siksaan nyerinya menggunakan sepatu berhak tinggi, ikut terkagum-kagum dengan kehebatan para perempuan tersebut.

Memang benar, ketika perempuan menggunakan high heels, maka yang tampak oleh mata memandang adalah keanggunan, keindahan kaki jenjang, dan pesona yang mendebarkan. Terlebih bila sepatu tersebut serasi benar dengan baju yang dikenakannya. Tapi yaitu tadi, apa nggak sakit ya? Apa ya nggak capek ya? Berjalan-jalan keliling pertokoan dengan  7,5 cm, 10, cm, 12 cm ataupun lebih tinggi cm lainnya.

Kalau saja ada yang mau iseng membuat sebuah polling, alasan, dan perasaan para perempuan yang ber-high heels di mall ini, pasti lah seru jawabannya. Sebuah polling yang tidak bermaksud mencampuri urusan pribadi kaum perempuan, namun untuk menemukan rahasia kekuatan dan kehebatan kaum perempuan dalam urusan sepatu ber-hak tinggi tersebut.

Yah, memang beginilah mata dan komentar yang akan terlontar bila diri ini duduk-duduk di cafe maupun resto yang ada di mall maupun plaza-plaza itu. Kerjaannya jadi terpesona dengan lalu lalangnya perempuan-perempuan cantik ber-high heels, serta tak tahan untuk tidak berkomentar, paling tidak di blog ini hehehe. Sebuah penampilan cantik yang disuguhkan, dan kemungkinan besar dengan di dampingi perasaan ”tersiksa”, paling tidak kurang nyaman lah kalau dipakai berlama-lama.

Barangkali ini pun bisa dijadikan anekdot kaum perempuan, bahwa sepatu ber-hak tinggi itu sebetulnya adalah jalan menuju ”kebahagiaan”. Bayangkan saja, berjam-jam mengenakan sepatu hak tinggi itu, rasa nyeri, perih, menyakitkan dirasakan dalam hati.  Plus barangkali menyatu dengan kelu, uang belanja yang makin berat dirasa, gaji tidak naik-naik, punya pacar atau pasangan yang suka selingkuh, dan di tambah boss super galak di kantor. Kemudian ketika sampai di rumah, segala kelelahan itupun dilepaskan. Bersamaan dengan dilepasnya sepatu hak tinggi itu, rasa lega, nyaman, dan bahagia pun bisa didapatkan. Mppuhhh….legaaaaa….barangkali itu yang benar-benar dirasakan.

Tapi teman lain malah berkomentar yang bisa jadi…bisa jadi lho…masuk akal, yakni, para pengguna sepatu yang menyakitkan (dalam kategori berlama-lama, dan keluar masuk mall) itu termasuk dalam kategori pengidap masochist, menikmati ketika mendapat siksaan. Walah, ini mah kategori baru, karena yang umum masochist pasangan si sado (yang suka menyakiti) tersebut biasanya berkaitan dengan urusan ranjang, alias ketika berhubungan seksual. Sado masochist tidak digunakan untuk pola bercinta, tapi dikaitkan dengan penggunaan sepatu high heels? Ada-ada saja memang. Memang ini kadang-kadang, ada ada saja…..;)

 

Ratri M.

~ oleh tomatjuice pada Oktober 24, 2008.

8 Tanggapan to “Kecantikan Yang Tersiksa”

  1. Hehehe, aku pilih menikmati sandal jepit kesayanganku aja deh. Biar ga keliatan masochist hehehe

  2. Kaki yang panjang, leher yang jenjang, mata berbinar, memang indah dipandang dan dirasa..begitu pula kulit putih bersih, rambut panjang lurus payudara padat berisi..demikian pun kaki yang ga panjang, leher yang ga jenjang, mata yang ga berbinar, kulit yang item dan rambut ikal, dan dada yang nyaris rata..tetap cantik dan seksi..ketika rasa, hasrat, cinta, kasih sayang saling bertautan..

  3. hihihi…gw juga ga pernah mengerti kenapa perempuan2 itu rela menyakiti diri sendiri hanya utk terlihat cantik…padahal ga perlu seperti itu juga mereka terlihat cantik….gw ga pernah betah kalau disuruh pake high heels…gw paling anti dengan sepatu macam itu…
    toh yg namanya cantik ga diliat dr kakinya kan?

  4. Hehehe Jo, masochist emang ga perlu di tunjukin ya… apalagi yang urusan “itu” kan….kekekeke;)

  5. Ruben, coba deh sekali-kali pake high heels, plus baju seksi, and menari-nari, di hadapan kekasih hati….(tentu saja di malam-malam yang sepi, berduaan….;)). So ntar bagi-bagi ya ceritanya habis aksi high heels tersebut;)

    Warm wishes

    Ratri

  6. wah wah wah Mik….itu deskripsi kekasih baru ya???;) kenalin dunkkkk hehehehehe, tapi janji dikenalin saja, ga mau kalo pake acara di”musuhin” kekekeke

  7. hihihi….kayanya gw ga pantes kalau pake high heels…but i’ll try…ga ada ruginya kan kalau bisa improve sex life gw dan partner…hehehehe….

  8. hehehhe…bukan tuh, yang item, berambut tidak lurus dan tipis itu ku temui di pinggir jalan margonda..dia mau nyebrang ngebakso malang..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: