Di Balik Cadar

Alkisah, sesuatu yang dibalik cadar pastilah lebih menimbulkan imaji. Terlebih bila cadar dan baju panjang yang dikenakan berwarna gelap, hitam pekat. Termasuk juga menimbulkan pertanyaan, siapa yang berada di balik cadar itu, apakah benar-benar perempuan? Ataukah lelaki yg bersolek seolah perempuan? (Imaji ini paling sering menghinggapi otak ini, terlebih setelah nonton film Afganistan yang bertajuk Khandahar, di mana para lelaki menyamar menjadi perempuan dibalik purdah dan cadarnya, agar bisa lolos melewati perbatasan). hehehehe, sebuah pertanyaan yang barangkali juga akan sama dipertanyakan oleh teman-teman.

 

Anyway, tapi kali ini diri ini tidak bernafsu untuk mendiskusikan soal cadar tadi, tapi perumpaman para perempuan lesbian yang tidak coming out juga tak jauh-jauh dari gambaran perempuan bercadar ini. Tak menampakkan dirinya, tapi ada lho..eksis. Ada di mana-mana, menjadi apa sia, siapa saja, menjadi sosok lajang forever, atau juga menjadi single parents, bahkan ada juga yang menjadi istri dari laki-laki dan memiliki anak-anak yang lucu-lucu dan manis-manis. So apapun bentuknya mereka bisa saja  lesbian. So? Why not? Ya mengapa tidak, hidup ini penuh keberagaman, dan kita harus menghormati dan menghargai berbagai keberagaman itu.

 

Hanya saja, beberapa saat lalu, diri ini sempet “nyesek” alias kesal dengan pertanyaan sekaligus pernyataan seorang teman, “lesbian bercadar” alias yang tidak coming out itu atas perjuangan teman-teman yang coming out. Bayangkan, tuh teman mempertanyakan dan menyerang dengan pertanyaan atas teman-teman yang selama ini berjuang atas nama isu lesbian. “Apa sih yang mau diperjuangkan mereka?” “Buat apa sibuk dengan gerakan lesbian? Apa gak cukup ribet dengan hidupnya sendiri?”. Gubrakkkkssssss, rasanya mo pengsan, hari gini masih ada lesbian memprotes sikap hidup lesbian lain yang menyerukan perjuangannya. Walah, jelas tidak mungkin menyodorkan tumpukan buku sejarah pada si pembuat pernyataan tentang betapa harus bersyukurnya kita hidup di dunia saat ini karena sudah adanya pelopor gerakan lesbian di negara lain. Yah maklum juga, barangkali memang sulit membayangkan bahwa duluuuuuuu…. hidup menjadi perempuan, terlebih lesbian yang berpenampilan ”butchie” di negara barat, termasuk Amerika pun menjadi sebuah persoalan. Di sini, di Indonesia, hampir kita tidak mengalami (meski tetap ada satu dua kasus) diskriminasi tersebut, maklum nilai-nilai toleransi atas penampilan perempuan dengan gaya maskulin sudah tertransfer dengan lumayan mulus dari peradaban barat.

 

Diri pribadi juga kategori lesbian yang tidak dengan gagah berani coming out (prosentase manusia yang mengenal diri ini sebagai lesbian lebih sedikit dibandingkan yang tidak tahu), namun toleransi dan penghargaan tetaplah disampaikan pada setiap sahabat lesbian yang mau ber-coming out ria, berjuang dengan terbuka, setengah terbuka, setengah tertutup, tertutup, bahkan yang kategori bercadar tadi.  Aduh, so what getu loh kalo orang mau berjuang dengan caranya?  J

 

Ratri M.

~ oleh tomatjuice pada Oktober 9, 2008.

6 Tanggapan to “Di Balik Cadar”

  1. CO atau tidak, berjuang atau tidak sebagai sesama lesbian emang kudu wajib saling menghargai.

    add blogku yah :http://www.terimakasih-cinta.blogspot.com/

  2. Bener bangettttt Anggra….
    Tuh dah di add lho blogmu;), and jangan lupa add juga ya blog ini di blog kamu.

    Warm wishes

    Ratri

  3. Bercadar dalam perjuangan tetaplah indah..apalagi emang ada temen temen yang takut kena terik matahari (katanya sih takut jadi item, padahal item juga seksi lho..setidaknya buat gue), atau ga tahan ngisep udara kotor jagat raya yang emang udah kelewat ambang (meski udah ada usaha basa basi bang Ozi dengan program ‘hari tanpa kendaraan bermotor’ secara bergilir)…tetaplah bercadar untuk tetap cantik, indah dan bergaya..

  4. 😉 yakin Mik suka ama yg bercadar???;)

  5. wah….wah..!!yang pastinya orang ini adalah peryataan yang tidak disimpulkan secara mutlak, okey mungkin itu 1 org dari sekian banyak orang yang bercadar!!yang ana tau orang yang memakai cadar itu menjaga kehormatan dirinya dan ALLAH akan menjaga kehormatannya pula insya ALLAH

  6. SEBAIKNYA ANTUM, ANTUMAH BERPIKIR POSITIF SAJA KARENA ITU LEBIH BAIK. YANG TERJADI DI FILM TERSEBUT ITU HANYALAH INDIVIDU YANG MEMBUAT KITA RAGU, INGATLAH KERAGU-RAGUAN DATANGNYA DARI SETAN. ANA TETAP YAKIN DAN PERCAYA BAHWA CADAR ADALAH SALAH SATU BUKTI KETAATAN MUSLIMAH DENGAN ALLAH SWT.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: