Panjang – Pendek Sama Baiknya

Apakah yang panjang lebih baik dari pada yang pendek? Apakah yang lama lebih positif ketimbang yang sebentar? Bagi ku tentu tidak. Belum lagi kita berargumen, kerelatifan ‘panjang-pendek’ dan kerelatifan ‘lama-sebentar’. Sebagaimana potongan rambut, rok atau celana, pendek atau panjang, sama indahnya, sama baiknya,  sepanjang yang pakai, sipemilik tubuh, diri kita sendiri merasa nyaman..dan semestinya kita nyaman dengan apa yang kita pilih dan nyaman dengan tubuh kita.

 

Demikian pula dengan relasi asmara kita. Ga pernah ada argumen atau dalil yang bisa (apalagi berhak) mengklaim bahwa relasi yang panjang (lama) lebih baik, lebih positif, lebih berharga ketimbang relasi yang pendek. Relasi panjang – pendek ga bisa dinegasikan. Ke dua nya baik dan positif, tergantung niat, dan praktiknya (isinya). Ku kira jika kita bersedia, merelakan diri menjalin komitmen berpacaran, berpasangan, membingkai relasi cinta kasih kita dengan seseorang dengan atribut seperti itu, baiknya ya diniatin untuk lebih saling membahagiakan, saling berbagi dalam duka dan suka.

 

Maka kemudian kita saling belajar, saling respek, berjalan seiring (bukan menyatukan dua hati & pikiran, tetap) dengan segala perbedaan untuk kebaikan dan kebahagiaan berdua, syukur syukur kalau masih sempet memberi kebaikan kepada orang orang lain (bukan niatnya morotin, manfaatin, pengisi sepi, pijakan kaki untuk menggapai mimpi). Memang ga mudah, toh berelasi memang prisipnya adalah proses belajar hidup, sebagaimana hidup kita yang lain.

 

 Tapi begitulah menurutku hakekat mencinta. Jika relasi yang membahagiakan dan baik itu hanya sesaat dengan si A, ya udah, ga udah maksain. Bila relasi asmara sebagai pasangan yang telah dijalanin dengan si B yang udah 10 tahun, misalnya, ternyata kemudian menjadi g sehat, ga membahagiakan keduanya, ya udah, akhiri saja. Berpisah dari orang yang kita cintai memang menyedihkan, tetapi si dia bukan milik kita. Dia adalah milik dirinya sendiri. Ga ada yang salah dengan relasi asmara yang pendek, singkat, jika rasa dan komitmen salah satu (atau ke dua nya) telah berubah. Jangan merasa sedih, down, apalagi merasa gagal.  Engga ada yang salah juga, dan ga perlu disesali, karena inipun bukan satu hal yang buruk, negatif, dan akhir dari perjalanan cinta kita ketika hubungan asmara yang sudah lama kemudian berakhir.

 

Sejatinya, engga ada alasan untuk bilang, relasi asmara yang lama, lebih baik, lebih berharga ketimbang relasi asmara yang singkat, pendek. Juga tidak ada alasan untuk bilang bahwa seseorang yang suka, sering berada dalam relasi asmara yang pendek atau singkat, maka dia adalah manusia yang ga dewasa, engga serius menjalin relasi. Demikian sebaliknya. Bahkan ketika seorang memilih tidak membingkai rasa cinta kasihnya dengan seseorang, -entah lewat kosep pacaran, pasangan, apalagi pernikahan-, seringkali karena ia adalah manusia dewasa. Yang telah mampu memerdekakan cintanya dari rasa memiliki.

Memperjuangkan cinta memang kudhu. Tapi tetap cerdas mampu ngebedain perjuangan cinta kita dengan “ternyata kita terobsesi kepadanya/kepada hubungan yang panjang apalagi langgeng,  sadar atau tidak kita memperlakukan orang tercinta sebagai property, atau karena kita meras harga diri kita dilecehkan karena si dia meninggalkan kita”. Menurutku sih, kesemua fakta tadi nunjukin bahwa sesungguhnya kita engga cinta sama si dia. Itu hanya klaim untuk melegilimate cinta kita pada diri sendiri, egosentrisme kita aja. Lebih parah dan moga moga kita ga pernah lakuin karena memalukan adalah implikasinya, yaitu kita bisa menjadi pengintai, penguntit mantan kita. Bahkan kita menjadi ‘teroris’ baginya, menyerang integritas tubuhnya,  seorang yang konon kita cintai sampai mati. Kejahatan ini sudah terjadi pada beberapa teman kita.

Maka, selamat bercinta dan mencinta, ga masalah apakah esok, lusa, bulan depan atau kapan pun  rasa cinta ini akan berakhir/diakhiri, karena akan ada cinta cinta….cinta lain yang bisa jadi lebih berwana…tetap mencinta dengan ketulusan dan belajar memerdekakan rasa, selamat untuk semua yang telah mampu memerdekakan rasa cinta dari rasa kepemilikan.

Mamik

 

~ oleh tomatjuice pada Juli 2, 2008.

2 Tanggapan to “Panjang – Pendek Sama Baiknya”

  1. hehehehhe, aku memilih ya panjanggggg ahhhhhhh…..;)

  2. tapi yang ini ga ada urusan dengan mbak erot dan semua orang yang mengkalim sebagai turunannya kan????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: