Cintaku, Sakitku

 

 

Pas remaja dulu selalu dinasehatin; “Jangan terlalu mencintai sesuatu, nanti malah membuatmu sakit”. Selalu begitu, bertalu-talu (bak rebana Betawi yang dimainkan di perhelatan). Tapi selalu ungkapan itu dianggap remeh, didengar sebelah telinga. Namun nyatanya gemanya sekarang terngiang-ngiang (ala sirine pak polisi…halah…), dan begitulah adanya, selalu saja aku bisa sakit karena cintaku.

 

Saking cintanya dengan belanja dvd, maka suka jadi tidak jelas, beli segala film yang belum tentu bisa ditonton. Ngubek-ngubek mall dan pertokoan yang menjajakan dvd, menggeret seorang teman ke Glodok atau Mangga Dua untuk bantu nyari film lesbian, dan tergiur dengan segala film aneh yang ditawarkan. Menghabiskan uang saja, bikin kantong bokek. Padahal berapa puluh keping film yang masih teronggok tidak ditonton. Aneh dan sakit rasanya:D

 

Terlalu hebat bercinta, bersemangat, nafsu tak berkesudahan, tidak diatur, malah membuat asmaku kambuh. Kalau sudah begini pasangan akan bilang dengan sabarnya, ”Please jeng, sabar jeng, kalem jeng” hehehe. Lalu saking demennya makan yang manis-manis, penuh gulali, permen, coklat dan segala keluarga kembang gula lainnya, membuat gigiku yang super duper jelek jadi nyut-nyut-an. Aduh sakit….

 

Benar-benar perasaan cinta berlebih bikin ”sakit” tak berkesudahan. Seorang pemilik sebuah majalah, demikian cintanya dengan majalah yang diterbitkannya, dia memanggilnya dengan sebutan my baby. Disayang-sayang bak bayi yang benar-benar keluar dari rahimnya. Demikian sayangnya, dia sampai-sampai mau mengorbankan banyak hal untuk her baby. Tentu saja dengan ”ideologi, visi, dan misi”-nya selaku pemilik that baby.

 

Alhasil, apa saja yang disarankan staf pengelolanya, ide-ide baru, hadirnya kompetitor majalah sejenis lainnya, dianggapnya sebagai sebuah ancaman besar. Dia jadi sakit hati dengan hal-hal baru di sekitarnya. Dia ketakutan anak buahnya dibajak oleh sang pendatang baru. Dia panik majalahnya makin berkurang dibeli. Dia risau, tidak hanya tirasnya yang menurun, tapi pembacanya juga hijrah ke majalah sebelah. Dia tidak menyadari bahwa dunia bergerak, selalu ada trendsetter, kompetitor, selalu ada follower, dan semua bisa berjalan seiring.

 

Kembali soal perasaan cintaku yang membuatku sakit, selain pagi ini gigiku yang kambuh cenut-cenut, hatiku juga merintih mendayu-dayu, maklum terlalu lama ditinggal kekasih hati yang sedang pergi ke negeri Panda. Hiks, segera balik donk yayang…..

 

 

By Ratri M.

 

~ oleh tomatjuice pada Juni 27, 2008.

3 Tanggapan to “Cintaku, Sakitku”

  1. aku jd penasaran, siapa sih kekasih hatimu yang membuat kakakku jd sakit gigi cenut-cenut pula…!!!! huehehehee..

  2. hi hohoho Gita:D, makanya kalo ke Jakarta kabar-kabari, ntar kan bisa ketemuan;)

    Warm wishes

  3. dirimu pasti kusms klo diriku terbang ke jkt yg itam😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: