Cinta Dalam Segenggam Berlian

Seorang teman mengeluhkan betapa sulitnya nyari pacar, apalagi pasangan. Alkisah ketika ditelusuri, ternyata selama ini ia mencari pacar maupun pasangan dengan iming-iming kartu ATM, STNK mobil, dan juga slip gajinya. Oho, hebatnya lagi mobil ortu, lembar cek rutin tambahan dari sang nenek, plus segala barang bermerek yang dipakainya juga jadi pendukung untuk menggaet para perempuan lain.

Alhasil, bisa ditebaklah, cintanya pun datang dan pergi. Seiring dengan datang dan perginya uang saku dan penghasilan yang dia dapatkan. Kalau sudah begitu apalagi yang diharapkan. Cinta hanya sebatas besarnya karat berlian yang sanggup ia belikan untuk sang kekasih. Nenek bilang (entah nenek siapa waktu itu), bahwa cinta yang bisa kita dapatkan adalah berakar dari bagaimana kita menghadirkan cinta itu sendiri.

Kalau memanggil-manggil sang cinta dengan perasaan tulus, penuh kasih, tanpa embel-embel segala harta tadi, biasanya yang datang juga akan sama. Tapi kalau belum apa-apa hanya saling mengukur barang apa yang dipunya, yah, tak jauh-jauh juga deh hasil cintanya. Saling mengukur untung dan rugi dalam bercinta. Mending kalau ukurannya timbangan rasio dan logika yang oke, ini pake timbangan emosi dan nafsu badani yang menggelora, ya sudah deh. Alamat hanya mendapat cinta sesaat.

Tapi kalau yang dicari cinta sesaat, ya lain lagi kan ukurannya. Apa saja bisa jadi cara. ”Memang ada cinta di antara 2 perempuan yang long long everlasting?” celetukan ini seringkali terdengar. Mengapa tidak?! Yang namanya cinta, baik di kalangan hetero ataupun lesbian, pastilah bervariasi. Jadi kisah cinta sejati yang puluhan tahun, bahkan sampai ajal memisahkan, juga ada dalam kehidupan lesbian.

Sahabat terbaik kaum perempuan, selain perempuan lain, gay cowok, juga berlian. Mau tidak mau berlian memang tidak bisa dipisahkan dari kita. Omong kosong juga kalau ada perempuan tidak merasa terharu, bahagia, dan sangat penuh hasrat memandang kotak perhiasan dari kekasih hati yang berisi cincin dengan sematan berlian. Semakin besar butir berlian yang menempel di cincin itu, semakin lebar mata takjub memandang, dan makin penuh rasa bahagia yang memenuhi rongga dada.

Tidak mengiming-imingi calon pasangan dengan berlian, bukan berarti kita tidak perlu mengejar berlian. Prinsip terbaik dalam bekerja justru: ”Demi sesuap nasi dan segenggam berlian”.

By Ratri M.

~ oleh tomatjuice pada Juni 26, 2008.

4 Tanggapan to “Cinta Dalam Segenggam Berlian”

  1. Hai Ratri…Selamat ya atas blog-nya. Aku kirim pertanyaan soal andro, butch, dan femme. Bisa dijawab japri kok. Tapi harus dijawab!! Terima kasih…

  2. Makasih banyak ya Nduk…..:) please kapan2 nulis dunk di sini….sekalian ntar aku gantian sumbang foto di blog kamu;). Sesuai janjimu padaku kan:D

    Warm wishes

  3. selamat ya mbak ratri atas blog nya… Boleh kirim artikel tp tidak ttg dunia ‘kita’?hehehe…
    Salam damai utk kita semua…..

  4. Dear Rua, thank’s alot dah berkunjung ke sini, ide dasar blog ini sih tentang isu lajang, lesbian, dan segala pernak-perniknya;) so ga jauh-jauh dari dunia ‘kita’ tentunya hehehehe. So aku sangat menunggu tulisanmu yang itu;). Kalau artikel lain-lain yang tidak jauh dari isu-isu lesbian, homoseksual, transgender, transeksual, biseksual, queer juga pasti di terima sihhhhh;)

    Salam hangat salalu tuk mu Rua;)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: