Desahan Petenis Putri

Di kalangan atlet, sejak dulu paling mudah mengasosiasikan petenis perempuan yang tangguh dan perkasa sebagai lesbian. Apa sebab? Sebab nama-nama seperti Billy Jean King dan Martina Navratilova, sebagai petenis legendaris dunia, kok ya kebetulan keduanya lesbian. Kalau awalnya Billy Jean King sempat menikah, tidak pernah mengakui dirinya sebagai pecinta sesama perempuan,  kemudian terlibat affair dengan manajernya (perempuan), yang kemudian si manajer ini menuntutnya di pengadilan dan membuat King bangkrut total, maka tidak demikian halnya dengan Martina. Martina sejak menjadi warga negara Amerika  di tahun 1981-an(sebelumnya warga negara Chekozlovakia), langsung come out soal  soal orientasi seksualnya. Tapi hampir serupa dengan King, Navratilova juga harus menghadapi pengadilan ketika bersengketa  seru soal harta gono gini dengan mantan  partnernya,  Judy Nelson yang sudah 8 tahun hidup bersamanya. Hiks…kok sama apesnya ya?

Padahal secara prestasi keduanya belum bisa ada yang mengalahkan…. bayangkan saja seorang Billi Jean King, kelahiran tahun 22 November  1943,  tercatat memenangkan  12 Grand Slam untuk tunggal putri, 16 Grand Slam ganda putri, dam 11 grand slam untuk ganda campuran. Hebatnya lagi dia pernah mengalahkan pemenang tunggal putra Wimbeldon,  Bobby Riggs, sebuah rekor yang belum terpecahkan oleh pemain tenis putri lainnya sampai saat ini (lihat tanggal upload tulisan iniJ).

Sementara Martina? Wow lebih spektakuler lagi:  memenangkan 8 Grand Slam tunggal putri, 31 Grand Slam ganda campuran (masih sebagai pemegang rekor sampai saat ini), dan 10 Grand Slam ganda campuran. Jadi terbayang kan betapa hebat prestasi perempuan kelahiran 18 Oktober 1956 ini.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                     Picture: Martina Navratilova

Aduh, kok dari tadi membicarakan prestasi sih? Mana cerita desahan petenis putri?? Nah inilah kisahnya: Jadi  beberapa waktu lalu pihak persatuan tenis dunia berencana untuk mengatur soal suara desahan atau lebih tepatnya suara erangan para petenis. Gara-garanya? Suara yang ditimbulkan oleh para petenis, khususnya petenis putri sangat menganggu konsentrasi pemain lainnya. Lebih hebatnya lagi suara erangan itu sangat dahsyat, bahka tercatat nama Maria Sharapova, sebagai pemilik erangan super dahsyat setinggi 101 decibel hampir mendekati suara auaman singa yakni  110 decibel. Lalu Monica Seles  menduduki urutan berikutnya dengan erangan dan raungan setinggi 93,2 decibel. Urutan berikutnya Lindsay Davenport  (88), Venus Williams (85), Victoria Azarenka (83,5), Elena Bovina (81), Anna Kournikova (78,5), Kim Clijsters (75) dan Elena Dementieva (73). Ini urutan ketinggian decibel erangan, bukan urutan prestasi, dan jelas bukan urutan beha maupun sepatu.

Lalu apa hubungan antara lesbianisme dengan erangan atau desahan? Jelas tidak ada lah. Hanya saja sebagai gambaran, para petenis perempuan ini jauh lebih sering disorot dan dibahas oleh media massa dibandingkan para petenis pria.  Dari soal penampilan mereka sampai urusan orientasi seksual mereka.  Sampai-sampai dulu pernah ada pembahasan secara khusus, bahwa desahan dan erangan yang dihasilkan dari mulut Monica Seles saat bermain tenis di lapangan, diperkirakan memiliki pola dan kemungkinan sama ketika Monica sedang bercinta. Hah?? Jelas kurang masuk akal kan, atau bisa jadi betul? Yang jelas tidak pernah ada saksi mata atau saksi pendengaran atas asumsi tersebut. Tapi mungkin juga kamar Monica seles diberi kedap suara? Uhmmmm ini teori yang agak terlalu memaksa.

Tapi memang soal desahan, erangan di ranjang bagi sebagian besar orang tidak bisa ditahan maupun diatur-atur. Malah kalau dipaksa diam saat bercinta, tidak berisik, bisa-bisa bukan orgasme yang didapatkan, melainkan rasa lelah menahan diri dari suara mengerang dan mendesah tadi.

Sebagai penutup tulisan ini maka ada baiknya kita mengenang juga prestasi Billy Jean King dan Martina Navratilova, yang keduanya sampai saat ini menjadi aktifis di lembaga-lembaga yang memperjuangan isu LGBT. Meski tentu saja di lembaga yang berbeda, karena seperti yang ungkapkan kedua belah pihak pada media, kedua petenis ini tidak dekat satu sama lain. Catatan akhir dari yang paling akhir: tahun 2009 lalu King mendapatkan penghargaan Presidential Medal of Freedom dari presiden Amerika Obama atas aktifitasnya sebagai penggiat isu kemanusiaan khususnya isu LGBT.

Picture: Billy Jean King

Kali ini tulisan diri ini terlalu serius ya?? Kurang Juicy ya? :D

Ratri M.

~ oleh tomatjuice pada Oktober 14, 2010.

Satu Tanggapan to “Desahan Petenis Putri”

  1. LOL. This is too funny. :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: