The Wedding Singer
Ia menikah bukan karena tidak mampu melihat pilihan lain di luar pakem. Ia menikah bukan karena tuntutan agama. Bukan karena harta apalagi cinta. Bukan juga karena tekanan arus mainstream yang terlalu kuat. Ia menikah karena terpesona oleh pernikahan.
Bagaimana tidak, hampir setiap minggu ada pernikahan. Bahkan dalam satu akhir pekan dia menyanyi untuk beberapa pernikahan. Dia adalah seorang penyanyi koor yang sering dipesan untuk pernikahan di gereja. Dia the wedding singer.
Meskipun sudah ratusan pernikahan dia hadiri, tetap saja moment ajaib itu tak pernah gagal menangkap seluruh perhatiannya. Moment ajaib tatkala pengantin saling mengucapkan janji pernikahan dan menjanjikan kesediaan mereka untuk saling menjaga sampai mati. Moment yang selalu diakhiri dengan kecupan pada bibir itu hingga saat ini masih membuatnya terharu.
Dia selalu menangis memandang wajah kedua pengantin yang merona bahagia. Moment ajaib itu mungkin tidak akan terulang lagi dalam hidup mereka. Moment ajaib itu bukanlah akhir dari sebuah kisah cinta, tetapi justru adalah awal. Dia tidak pernah melihat wajah yang lebih bahagia daripada wajah-wajah pengantin yang dilihatnya dalam pernikahan-pernikahan itu. Terkadang bukan hanya pengantin wanita yang menangis, bahkan pengantin pria tak mampu menahan air mata bahagia. Tidakkah kamu tergerak oleh moment itu?
Maka semakin sering dia melakukannya, dia tidak ingin lagi hanya menjadi penonton adegan yang selalu membuatnya jatuh cinta itu. Dia ingin berada di dalamnya. Dia ingin menjadi pelakon utama. Karena itulah dia menikah.
(Foto dari www.sel.cam.ac.uk)


Tinggalkan Balasan