Tukang Flirting

•Desember 29, 2009 • & Komentar

Alkisah sebuah negeri dongen yang indah rupawan….dengan istana dan para permaisuri dan para putri raja yang hidup penuh kenyamanan.  Nah di situlah hidup princess Fiona yang hidup dengan segala kemewahan berjuta.  Tapi entah kenapa hatinya tak jua tenang, rasanya ada yang kurang….kurang asin lah, kurang asem lah, kurang manis lah….pokoknya berasa kurang.  Padahal di sampingnya sang pendamping hidup juga merupakan pilihannya, seorang putri cantik negeri seberang yang bermata biru, Putri Rebecca. Tapi entah kenapa ya hatinya kok masih saja gelisah. Hingga datanglah kunjungan tamu putri cantik lainnya dari negeri lainnya, Putri Federica. Tiba-tiba saja ada blink-blink mengalir sendu di hati Fiona. Kunjungan pertama keduanya diawali dengan bertukar senyuman, lalu diakhiri dengan sebuah kedipan dari Fiona.

Itulah sepenggal kisah Putri Fiona si tukang flirting. Lalu bagaimana akhirnya? Ya tentu sulit di duga, tapi paling tidak ujung-ujungnya cuma main  kedip-kedipan mata, pegangan tangan, and cipika cipiku. Namun karakter Fiona ini tak jauh dari karakter Bette dalam film L Word yang dikategorikan oleh pasangannya sebagai flirtatious person alias tukang flirting. Nah karakter ini ada dan nyata, serta banyak ditemui di dunia sehari-hari. Penggoda berat, tukang kedip and blink-blink, namun tidak membahayakan jika diketahui bagaimana cara menghandlenya.

Nah ketika kata kunci flirtatious person ini diketikkan di miss google, maka berderet pula penjelasan dan versinya. Namun paling tidak pernyataan yang lumayan adem adalah gambaran bahwa tukang flirting ini ya sekedar tukang flirting, dia menikmati dan tidak pernah bermaksud melukai siapapun (uhmmm sebuah pembenaran), dan biasanya bisa dibedakan dengan tukang selingkuh serius, yakni tukang flirting selalu terbuka akan hubungan seriusnya yang sudah ada. Dia tidak akan mendramatisir bahwa hidupnya merana dengan pasangan tercinta, tidak pernah, justru dia akan menunjukkan hidupnya bahagia dan tidak ingin berpisah dengan kekasih atau pasangan hidupnya. Tapi sekaligus dia akan memberikan sinyal pada “pendatang baru” bahwa dirinya tidak menolak untuk dikagumi, disanjung, dan dicintai dalam bentuk lainnya. Jadi tidak ada janji untuk masa depan dengan yang dikedipin…tapi sekadar bertukar rasa bahagia dalam saling memberikan pujian dan perhatian.

Karena manusia mana sih yang tidak suka diberi perhatian? Jadi begitulah cara kerja flirtatious person, bersifat menghibur dan harmless, tidak melukai. Yah namanya juga flirting kan artinya kedip-kedipin mata…blink-blink, main mata deh. Kan kalo lagi flirting jelas-jelas tidak bakal mengeluarkan golok or badik, iya kan……uhhhhh indah dan nikmatnya jadi tukang flirting……

3M

•Desember 17, 2009 • & Komentar

Sue sedang suka dengan seorang perempuan, bukan suka dalam artian cinta ya, tapi suka karena perempuan ini indah.

Sue sedang tidak narsis, jadi jangan berburuk sangka dulu.  Perempuan ini ia temui saat sedang mencari narasumber, ya perempuan ini seorang narasumber Sue.  Kerjaan Sue sebagai penulis, membuatnya kerap bertemu perempuan-perempuan yang asyik.. ada yang asyik buat diliatin, ada yang asyik buat dibayang-bayangin, ada juga yang asyik buat dicuekin.  Termasuk, asyik buat digeli-geliin.. maksudnya Sue suka geli sendiri, kalau melihat perempuan yang kayak anjing pudel.  Tahu anjing pudel kan? Itu lho yang kalau jalan suka bergoyang-goyang dan sukanya manja-manja.  Perempuan yang kayak gini bikin Sue geli.   

Pertama bertemu perempuan ini, Sue sudah merasakan daya tarik kuat dari diri perempuan tersebut.  Kedua bertemu dengannya, Sue merasakan medan magnet yang kuat menyergap dirinya tuk bikin janji pertemuan ketiga.  Bukan Sue, kalo gak bisa cari-cari alasan untuk bertemu. Sue bilang kaset wawancaranya kecuci, jadi gak bisa dipakai lagi. Dan anehnya perempuan tersebut gak marah, malah mau diwawancara lagi.  Mungkin ia juga suka didatangi Sue, padahal kalau mau kan bisa lewat telpon ya. Mungkin perempuan tersebut juga suka dengan Sue, abis gak pernah nolak juga kalau didatangi. 

Perempuan yang gayanya praktis ini, kerap membuat Sue blingsatan.  Secara wajah sebenarnya ia gak cakep-cakep amat, tapi manis. Tubuhnya juga gak tinggi, rata-rata perempuan Asia dengan rambut yang pendek tapi serasi.  Di pertemuan ketiga, Sue makin yakin kalau  perempuan ini memang indah.  Dan semakin dipikirin, Sue makin tergoda untuk menyergapnya.. kok kayak mau nangkap anjing liar sih.

Wajah dan penampilan perempuan ini menarik, sikapnya matang, dan pekerjaannya  mapan… hmm inilah gambaran perempuan indah dimata Sue, 3M (menarik, matang, dan mapan).   Gambaran perempuan masa kini, yang tahu apa yang ia mau sekaligus bahagia menjadi dirinya sendiri.  Sempurna dalam kacamata Sue.  Walau sebenarnya gak ada yang sempurna dalam hidup ini kan?  Siapa tahu perempuan ini ternyata dulunya laki-laki.. atau siapa tahu aja perempuan ini mengidap penyakit sapi gila…. .  Tapi itu ntar dulu deh, jangan dibahas sekarang.  Gak bagus bikin sesuatu yang indah, jadi rusak dalam waktu dekat.. hehehe.

Balik ke perempuan ini, di usianya yang relatif muda, ia sudah menjadi manager, sikapnya yang matang dan yakin membuat Sue ingin terus ada di dekatnya, ngebayangin  caranya bicara dan caranya menatap Sue, membuat Sue makin terpesona. Tahu sendiri, Sue yang suka norak dan bikin sebel, ternyata gak bisa membuat emosi perempuan itu berubah.  Sue merasa perempuan ini L.   Radar Sue bilang begitu, tapi masalahnya radar Sue gak sebagus radar Joy atau Tee, yang sudah terlatih berabad-abad lalu.  Radar Sue lebih banyak ngaconya dibanding benarnya, mungkin pengaruh dari otak Sue yang terbatas itu. 

Tapi melihat gaya perempuan ini yang lepas dan matanya itu saat menatap mata Sue, aduuhhh Sue jadi gak bisa bertahan lama membalas tatapan matanya.  Rasanya gimana  gitu…

Perempuan ini benar-benar indah.  Sue yang senang dengan keindahan, memiliki satu lagi koleksi keindahan yang ada dalam benaknya.    

Menjadi perempuan yang indah adalah harapan semua perempuan, mungkin.  Sue merasa semua perempuan itu indah, asal perempuan tersebut bisa memahami diri mereka sendiri dan tahu apa yang jadi kekuatan mereka, nah kekuatan itulah yang terpancar keluar dari dalam diri perempuan yang indah ini. 

Kekuatan disini bukan berarti manipulatif ya, karena semua yang manipulatif hanya berumur sementara, hanya bisa bikin geli kayak anjing pudel tadi.  Tapi ini kekuatan yang sifatnya permanen, dibutuhkan pemahaman dan penerimaan diri untuk dapat memancarkannya. Seperti perempuan yang ditemui Sue ini. 

Sue tidak berani bikin pertemuan ke-empat,  takut tergoda, takut digoda juga.  Tapi yang lebih tepat, sudah gak ada alasan untuk bertemu lagi, masak mau bilang kaset wawancaranya kecuci lagi atau gak sengaja ke makan….ih norak abis deh..  tapi sebenarnya yang paling ditakutin Sue adalah takut  kalau ternyata benar perempuan tersebut dulunya laki-laki.  Dasar L….

Kukumu = Tandamu

•Desember 11, 2009 • & Komentar

Suatu siang ketika bertemu dengan seorang “calon” klien secara informal, diri ini ternganga, bagaimana tidak, semua kukunya terawat rapih. Bisa jadi hasil perawatan meni pedi, yang jelas dicat warna merah, merah saga. Ketika dia beranjak pergi, melenggang dengan sepatu sandalnya yang high heels makin terlihat jelas kuku kakinya pun bercat senada dengan scrafnya, merah saga. Ternyata tak cuma diri ini yang terpana, sahabat yang siang itu menemani juga ternganga. Pendeknya kalau nih klien berjalan semua orang akan terpesona. A..a..a…a…. begitulah irama syairnya.

Nah kembali soal kuku tadi, lalu teringat lah akan celetukan lama dari sahabat lainnya yang selalu bilang. “Posisi aktif pasif dalam hubungan seksual pasangan lesbian, bergantung dari kukunya!”…Nah lo…. Apa benar? Lalu mengalirlah argument segudangnya, seolah pakar hubungan perkukuan dengan seksualitas, katanya lagi: “Kalau dia kukunya pendek-pendek, tidak panjang ala Bima dan Ranggda, maka pastilah dia yang memainkan peran di ranjang, kalo yang panjang-panjang kuku jemarinya, dia hanya dimainkan”. Begitu tegasnya penuh keyakinan. Tapi tak usah kuatir dengan premis semacam itu, itu kan jaman dahulu kala, ketika segala alat bantu sulit ditemukan.

Sekarang? Pastilah berbeda, siapa aja bisa jadi pemain utama, punya kuku pendek, panjang, bibir tipis, bibir tebal, gigi pendek, gigi panjang, hidung pendek, hidung panjang, sampai rambut pendek dan rambut panjang, tidak menjadi persoalan lagi siapa yang bisa menjadi pemainnya. Dan tidak juga perlu dikotak-kotak-an siapa pemain utama, dan siapa pemain cadangan, toh bukan bermain bola :) .

Soal kuku ini pula, diri ini kategori yang tidak mau menghabiskan secara total panjangnya, maklum akan terasa lebih greng kalo kuku-kuku ini ikut bermain di punggung dan pundak pasangan….uhmmm, rasanya gimana gitu, yang belum pernah mencoba silakan mencoba. Tapi seorang teman lesbian tetap kemudian ngotot: “Saya kalau mau cari pasangan, juga selalu melihat kukunya, kalau kukunya kotor, tidak terawatt, saya jadi ill feel”. Dan tidak heran juga, kalau dia tidak pernah lagi punya pasangan semenjak pindah kerja jadi manager pengawas bengkel motor, dan kemudian pindah lagi jadi pengawas bengkel mobil, dan ada wacana dia hendak dipindahkan ke bagian pengawas percetakan sistem tinta basah, pokoknya perempuan yang dia temui bakal berkuku hitam semua.

Tapi barangkali memang para guru TK dan SD yang akan menjadi favorit para perempuan penggila kebersihan kuku. Kan para guru TK dan SD inilah yang paling rajin memeriksa perawatan kuku jari tangan. Seminggu sekali paling tidak. Namun teman lesbian lain punya solusi jitu, baginya yang penggemar kuku panjang, namun sekaligus lebih suka pakai jari-jarinya untuk bercinta, maka dijalankanlah strategi kuku panjang pendek sesuai kebutuhan. “Ya pake kuku palsu dunk….buatan korea yang paling sip, kalo kelihatan lentik tinggal pake, mo bercinta tinggal copot” ungkapnya mendayu. Pilihan jitu, namun sekali lagi jangan cemas soal identitas kuku tadi, kan ukuran kuku tidak menjadi ukuran bagi kehandalan Anda bercinta.

Ratri M.

dunia kecil Tee

•Desember 8, 2009 • & Komentar

Selain mendiami alam semesta yang sangat luas, Tee juga tinggal di sebuah dunia yang kecil. Tee baru sadar dunia itu begitu kecilnya ketika dia menarik garis koneksi antara makhluk-makhluk penghuni dunia itu. Semua saling terkoneksi, bukan lagi dengan six degrees of separation seperti halnya teori yang mendasari situs-situs pertemanan di internet, tetapi kayaknya jauh lebih pendek, mungkin hanya sekitar dua atau tiga degree. Beberapa orang menjadi center dalam interkonektivitas itu, dan salah satu dari orang-orang di pusat itu adalah mantan Tee sendiri.

Secara biologi, penghuni dunia itu mempunyai jenis kelamin yang sama (=mempunyai alat kelamin yang sama), namun secara ilmu lainnya (sosiologi, psikologi, fisika, kimia, sebut saja) tidak ada satu pun yang sama di antara mereka. cara memandang mereka lebih mudah dengan memandang gender sebagai suatu garis kontinum yang panjang dimana setiap orang berdiri di suatu tempat yang berbeda di dalam garis itu, di antara ekstrem yang satu dengan ekstrem yang lain. Peran gender adalah suatu yang luas di dunia itu, tidak hanya dua jenis seperti yang berlaku di alam semesta di luar mereka. Tidak hanya luas, peran itu juga sangat fleksibel. Bisa berubah-ubah sesuai dengan tuntutan sikon, sesuai dengan tuntutan pasangan.

Meskipun berjenis kelamin satu, penghuni dunia itu masing-masing sangat berbeda. Setiap dari mereka mempunyai keunikan yang sangat unik, sangat tidak tipikal seperti kebanyakan orang. Satu-satunya yang sama di antara mereka—selain alat kelamin—juga suatu kenyataan, bahwa mereka semua ternyata, tidak bahagia. Dan seperti kata Tolstoy tentang keluarga yang tidak bahagia, mereka juga, tidak bahagia dengan cara mereka sendiri-sendiri.

Ada yang tidak bahagia karena tidak kunjung bertemu dengan pasangan ideal. Ada yang selalu gagal dalam hubungan, tidak pernah langgeng. Ada yang selalu harus cukup puas dengan hubungan dari jarak jauh (LDR). Ada yang selalu jatuh hati pada istri orang. Banyak yang ditinggal kawin setelah pacaran cukup lama. Tidak sedikit juga yang terjebak dalam soundtrack lagu The Virgin “cinta Terlarang.” Bahkan ketika mereka telah berpasangan dan hidup bersama dengan pasangan seperti cita-cita banyak orang, mereka harus selalu menyanyikan lagu Krisdayanti “Cobalah untuk Setia.”

Dan bahkan dalam sebuah hubungan yang sudah dianggap sempurna: saling mencintai, saling memiliki, super romantis, langgeng, dll, menurut Tee, mereka tidak mungkin merasakan kebahagiaan sejati.

Kenapa? Karena mereka membenci diri mereka sendiri.

Makhluk-makhluk dunia kecil Tee ini selalu gagal menerima diri mereka sendiri apa adanya. Bahkan setelah bisa mencintai diri sendiri, bisa menerima diri sendiri apa adanya dengan segala kekurangan mereka, mereka masih gagal mencintai diri mereka yang mencintai seorang berjenis kelamin sama. Sebagian dari diri mereka selalu menolak bagian yang itu. Setiap kali mereka keluar dari diri mereka sendiri dan melihat diri mereka dengan pasangan, mereka merasa ada yang aneh. Boro-boro mendapatkan penerimaan dari keluarga atau lingkungan luar. Bahkan mereka sendiri tidak suka melihat gambaran itu. Mereka sendiri risih melihat gambar seperti itu. Dan ketika mereka akan punya anak, satu-satunya doa mereka adalah agar anak tidak menjadi seperti mereka.

Terkadang mereka merasa muak. Muak dengan dunia kecil yang isinya itu-itu saja. Muak dengan topik yang berputar-putar tidak ke mana-mana. Muak dengan rasa frustrasi karena tidak menemukan cinta. Mereka bosan dan lalu pindah ke dunia lain, on and off karena mereka akan selalu kembali. Tidak sedikit yang bahkan tidak pernah berani masuk ke dalam dunia kecil Tee. Mereka mencoba membunuh bagian diri mereka yang itu, tetapi tak pernah berhasil.

Lalu apa yang harus dilakukan bila kau hidup di dalam dunia tempat orang-orang merasa tidak bahagia? Tee berusaha berpikir keras. Apakah yang dapat dilakukannya?

Sudah banyak yang pernah dilakukan. Mereka membuka klinik-klinik konseling, yang hanya punya dua pilihan: apabila masih bisa diubah, akan diubah. Bila tidak, bagaimana kemudian membuat makhluk-makhluk itu bisa menerima diri mereka sendiri
. Nah inilah yang menurut Tee cukup susah, sementara mereka tetap hidup dan menjadi bagian dari alam semesta yang lebih luas itu. Penerimaan diri sepenuhnya masih menjadi PR selama berpuluh-puluh tahun ke depan.

Club-club dan pertemanan adalah suatu hal yang sangat membantu, namun tetap saja persoalan inti sepertinya tidak pernah selesai. Maka suatu hari Tee pun pergi ke suatu tempat yang sangat jauh. Dia berjalan kaki selama 5 hari hingga tiba di sebuah desa dan bertemu dengan seorang nenek yang sangat tua yang katanya bisa melihat masa depan.

Nenek itu memberi Tee sebuah ramuan. “Eureka,” Inilah solusi untuk dunia kecilnya, pikir Tee. Ramuan itu akan membuat siapapun yang meminumnya langsung jatuh cinta. Tak peduli berapa pun umurnya, dan berapa pun keras hatinya, pasti akan langsung merasakan perasaan berbunga-bunga itu. Perasaan yang membuat seseorang lupa segalanya. Mereka yang jatuh cinta mengira mereka hanya berdua saja di dunia ini, tidak ada orang lain. Bahkan bila ada, mereka tidak perlu peduli. Jatuh cinta membuat siapa pun merasa bahagia dan seolah keluar dari dunia tempat dia berada dan masuk ke surga. Mereka tidak mungkin merasakan masalah-masalah tadi, karena mereka tidak di sini.

Maka jatuh cinta adalah satu-satunya jalan menuju bahagia. Jatuh cinta harus terus terjadi, untuk mencegah ketidakbahagiaan muncul kembali. Apabila perasaan itu hilang, tinggal diminum lagi ramuannya. Perasaan itu akan kembali lagi. Dan apabila tidak ada orang untuk dijatuhi cinta, tidak apa-apa, nikmati saja perasaan itu, sudah cukup membuat kita bahagia. Tidak percaya? Coba saja.

’Istri-istri’ takut istri

•November 24, 2009 • & Komentar

Tadi pagi Joy telpon ke Sue, dia cerita tentang Ibet, partner tetap Joy saat ini.  Dibilang tetap, karena Joy juga memiliki banyak partner tidak tetap. 

Joy memang dikejar-kejar banyak pengagum rahasia.  Diantara anggota 3P yang lain, memang Joy yang paling ’nakal’ dan paling banyak penggemarnya. Mungkin ia pakai susuk.  Susuk kuda liar.  Karena itu pengagum Joy kebanyakan kuda.

”Sue, Ibet lagi ke luar kota. Barusan gue anterin ke bandara,” terdengar suara Joy yang renyah di pagi itu.

“hmm, sudah ada flirting-an untuk nanti malam?”

”Ah, jangan gitu dong Sue.. gue sekarang setia, beda dengan yang dulu. Lo tahu kan.  Flirting-flirting sedikit sih masih, tapi ngga separah dulu.  Gue yakin dengan pilihan gue yang sekarang,” sahut Joy dengan suara sedikit ngambek.  Memang setahu Sue, hanya Ibet yang bisa mengendalikan Joy.  Sue yakin itu karena hubungan mereka sudah berjalan hampir sepuluh tahun, sempat putus sambung, tapi makin hari hubungan mereka makin stabil. Kayaknya sih….

”hehehe… senang mendengar elu sudah setia, Joy.”

”Makanya, lo ingetin gue kalau gue salah melangkah.”

”Ya..iyalah…masa ga-lah… emang mau ngambil dondong?” terdengar Sue menjawab cuek.
 
“Jadi sekarang hubungan elu dengan Ibet gimana? makin yakin untuk menikah?”  lanjut Sue sambil membaca email-email di laptopnya.

”ya gitu deh.. gue mau aja menikah, tapi belum siap dengan ini itunya.. ribet. Eh tapi gue mau cerita nih. Masa tadi pagi Ibet ketakutan ma gue.”

”Ketakutan? Ibet bisa takut ama lo? Gak percaya gue,” Sue mulai tertarik dengan cerita Joy.  Ibet seorang perempuan yang sudah mapan (kata lebih halus dari sudah berumur, hanya sedikit lebih muda dari ibunya Joy..).  Joy memang suka yang lebih berumur darinya.   Dan Ibet  adalah contoh dari sedikit perempuan yang memiliki emosi sangat terkendali.

”gue juga gak percaya… Padahal dia cuma mau bilang kalau tugasnya di luar kota diperpanjang jadi dua minggu dari yang seharusnya cuma tiga hari.  Dia gak berani bilang ada perubahan jadwal ke gue, padahal perubahan itu sudah dia ketahui sejak dua hari sebelum berangkat.  Jadi sepanjang perjalanan ke bandara tadi, dia seperti serba salah dan gak berani ngapa-ngapain. Awalnya memang gue sempat ngerasa ada yang beda dari dia, tapi gue gak tahu kalau itu karena dia takut sama gue.  Memang sudah pasti sih, gue bakal sebal dikasih tahu mendadak, terus bakal ditinggal lama lagi. Tapi gue gak tahu kalau dia sampai ketakutan gitu.”

”Terus?” tanya Sue penasaran.

”terus dia bilang:  Non, aku kok seperti suami-suami takut istri ke kamu, padahal aku cuma mau bilang kalau jadwal keluar kota diperpanjang..,” lanjut Joy sambil tertawa.  Non adalah panggilan kesayangan Ibet ke Joy.

”Bayangkan Sue! kalimat itu keluar dari seorang Ibet lho.  Lo tahu sendiri kalau Ibet itu sangat terkendali emosinya.. kalau dia ngomong gitu, pasti karena ada sesuatu dalam diri gue yang bikin dia sampai panik gitu.  Gue kaget, senang sekaligus jadi mikir juga, apakah sekuat itu dampak gue ke Ibet ya?” suara Joy terdengar bangga.

”ya jelas, Joy.  Itu berarti dia memang takut sama reaksi lo, takut bikin lo kecewa. Bisa jadi juga dia takut elo turunin di pinggir jalan, padahal belum sampai bandara,” kata Sue sambil membaca email lagi.

”Kira-kira apa yang menyebabkan ia begitu ya?” Joy pura-pura tidak mendengar omongan Sue yang terakhir.

”Elu gak nanya dia?”

”Gak berani.”

”Gue tahu.”

“Tahu, Sue?” tanya Joy ganti ia yang penasaran.
 
“Iye, gue jadi tahu kalau selama ini Ibet yang ngasih nafkah batin.” hehehe ketahuan deh siapa yang jadi ‘suami’nya..

“Sialan lu.”

 

Dalam menjalin relasi memang selalu ada dinamika berpasangan. Bukan saja di dunia hetero, di dunia homo pun terjadi apa yang dinamakan dinamika ’kekuasaan’.  Dalam hal ini, Ibet mungkin memandang Joy lebih ber-’kuasa’ dalam mengatur hubungan mereka, jadi muncullah rasa ’takut’ itu.  Tapi bisa jadi juga rasa takut itu muncul bukan karena relasi kekuasaan, tapi karena faktor-faktor lain, selalu ada faktor x kan? apalagi jika sudah berhubungan dengan yang namanya manusia. Jadi faktor x itu bisa berkaitan dengan apa saja.  Termasuk berkaitan dengan….. kuda? 

 

Perempuan Lain

•November 18, 2009 • & Komentar

Menyenangkan gak sih rasanya kalau dijatuhi cinta? Pasti lebih menyenangkan daripada dijatuhi tahi cicak. Cinta gitu deh. Siapa yang nolak? Apalagi kalau yang menjatuhi cinta orang yang sesuai dengan tipe kita dan punya nilai di atas rata-rata perempuan pada umumnya. Hmm… pasti sejuta rasanya kan? ditambah lagi kita juga punya ’klik-klik’ yang sama… waduh pasti makin asyik.. Masalah akan muncul, jika ternyata kita sudah punya cinta yang lain. Nah loh!

Ini yang lagi dialami Tee dan Joy. Pada saat yang bersamaan mereka sedang dekat dengan perempuan lain, gbt (gebetan) istilah mereka. Entah apa artinya gebetan itu. Tapi kata Sue, gebetan itu sejenis korek api. Yang kalau diklik bisa kebakar sendiri.. Ngerti gak? Gak ya? Hmm.. maksudnya geretan… Norak n garing.

Gebetan Joy sepuluh tahun lebih muda dari Joy. Dari cerita Joy, gebetannya ini pintar dan orangnya juga oke, manis seperti gula jawa. Sudah gitu omongannya juga nyambung dengan gaya Joy yang seorang aktivitis. Dengan segala idealisme dan istilah-istilah per-aktivis-an. Jadilah mereka semakin dekat, dari waktu ke waktu.

Sue dan Tee kenal dengan gebetan Joy, mereka juga suka ngompor-ngomporin Joy. Sebagai orang yang sangat ekspresif Joy memang suka banget menceritakan tentang gbt-nya ini. Beda dengan Tee yang punya gbt cuma untuk diri sendiri. Ngasih tahu sih ke 3P yang lain, tapi dikitttt banget.. sampai gak berasa kalau dia juga punya gbt. Kalau ngomongin gbt Tee, seperti ngomongin agen rahasia. Sudah ngomongnya bisik-bisik, yang diceritain juga gak banyak. Bikin cape badan doang. Sue yakin gebetan Tee memang mata-mata.

Sekali waktu gebetan Joy diajak ngumpul bareng 3P. Dalam impresi pertama, Tee langsung tahu kalau gbt Joy memang suka sama Joy.

”Tangannya itu lho, ramah sekali ke elo,” kata Tee saat mereka berkumpul di markas 3P. Yang dinamakan markas adalah tempat nongkrong mereka di sebuah cafe kecil, diantara deretan toko-toko dan rumah makan yang tidak terlalu ramai, di selatan kota Jakarta.

”Iya, Joy.. tangannya sering banget nyentuh-nyentuh elu.. bahkan setiap kali bicara ada kali tuh tangan lari-lari ke bahu, paha, lengan kayaknya manfaatin banget deh,” Sue membenarkan pengamatan Tee. ”Iya.. memang gue juga merasakannya,” kata Joy kalem.

”Terus elu sudah tahu belum orientasinya?” Memang dia seperti kita?” tanya Sue.

”Gak tahu. Radar gw bilang iya.. tapi sepertinya masih setengah-setengah.” ”halah..”, terdengar suara Tee mengomel. “kalau masih setengah-setengah susahlah.. mau diapa-apain ntar lebih banyak nanyanya. Mau ditiduri, mesti pake adat istiadat sgala. Susahlah..”

“gitu ya..,” kata Sue setengah bertanya. Sepertinya Tee juga punya banyak pengalaman dengan dunia per-gebetan ini.

”Itulah tantangannya. Gimana caranya supaya tahu bahwa dia L dan tidak sakit hati kalau gue tinggal,” kata Joy masih dengan kalem.

”Lagian gue juga penasaran.. kayaknya dia juga pengen coba-coba doang,” lanjut Joy lagi.

”Tancap aja, Joy, ”Kata Sue sambil makan keripik singkongnya. Hmm.. enak juga keripik singkong.

”Tancap-tancap.. emang mobil!”

”Iya tancap pake jari…,” lanjut Sue. Gila emang nih Sue.

”Maksud gue jangan lama-lama mainnya, kalau gak mau serius. Kan siapa tahu aja dia juga cuma pengen tahu rasanya dicium perempuan, kasih aja, sudah gitu elu lari.. Abis lari sepah dibuang, gitu kan peribahasanya,” lanjut Sue lagi, kayaknya dia memang gak pernah mikir kalau ngomong.

”Terus kalau dia ketagihan? Minta lagi, gimana?” Tee balik bertanya ke Sue.

“Hmm, kita gilir aja,” lanjut Sue dengan tampang serius.

“Geblek..,” suara Joy membalas Sue. “Yang geblek siapa? Bukannya dari awal juga sudah geblek,” Sue nimpalin lagi.

 

Mungkin kata gebetan muncul dari kata geblek. Baik yang menggebet dan yang mau digebet.. sama-sama geblek. Harusnya jadi geblekan ya.. kok jadinya gebetan.. atau ulekan aja? Asyik juga buat nimpuk gebetan.

Udah ah.

Dahh.

di tempat aku menunggumu

•September 18, 2009 • & Komentar
di tempat aku menunggumu
Di tempat aku menunggumu
ada enam meja
dan dua puluh kursi
yang semuanya kosong.
Ada tulisan di atas meja:
Yth Bapak/Ibu, terima kasih untuk
tidak duduk di sini kecuali tamu,
tapi aku tetap duduk.
Ya, abis gimana mau jadi tamu, wong
cafe-nya sudah tutup.
Yang tersisa hanya sebuah bar senyap;
satpam dan cleaning service yang mengobrol
tentang NU atau Muhammadiyah dan kapan lebaran
di depan kaca gedung memperlihatkan
gerakan Jakarta sehabis maghrib;
bergerak lancar. Tanda hari
sudah malam. Satu per satu
mbak-mbak kantoran berpamitan.
Bedak dan gincu telah dipoleskan,
siap menunggu jemputan dan
menyongsong malam.
Di tempat aku menunggumu
lampu pun mulai dipadamkan.
Aku bertanya-tanya… berapa lama lagi
kamu akan datang?
Waktu merangkak sepelan cicak
di sela putaran kipas angin
tua yang melambat.
ngek, ngok, ngek, ngok
Membuatku teringat penari darwish yang
lelah.
Dan bila kamu akhirnya datang
apakah mukamu berseri
atau kelelahan?
Sehabis bertarung untuk kehidupan,
apakah periku akan berubah menjadi monster malam?
Aku pun membayangkan seorang
gadis kecil yang duduk di taman
setangkai bunga di tangannya
helai demi helai dilepasnya
sambil menghitung dengan gelisah
“He loves me”
“He loves me not”
“He loves me”
“He loves me not.”

Di tempat aku menunggumu

ada enam meja

dan dua puluh kursi

yang semuanya kosong.

Ada tulisan di atas meja:

Yth Bapak/Ibu, terima kasih untuk

tidak duduk di sini kecuali tamu,

tapi aku tetap duduk.

Ya, abis gimana mau jadi tamu, wong

cafe-nya sudah tutup.

Yang tersisa hanya sebuah bar senyap;

satpam dan cleaning service yang mengobrol

tentang NU atau Muhammadiyah dan kapan lebaran

di depan kaca gedung memperlihatkan

gerakan Jakarta sehabis maghrib;

bergerak lancar. Tanda hari

sudah malam. Satu per satu

mbak-mbak kantoran berpamitan.

Bedak dan gincu telah dipoleskan,

siap menunggu jemputan dan

menyongsong malam.

Di tempat aku menunggumu

lampu pun mulai dipadamkan.

Aku bertanya-tanya… berapa lama lagi

kamu akan datang?

Waktu merangkak sepelan cicak

di sela putaran kipas angin

tua yang melambat.

ngek, ngok, ngek, ngok

Membuatku teringat penari darwish yang

lelah.

Dan bila kamu akhirnya datang

apakah mukamu berseri

atau kelelahan?

Sehabis bertarung untuk kehidupan,

apakah periku akan berubah menjadi monster malam?

Aku pun membayangkan seorang

gadis kecil yang duduk di taman

setangkai bunga di tangannya

helai demi helai dilepasnya

sambil menghitung dengan gelisah

“He loves me”

“He loves me not”

“He loves me”

“He loves me not.”

“He loves me…”

i miss you but

•September 16, 2009 • & Komentar
i miss you but
i miss you, really. But
sorry, not this one
Can you promise me
that when you see me
you’re going to be nice?
to think of our last
encounter is unbearable
you tried to eat me.
and push me.
your face was grim
like a funeral house
i miss that little lady
who cheer me up
who kills me with a smile
and poison me with dreams
i miss you, yes indeed. But
wait, I’m not sure it’s you
Maybe it’s just a
ghost (again).

i miss you, really. But

sorry, not this one

Can you promise me

that when you see me

you’re going to be nice?

to think of our last

encounter is unbearable

you tried to eat me.

and push me.

your face was grim

like a funeral house

i miss that little lady

who cheer me up

who kills me with a smile

and poison me with dreams

i miss you, yes indeed. But

wait, I’m not sure it’s you

Maybe it’s just a

ghost (again).

Ellen DeGeneres Terpilih jadi Juri American Idol, Now, that’s Interesting!

•September 10, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Dikutip dari Americanidol.com:

September 9, 2009 | 05:51 pm PT
Ellen DeGeneres Joins American Idol as Fourth Judge

Emmy Award-winning talk show hostEllen DeGeneres has joined American Idol as the new fourth judge sitting alongside Simon Cowell,Randy Jackson, and Kara DioGuardi. As the new judge, Ellen will offer her own unique perspective to the contestants throughout the competition. Season 9 will premiere this January.

Guest judges during Season 9 auditions include Victoria Beckham, Mary J. Blige, Kristin Chenoweth, Joe Jonas, Neil Patrick Harris, Avril LavigneKaty Perry, and Shania Twain. Ellen will take her seat at the judges’ table after the audition rounds commence.

Upon becoming the fourth judge on the number one show, Ellen said, “I’m thrilled to be the new judge on American Idol. I’ve watched since the beginning, and I’ve always been a huge fan. So getting this job is a dream come true, and think of all the money I’ll save from not having to text my vote.”

American Idol’s creator and executive producer, Simon Fuller, is equally as thrilled. “I could not be more excited to have Ellen join the American Idol family. Ellen has been a fan of the show for many years, and her love of music and understanding of the American public will bring a unique human touch to our judging panel. I can’t wait for this next season to begin.”

Executive producer Cecile Frot-Coutaz added, “We’re all delighted to have Ellen join our ninth season of American Idol. Beyond her incredible sense of humor and love of music, she brings with her an immense warmth and compassion that is almost palpable. She is one of America’s foremost entertainers, and we cannot wait to have her join our team.”

Mike Darnell, President of Alternative Entertainment for FOX stated, “We are thrilled to have Ellen DeGeneres join the American Idol judges’ table this season. She is truly one of America’s funniest people and a fantastic performer who understands what it’s like to stand up in front of audiences and entertain them every day. We feel that her vast entertainment experience – combined with her quick wit and passion for music – will add a fresh new energy to the show.”

A beloved television icon and entertainment pioneer, Ellen’s distinctive comic voice has resonated with audiences from her first stand-up comedy appearances through her work today on television, in film and in the literary world. DeGeneres has made a home for herself in the daytime arena with her hit syndicated talk show, “The Ellen DeGeneres Show.” The show, now entering its seventh season, won the Daytime Emmy for Outstanding Talk Show Host four years in a row and has earned a total of 29 Daytime Emmy Awards.

Recently, Ellen was included in Forbes’ Top 5 “Most Influential Women in Media” and was voted “Best Daytime Talk-Show Host” by Parade.com readers. In addition, she has been voted “Favorite TV Personality” by The Harris Poll’s annual favorite television star list, beating out Oprah Winfrey and Jay Leno. Ellen was included in MSNBC’s “Power players who shape your TV habits.” Ellen was also honored with Television Week’s Syndication Personality of the Year and voted No. 1 in Oxygen’s “50 Funniest Women Alive” special in the company of such comedic legends as Carol Burnett and Lily Tomlin and has been included in TIME’s 100 Most Influential People.

Ellen had the honor of hosting the highly rated 79th Annual Academy Awards and was nominated for a Primetime Emmy Award for Outstanding Individual Performance In A Variety or Music Program. This follows her 2005 stint hosting the Primetime Emmy Awards, which marked her third time hosting the show. Her performance hosting the 2001 award show garnered her rave reviews for providing a perfect balance of wit with heartfelt emotion to the post-September 11 telecast audience. Ellen won an American Comedy Award for her inaugural effort hosting the show in 1994. Additionally, Ellen co-hosted American Idol’s very successful Idol Gives Back special that raised money for children in extreme poverty in America and Africa.

Ellen’s career began as an emcee at a local comedy club in her hometown of New Orleans, which led to national recognition in 1982 when her videotaped club performances won Showtime’s “Funniest Person In America” honor. DeGeneres began her acting career in television on the FOX sitcom “Open House.” She moved on to ABC’s “Laurie Hill,” prior to being offered a part on “These Friends of Mine” by ABC. After the first season, the show was renamed “Ellen.”  Running from 1994 to 1998, the show garnered record ratings, with Ellen receiving Emmy nominations each season in the Best Actress category. In 1997, Ellen was the recipient of the coveted Peabody Award as well as earning an Emmy for writing the critically acclaimed “Puppy Episode” when her character came out as a gay woman to a record 46 million viewers.

Both on and off screen, Ellen’s humanitarian efforts take center stage. She is passionate about bringing awareness to the people of New Orleans, her hometown, which was devastated by Hurricane Katrina and her efforts have resulted in “The Ellen DeGeneres Show” raising over $10 million to improve the lives of New Orleans residents. Overall, “The Ellen DeGeneres Show” has raised over $50 million and brought attention to various causes, including global warming and animals. Additionally, Ellen continues to raise awareness about breast cancer, and served as spokesperson for General Mills’ breast cancer awareness initiative, Pink for the Cure, and hosted special episodes of her show to mark Breast Cancer Awareness Month.

Since she was first nationally recognized in 1982 as a comedian in New Orleans, Ellen’s many contributions to the entertainment industry have earned her numerous accolades including a Golden Apple Award as Female Discovery of the Year from the Hollywood Women’s Press Club; a Lucy Award honoring women in Television and Film, as well as an Amnesty International Award.

We’d like to welcome Ellen DeGeneres to the American Idol family!

my haiku for a friend who’s in LDR

•September 9, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar
the monitor is staring blankly at me,
while I wait for you,
today has turned into tomorrow again.

the monitor is staring blankly at me,

while I wait for you,

today has turned into tomorrow again.