Menjadi lesbian di era internet bagaikan terjebak dalam sebuah maze yang sangat rumit. Kita yang grow up di era pra-internet dan sudah dewasa pada masa sekarang mungkin mengira, Oh enak ya anak zaman sekarang, banyak informasi yang mudah didapat, jauh lebih mudah mencari teman, tapi hey, tunggu dulu. Sepertinya tidak sesederhana itu.
Bila dulu kita ketika beranjak dewasa dan mencari informasi tentang seksualitas kita, kita bisa diumpamakan bagaikan masuk sebuah hutan yang gelap, tidak ada penerangan sedikit pun, hingga kita bertemu dengan sebuah titik terang, yang mengantar kita pada hanya sebuah atau dua buah jalan kecil saja.
Sekarang, untuk anak-anak era digital ini, ibaratnya mereka baru lahir saja sudah banyak sekali informasi di sekitar mereka. Mereka mungkin dalam kondisi yang belum siap ketika banjir informasi menerpa mereka. Mereka bahkan mungkin tidak perlu mencari, informasi mengepung mereka dari segala arah dengan segala kemudahan yang ada. Jadi,
bila diumpamakan, mereka seperti berada dalam sebuah tempat yang terang (bukan hutan yang gelap seperti kita) tetapi jalan yang di hadapan mereka sangat-sangat banyak, dan bahkan melilit mengepung mereka, bagaikan sebuah maze.
Sungguh kacau kondisi kebanjiran informasi ini, karena semua orang bisa menulis. Informasi yang terakses oleh anak muda semakin tidak jelas sumbernya. Maksud saya, tidak terseleksi. Bila dulu semua yang masuk dalam publikasi ada
seleksi ketat. Ada media-media, redaktur-redaktur yang duduk di kursi kebesaran mereka dan menentukan bagi dunia
mana yang penting dan mana yang tidak penting. Mana yang layak untuk dibaca dan mana yang tidak layak dibaca. Bukan berarti yang seperti ini yang lebih baik, tetapi setidaknya sumber-sumber berita, sumber-sumber pengaruh lebih sedikit. Mereka, biar bagaimana pun adalah kalangan elit kecil yang dianggap layak duduk dalam posisinya. Tidak seperti sekarang.
Demikian pula dengan lesbian pada waktu itu. Mereka tidak punya media. Mereka harus menebeng pada media mainstream. Tokoh gay dan lesbian waktu itu, hanya ada beberapa. Mereka terpilih (atau terpanggil) karena keberanian mereka, karena kesediaan mereka untuk volunteer (ini bukan tugas sepele lho), dan mereka dapat berhubungan dengan teman-teman senasib melalui ruang yang disediakan oleh media mainstream. Dari sanalah juga aku mendapatkan kontak salah satu tokoh lesbian dulu. Dari dialah kemudian aku dikenalkan dengan teman-teman, dengan calon pacar, dan mulailah aku menjadi praktisi. Bukan hanya pengamat.
Sekarang semua berbeda. Informasi itu sangat mudah. Di dalam tangan Anda, ada sebuah HP, yang terkonek ke Facebook. Udah deh. Di sana juga ada grup-grup Lesbian. Ruang chat, ada juga. Blog bertebaran sekarang. Yang sudah menjadi majalah online Lesbian juga sudah ada.
Saya yakin ini tidak serta merta mempermudah segalanya. Awalnya tampak mudah karena mudah mencari teman, mudah mencari partner, relatif tidak terlalu kesepian. Tetapi, seperti halnya demokrasi dalam suatu negara, masyarakatnya harus cukup cerdas dan kritis agar demokrasi tidak menjelma kekacauan. Sama seperti itu, anak muda kita juga harus punya prinsip yang kuat dan tingkat kritis yang lebih tinggi dibanding pada masa kita. Di era banjir informasi yang mengerikan ini, mereka mudah menjadi bingung. Harus ke mana, karena pluralisme menjadi semakin nyata, bahkan dalam sebuah kelompok kecil, kelompok minoritas yang oleh orang-orang disebut sebagai lesbian ini.
Ada lesbian yang sangat religious, ada yang setengah-setengah, ada yang tidak percaya Tuhan. Ada yang sangat percaya diri, ada yang menerima dirinya dengan baik, ada yang tidak bisa menerima sama sekali, ada yang setengah-
setengah. Ada juga yang disebut dengan bisexual, ya, mereka beneran ada. Ada yang menikah, ada yang tidak. Ada yang percaya bahwa kamu sebaiknya menikah, ada yang merasa menikah adalah pembohongan. Ada yang tampak seperti ibu-ibu, ada yang tampak seperti bapak-bapak (hehehe).
Pluralisme ini ada sejak dulu, tapi baru sekaranglah eranya pluralisme. Dulu hanya satu dua orang yang bicara (baca: menulis). Sekarang, hampir semua orang. Inilah pesta keberagaman. Tidak ada yang salah dengan semua pilihan
itu. Tidak ada satu pun di antara pilihan-pilihan di atas lebih baik dari yang lain. Pertanyaannya adalah, pilihlah
yang sesuai dengan dirimu. Setiap orang terlempar ke dunia ini dengan kondisi-kondisi unik yang membentuk dia menjadi dirinya saat ini. Jadilah dirimu sendiri, kamu tidak perlu menjadi si A, atau si B, tokoh L maya yang sering kamu baca, yang kamu ikuti blognya, yang kamu ikuti kisah cintanya. Kamu juga tidak perlu menjadi label tertentu. Butch, andro atau femme, misalnya. Itu adalah kotak-kotak yang mempermudah orang luar melihat dan membicarakan kita. Semua itu dinilai dari penampilan (external) saja. Padahal menjadi seorang lesbian meliputi ranah-ranah yang jauh lebih luas dari apa yang dilihat orang lain pada kita.
Selain itu, menjadi lesbian juga sama saja dengan yang bukan lesbian. Kalimat klise yang sangat aku benci: Lesbian
juga manusia biasa. Kita juga mempunyai aspek-aspek kehidupan yang lain, hal ini juga menyumbang pada pluralisme
pemikiran yang sangat bercabang itu. Saya sendiri, sangat merayakan keberagaman, dan berterima kasih kepada internet atas perubahan fundamental ini. Namun, itulah sedikit yang ingin saya sampaikan, khususnya untuk kaum muda, kritislah dalam mencerna informasi. Jangan menjadi busa yang menyerap segalanya. Tapi semuanya disaring, diolah, mana yang baik untuk kita diambil dan mana yang tidak baik dibuang saja.
Demikian juga untuk para publisher, termasuk saya karena saya menulis blog, tanpa kita sadari ternyata kita adalah
elemen-elemen pembentuk pengaruh di dunia maya ini. Pemikiran yang kita lempar begitu saja, kadang berupa curhat
gak penting, kadang hanya karena kita ingin latihan menulis, tanpa kita sadari, adalah burung-burung pengaruh yang
dapat tertangkap oleh jala Google ketika seseorang melakukan pencarian. Mau gak mau, sisters, kita harus bertanggung jawab, mempunyai tanggung jawab moral terhadap apa yang kita tulis dan bagikan pada dunia. Karena, kita juga adalah para mavens.

“What’s name?”, “Apalah artinya sebuah nama?” barangkali memang kiasan klise, tapi memang bagi sebagian besar orang, nama tetaplah harus berarti. Beberapa sahabat jika sudah merasa dekat, maka mereka akan nyaman saja berbagi nama pemberian orang tunya dalam bahasa Cina dengan sahabat terdekat lainnya. Seperti juga salah seorang sahabat diri ini. Setelah hampir 10 tahun bersahabat, maka mengalirlah nama aslinya yang menurut pendengaranku terdengar indah. Sayangnya secara etika tidak bisa diri ini bagi di sini…tapi alih-alih ingin berbagi cerita, maka namanya pun di buat seolah-olah nama tokoh dalam film So Close si Kong Yat-Hung, seorang polisi yang diperanin Karen Mok.
Piercing alias tindik memang jadi kebiasaan bagi beberapa manusia tertentu, di belahan dunia tertentu pula. Artinya pemberlakuan tindik kuping misal, sangat wajar dan jadi adat bagi sebagian besar anak perempuan di Indonesia. Di India ditambah dengan tindik hidung, plus antingnya tentunya:).
Woa…pasti betis Ken Dedes tak terbayangkan Indahnya….bayangkan saja, karena kemulusannya, keindahannya, Ken Arok, seorang prajurit kelas rendahan, pengawal raja, nekad membunuh sang raja – Tunggul Ametung. Bayangkan, pasti luar biasanya betis Ken Dendes. Diri ini yang masuk dalam kategori penikmat pemandangan betis perempuan lalu mendengar lanjutan hikayat Ken Dendes dan Ken Arok. Katanya, “Alkisah, Ken Dedes yang cantik jelita sedang mencuci kakinya di kolam ….”. Uhmm, jadi mikir, kenapa ya Ken Dedes sebagai ratu –istri Raja Tunggul Ametung tadi, kok kurang kerjaan, keluar dari kamar, menuju kolam hanya untuk cuci kaki?? Ya pastinya karena bosen ngelingker di kamar mulu kali ya. So jadilah, si Ken Arok yang kebetulan lewat tuh kolam jadi tersepona alias terpesona dengan keelokan betis kaki. Bayangin, hanya melihat kakinya, plus sampe betisnya saja, bisa kleper-kleper.