Menjadi Lesbian di era Internet

•Juni 22, 2009 • 1 Komentar

Menjadi lesbian di era internet bagaikan terjebak dalam sebuah maze yang sangat rumit. Kita yang grow up di era pra-internet dan sudah dewasa pada masa sekarang mungkin mengira, Oh enak ya anak zaman sekarang, banyak informasi yang mudah didapat, jauh lebih mudah mencari teman, tapi hey, tunggu dulu. Sepertinya tidak sesederhana itu.

Bila dulu kita ketika beranjak dewasa dan mencari informasi tentang seksualitas kita, kita bisa diumpamakan bagaikan masuk sebuah hutan yang gelap, tidak ada penerangan sedikit pun, hingga kita bertemu dengan sebuah titik terang, yang mengantar kita pada hanya sebuah atau dua buah jalan kecil saja.

Sekarang, untuk anak-anak era digital ini, ibaratnya mereka baru lahir saja sudah banyak sekali informasi di sekitar mereka. Mereka mungkin dalam kondisi yang belum siap ketika banjir informasi menerpa mereka. Mereka bahkan mungkin tidak perlu mencari, informasi mengepung mereka dari segala arah dengan segala kemudahan yang ada. Jadi,
bila diumpamakan, mereka seperti berada dalam sebuah tempat yang terang (bukan hutan yang gelap seperti kita) tetapi jalan yang di hadapan mereka sangat-sangat banyak, dan bahkan melilit mengepung mereka, bagaikan sebuah maze.

Sungguh kacau kondisi kebanjiran informasi ini, karena semua orang bisa menulis. Informasi yang terakses oleh anak muda semakin tidak jelas sumbernya. Maksud saya, tidak terseleksi. Bila dulu semua yang masuk dalam publikasi ada
seleksi ketat. Ada media-media, redaktur-redaktur yang duduk di kursi kebesaran mereka dan menentukan bagi dunia
mana yang penting dan mana yang tidak penting. Mana yang layak untuk dibaca dan mana yang tidak layak dibaca. Bukan berarti yang seperti ini yang lebih baik, tetapi setidaknya sumber-sumber berita, sumber-sumber pengaruh lebih sedikit. Mereka, biar bagaimana pun adalah kalangan elit kecil yang dianggap layak duduk dalam posisinya. Tidak seperti sekarang.

Demikian pula dengan lesbian pada waktu itu. Mereka tidak punya media. Mereka harus menebeng pada media mainstream. Tokoh gay dan lesbian waktu itu, hanya ada beberapa. Mereka terpilih (atau terpanggil) karena keberanian mereka, karena kesediaan mereka untuk volunteer (ini bukan tugas sepele lho), dan mereka dapat berhubungan dengan teman-teman senasib melalui ruang yang disediakan oleh media mainstream. Dari sanalah juga aku mendapatkan kontak salah satu tokoh lesbian dulu. Dari dialah kemudian aku dikenalkan dengan teman-teman, dengan calon pacar, dan mulailah aku menjadi praktisi. Bukan hanya pengamat.

Sekarang semua berbeda. Informasi itu sangat mudah. Di dalam tangan Anda, ada sebuah HP, yang terkonek ke Facebook. Udah deh. Di sana juga ada grup-grup Lesbian. Ruang chat, ada juga. Blog bertebaran sekarang. Yang sudah menjadi majalah online Lesbian juga sudah ada.

Saya yakin ini tidak serta merta mempermudah segalanya. Awalnya tampak mudah karena mudah mencari teman, mudah mencari partner, relatif tidak terlalu kesepian. Tetapi, seperti halnya demokrasi dalam suatu negara, masyarakatnya harus cukup cerdas dan kritis agar demokrasi tidak menjelma kekacauan. Sama seperti itu, anak muda kita juga harus punya prinsip yang kuat dan tingkat kritis yang lebih tinggi dibanding pada masa kita. Di era banjir informasi yang mengerikan ini, mereka mudah menjadi bingung. Harus ke mana, karena pluralisme menjadi semakin nyata, bahkan dalam sebuah kelompok kecil, kelompok minoritas yang oleh orang-orang disebut sebagai lesbian ini.

Ada lesbian yang sangat religious, ada yang setengah-setengah, ada yang tidak percaya Tuhan. Ada yang sangat percaya diri, ada yang menerima dirinya dengan baik, ada yang tidak bisa menerima sama sekali, ada yang setengah-
setengah. Ada juga yang disebut dengan bisexual, ya, mereka beneran ada. Ada yang menikah, ada yang tidak. Ada yang percaya bahwa kamu sebaiknya menikah, ada yang merasa menikah adalah pembohongan. Ada yang tampak seperti ibu-ibu, ada yang tampak seperti bapak-bapak (hehehe).

Pluralisme ini ada sejak dulu, tapi baru sekaranglah eranya pluralisme. Dulu hanya satu dua orang yang bicara (baca: menulis). Sekarang, hampir semua orang. Inilah pesta keberagaman. Tidak ada yang salah dengan semua pilihan
itu. Tidak ada satu pun di antara pilihan-pilihan di atas lebih baik dari yang lain. Pertanyaannya adalah, pilihlah
yang sesuai dengan dirimu. Setiap orang terlempar ke dunia ini dengan kondisi-kondisi unik yang membentuk dia menjadi dirinya saat ini. Jadilah dirimu sendiri, kamu tidak perlu menjadi si A, atau si B, tokoh L maya yang sering kamu baca, yang kamu ikuti blognya, yang kamu ikuti kisah cintanya. Kamu juga tidak perlu menjadi label tertentu. Butch, andro atau femme, misalnya. Itu adalah kotak-kotak yang mempermudah orang luar melihat dan membicarakan kita. Semua itu dinilai dari penampilan (external) saja. Padahal menjadi seorang lesbian meliputi ranah-ranah yang jauh lebih luas dari apa yang dilihat orang lain pada kita.

Selain itu, menjadi lesbian juga sama saja dengan yang bukan lesbian. Kalimat klise yang sangat aku benci: Lesbian
juga manusia biasa. Kita juga mempunyai aspek-aspek kehidupan yang lain, hal ini juga menyumbang pada pluralisme
pemikiran yang sangat bercabang itu. Saya sendiri, sangat merayakan keberagaman, dan berterima kasih kepada internet atas perubahan fundamental ini. Namun, itulah sedikit yang ingin saya sampaikan, khususnya untuk kaum muda, kritislah dalam mencerna informasi. Jangan menjadi busa yang menyerap segalanya. Tapi semuanya disaring, diolah, mana yang baik untuk kita diambil dan mana yang tidak baik dibuang saja.

Demikian juga untuk para publisher, termasuk saya karena saya menulis blog, tanpa kita sadari ternyata kita adalah
elemen-elemen pembentuk pengaruh di dunia maya ini. Pemikiran yang kita lempar begitu saja, kadang berupa curhat
gak penting, kadang hanya karena kita ingin latihan menulis, tanpa kita sadari, adalah burung-burung pengaruh yang
dapat tertangkap oleh jala Google ketika seseorang melakukan pencarian. Mau gak mau, sisters, kita harus bertanggung jawab, mempunyai tanggung jawab moral terhadap apa yang kita tulis dan bagikan pada dunia. Karena, kita juga adalah para mavens.

soulmating between girls

•Juni 4, 2009 • 7 Komentar

Wanita memiliki keanehan yang luar biasa yaitu kemampuan untuk bersahabat dengan sangat dekat dengan sesama wanita. Begitu dekatnya hubungan ini sehingga pada beberapa kasus, mereka menamakan sahabat wanitanya sebagai soulmate.

Aku sudah melihat banyak pasangan soulmate ini di mana-mana, dalam institusi pekerjaan, agama, dll. Mereka biasanya dipersatukan oleh kesamaan nasib, tersiksa oleh pekerjaan atau atasan, suasana yang menekan sehingga mereka menemukan kekuatan bersama soulmate-nya.

Tidak jarang juga kesamaan masalah lain yang dihadapi, misalnya dengan cowok. Apapun itu, mereka merasa memiliki kesamaan dan kedekatan yang luar biasa. Sebuah chemistry yang susah dijelaskan, tetapi bukan pacaran. Hal ini tidak bisa terjadi untuk jenis kelamin yang lain. Hal seperti ini hanya bisa dilakukan oleh wanita. Itulah keanehan wanita.

Pria tidak mungkin melakukan ini: begitu dekatnya para soulmate hingga melibatkan banyak aktivitas fisik. Memeluk, membelai, menyentuh, sudah biasa. Kadang-kadang hingga mencium dan memanggil dengan panggilan khusus. Panggilan ini bukan seperti “say” atau “cin” yang memang dengan murahnya kita obral kepada teman sebagai pelumas komunikasi. Mereka memiliki panggilan kesayangan untuk soulmate mereka, barangkali untuk menunjukkan betapa istimewa soulmate mereka itu, misalnya: “adik” atau bahkan “babe.”

Komitmen yang mereka berikan kepada soulmate juga tidak tanggung-tanggung. Mereka akan selalu memprioritaskan soulmate daripada pacar mereka. Pria-pria pasangan mereka boleh manyun apabila mereka lebih memilih menemani sahabat yang sedang curhat daripada menonton film Terminator terbaru bersama pada malam minggu. Pada kasus-kasus extreme bahkan, ketika harus memilih, mereka akan memilih soulmate-nya dibanding pacarnya, apabila soulmate ini tidak setuju/suka dengan pacar pilihannya.

Betapa indahnya persahabatan itu. Betapa dekatnya dan sangat intimnya mereka. Mereka menceritakan apa saja kepada si soulmate. Pekerjaan, karir, hubungan, keluarga, hampir segalanya. Dengan satu kata untuk menjelaskan hubungan mereka: dekat. Mereka sangat dekat.

Mereka juga tergantung secara emosional pada soulmate tersebut, bila suatu saat mereka sendirian, mereka akan merasa sangat kehilangan. Tidak jarang mereka “mati gaya” dan malas melakukan apa-apa sendiri.

Hubungan soulmating antara wanita ini kemudian membuat aku bertanya-tanya, apa bedanya mereka dengan hubungan Lesbian? Lesbian juga mirip-mirip dengan hubungan persahabatan seperti itu—dan kita sering kali bisa bersembunyi di balik persepsi masyarakat tentang persahabatan wanita itu. Sebaliknya, mereka juga mirip-mirip dengan lesbian, bukan? Kangen bila tidak bertemu, mati gaya tanpa pasangan, pasangan menjadi teman curhat, find comfort in touching, careessing, and talking to spouse, merasa pasangan adalah orang yang istimewa, lebih spesial dari teman yang lain… semua ini adalah kesamaan hubungan lesbian dengan soulmating itu.

Hubungan soulmating juga melibatkan sedikit aktivitas sexual, meski mereka mungkin akan enggan mengakui. Tetapi bagi yang menganut Freudian, sentuhan-sentuhan seperti yang mereka lakukan, sudah dapat dikategorikan sebagai kesenangan seksual.

Apalagi ditambah dengan kenyataan bahwa, tentu saja, mereka juga suka, pada sahabatnya. Jadi, hubungan ini juga melibatkan attraction.

Lalu apa yang membedakan?

Aku jadi teringat sebuah joke yang sudah lama, entah baca di mana, sudah lupa. “Bagaimana aku tahu bahwa aku lesbian?” kata seorang wanita dalam joke itu.

Untuk gampangnya si penjawab mencontohkan seorang gadis cantik yang ada di dekat mereka. “Kamu lihat wanita cantik itu. Cantik bukan? Apakah kamu merasa langsung ingin bercinta dengan wanita itu?”

Bila iya, berarti kamu lesbian.

Sesimple itu.

Simple, tapi kayaknya ada benarnya. Para soulmate itu tidak akan punya pikiran untuk bercinta dengan soulmate-nya sedekat apa pun mereka.

Oke. Coba kita lakukan test kecil. Ambil contoh… (aduh siapa ya, gak boleh sembarangan nih, takut dituntut hehehehe).

Misalkan baru berkenalan dengan seorang cewek yang sangat cantik, chic, dan seksi. What’s on your mind?

Kalau aku sih ya, aku pasti mikir “Hmmm, cakep juga ya…”

“Would it be nice to kiss her?”

“Would it be nice to take her home?”

Oh My God, berarti gue lesbian.

(How about you?)

Puisi Sue..

•Mei 12, 2009 • 2 Komentar

Sue tidak pandai bikin puisi, tapi ia ingin sekali menulis puisi.  Kadang ia begitu kagum dengan kepandaian Tee dalam menulis puisi.  Puisi-puisinya punya nyawa, bahkan kadang-kadang orang yang membacanya bisa berdesir-desir hatinya saat membaca puisi Tee, walau bukan ditujukan untuk mereka.  Demikian juga tulisan-tulisan Joy, punya daya tarik tersendiri.  Mereka berdua memang dianugrahi bakat menulis dan bakat penggoda yang luar biasa kuat..

Sebagai bagian dari 3P, mau tidak mau Sue harus belajar menulis dari mereka.  Secara Sue yang menarik tapi tidak begitu pandai nulis, ia kepengen juga menulis, paling tidak bikin puisi dululah, yang gak terlalu sulit.  Puisinya masih saduran sih.. tapi ada usaha dikitlah.. Puisi ini ia persembahkan untuk para L yang sedang menjadi L… bingung gak?  Pastinya bingung dong.. ya sudah makanya baca aja dan dilarang berkomentar.

Aku seorang L

Walau aku bukan seorang kapiten… karena aku baru jadi L (letnan.)
Itu bukan masalah…

Walau aku tidak punya pedang panjang…
tapi aku punya jari panjang  (baca: lentik)

Kalau aku berjalan
Lebai… Lebai…. Lebai…

Aku memang seorang L (ini baru L yang itu.. tuh…).
dan aku bangga menjadi L yang itu..

Ngeri gak sih puisinya?..

Kong Yat-Hung

•Mei 12, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Chinese tattoo by apawae.blogspot.com“What’s name?”, “Apalah artinya sebuah nama?” barangkali memang kiasan klise, tapi memang bagi sebagian besar orang, nama tetaplah harus berarti. Beberapa sahabat jika sudah  merasa dekat, maka mereka akan nyaman saja berbagi nama pemberian orang tunya dalam bahasa Cina dengan sahabat terdekat lainnya. Seperti juga salah seorang sahabat diri ini.  Setelah hampir 10 tahun bersahabat, maka mengalirlah nama aslinya yang menurut pendengaranku terdengar indah. Sayangnya secara etika tidak bisa diri ini bagi di sini…tapi alih-alih ingin berbagi cerita, maka namanya pun di buat seolah-olah nama tokoh dalam film So Close si Kong Yat-Hung, seorang polisi yang diperanin Karen Mok.
Nah begini kemudian ceritanya…. sejak diri ini diperkenalkan nama Kong Yat-Hung, maka nama itulah yang diri ini pakai sehari-hari tuk memanggilnya, bersms dengannya, bertelpon ria dengannya. “Wah kamu ternyata suka manggil namaku ini ya, ga pa-pa juga lho manggil keluargaku, Kong”, suatu saat dia berkomentar. “Tapi lebih pas Hung nya….karena kalo aku manggil Kong, imajiku jadi si King Kong” balas diri ini.
Anehnya, semenjak diri ini memanggilnya Hung, rasanya sms dan telepon jadi lebih mesra, uhmm aneh. Rupanya kami berdua merasakan hal yang sama. “Ini barangkali karena rasanya namamu jadi lebih seksi ya…” diri ini mengungkapkan rahasianya. “Huahahaha, bisa jadi….ga pa-palah kalo sekedar mesra di sms dan telpon, aku juga ngerasa dapat vitamin neh” ujarnya lagi dengan penuh bahagia.
Uhmm…ternyata efek perubahan pemanggilan nama, bisa juga terjadi. Sama hebohnya ketika kita sedang bercinta, saat seru-serunya…. tiba-tiba pasangan tidak sekedar  memanggil nama kecil kita, atau nama kesayangannya pada kita, namun memanggil nama panjang, resmi yang biasa dialamatkan pada kita saat di tempat kerja. Wow…apa yang terjadi? Bisa-bisa bayangan kita pun mendua, jadi teringat klien cantik, menarik, plus seksi yang memanggil nama kita, atau malah teringat boss galak yang sedang sangat super serius meminta kita menghadapnya…halah!
Kemudian di tengah kebengong-an dan kesibukan yang tidak jelas itulah, diri ini makin terhanyut dengan sms-sms si Yat-Hung yang terus hilir mudik.  Dari sapaan mesra dari seberang, sampai tiba-tiba sohib ini mulai bertanya-tanya hal-hal yang sangat pribadi…walah….. awalnya merasa enjoy, sekarang berasa menjadi artis yang sedang dikulik-kulik urusan ranjangnya.  Karena sudah makin menjurus menjurus, maka coba lah dibelok-belok-an arah pembicaraan, sampai-sampai kemudian Yat-Hung berganti haluan berkonsultasi soal seks…walah!
Kembali ke soal sensualitas sebuah nama, barangkali diri ini kategori berlebihan, tapi sungguh, mendengar sebuah nama bisa berasosiasi dengan sesuatu yang lain. Nama-nama asing di telinga dalam keseharian, bisa menjadi terdengar sangat eksotik dan memiliki daya tarik tersendiri. Jadilah diri ini sekarang menjadi lebih menikmati sms-an bersama Yat-Hung, berharap bisa makin sering mengucapkan namanya lewat jempol sms, dan nantinya bila sudah terbiasa, aroma sensualitasnya pun tak lagi terlalu menggoda……

Ratri M.

ghosty love

•Mei 7, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

 

ghostly love
I fall in love with a ghost
my body is chilling with sadness
when i miss her
I can never touch her cause
she’s formless
She only appears at night
when silence allow her to enter
with dark voices she sound sweet
I tried to murder her over
and over again
But that silence haunts me
like death
When every street and every turn
spells her name
I can even feel her in my coffee;
that always fail to cheer me before
it got cold
How many more hours I have to
spend haunted;
trapped inside a womb of ghostly love
waiting to give birth;
to yet another failure love story.

I  fall in love with a ghost

my body is chilling with sadness

when i miss her

I can never touch her cause

she’s formless

She only appears at night

when silence allow her to enter

with dark voices she sound sweet

 

I tried to murder her over

and over again

But that silence haunts me

like death

When every street and every turn

spells her name

I can even feel her in my coffee;

that always fail to cheer me before

it got cold

 

How many more hours I have to

spend haunted;

trapped inside a womb of ghosty love

waiting to give birth;

to yet another failure love story.

Perempuan Kerenn..

•Mei 5, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Pernah gak kamu ketemu dengan perempuan yang kerenn banget? Sue juga belum pernah hingga suatu hari ia bertemu dengan perempuan itu, di cafe yang belum pernah ia datangi, sendirian. Tanpa Joy dan Tee.

Adakalanya Sue butuh saat-saat menyendiri tanpa mereka berdua. Kadang kala berada di dekat mereka berdua membuat Sue gak bisa bernafas, bukan karena mereka bau. Malah sebaliknya mereka wangi dan menyegarkan, mengingat mereka berdua adalah eksekutif-eksekutif muda di perusahaan besar, ya pastilah mereka wangi. Yang bikin Sue gak bisa bernafas karena mereka berdua nakal. Mereka nakal dengan caranya masing-masing. Kadang-kadang Sue berpikir, apa jadinya jika ia melayani ’kenakalan’ mereka. Tapi tanpa kenakalan itu, apalah artinya menjadi perempuan penggoda… iya gak?

Mereka berdua memang perempuan-perempuan penggoda yang khusus dikirim untuk menggoda Sue, jadi Sue harus kuat mental dan tabah menghadapi mereka berdua. Ada baiknya juga Sue tidak memiliki otak yang canggih, jadi pada saat ia sadar kalau ia sedang digoda, Tee dan Joy sudah bosan dengannya dan sudah mencari sasaran lain yang bisa digoda. Biasanya kalau gak nemu, mereka berdua saling goda. Dan kalau mereka sudah saling goda, yang ada malah berantem dan marah-marahan. Soalnya gak ada yang mau ngalah, dua-duanya merasa penting untuk menjadi penggoda super. Walah..!

Untungnya hari ini Sue bisa terbebas dari mereka. Tee sedang meeting dengan direktur sebuah perusahaan media ternama, mulai sore tadi. Sementara Joy juga lagi ketemuan dengan para aktivis pembela perempuan di sebuah lembaga kajian perempuan. Tinggallah Sue yang sehari-hari kadang jadi penulis lepas, kadang gak jadi apa-apa, menjalani hari ini dengan mendatangi cafe yang sudah lama ia ingin datangi. Sebuah cafe kecil untuk minum kopi, di sudut selatan kota Jakarta. Ia berencana untuk mengamati orang-orang di cafe tersebut. Dan betapa senangnya berjumpa dengan perempuan yang kerenn ini.

Perempuan itu duduk sendirian di pojok belakang cafe dengan laptop putihnya. Tampaknya ia tidak menunggu siapapun. Penampilannya sebenarnya biasa saja, tapi entah aura apa yang memancar dari dirinya yang membuat Sue mau tidak mau memperhatikannya. Wajahnya memancarkan keteduhan dan tubuhnya seperti menyatu dengan sekitarnya. Ada rasa nyaman dengan dirinya sendiri. Rambutnya pendek, serasi dengan wajahnya yang manis. Kakinya panjang dan indah. Hmm.. menarik sekali perempuan ini. Sungguh pemandangan yang tiada tara.

Apakah ia L? Pastinya dia L. Apakah ia sudah punya pacar? Mungkin sudah, mengingat ia perempuan yang menarik. Berapakah umurnya? Sekitar usia matang dan mapanlah. Sue menebak-nebak sendiri dalam hati. Seandainya ia punya keberanian seperti Joy, pastilah perempuan itu sudah ia senyumi. Atau ia memiliki pandangan yang setajam Tee, pastinya ia bisa membuat perempuan itu menoleh padanya. Masalahnya ia tidak memiliki semua itu.. Jadi Sue hanya bisa melihat, sambil pura-pura tidak melihat.. kok malah ribet jadinya.

Pandangan Sue beralih ke betis perempuan itu. Waduhh… kalau ada Joy, pasti sudah banyak omongan yang akan keluar dari mulutnya mengenai perempuan yang menarik ini, ditambah betisnya yang indah dan tubuhnya yang semampai. Aduhhh…

Perempuan ini kerenn, pikir Sue. Ia pasti tipe yang asyik di ranjang dan bisa membangkitkan gairah. Nah lo.. kok pikirannya nyasar gitu. Tapi siapa sih yang tidak tergoda dengannya. Caranya mengangkat gelas, gerakan kepalanya, geliat tubuhnya, tatapan matanya, waduhh.. bikin hati gak keruan.

Sue mengamati perempuan itu kembali, laptop yang sudah dibukanya dari tadi belum juga ia gunakan. Tapi bukan Sue kalau ia tidak bisa narsis. Bahkan saat sendirianpun, ia bisa narsis.

Jadi siapakah perempuan yang kerenn itu?.. yah siapa lagi kalau bukan Sue yang sedang menggambarkan dirinya sendiri saat sedang sendirian di sebuah cafe.

Makanya jangan serius-serius baca tulisan ini. Udah tahu Sue jahil..

Sudah kerja lagi gih…

Piercing

•April 27, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

belly-piercing-by-commonswikimediaorgPiercing alias tindik memang jadi kebiasaan bagi beberapa manusia tertentu, di belahan dunia tertentu pula. Artinya pemberlakuan tindik kuping misal, sangat wajar dan jadi adat bagi sebagian besar anak perempuan di Indonesia. Di India ditambah dengan tindik hidung, plus antingnya tentunya:).

Sampai-sampai dulu si embok pembantu rumah tangga pas diri ini masih ingusan, selalu saja melihat jenis kelamin orang yang baru dikenalnya lewat ada tidaknya tindikan di telinga si tamu. Bayangkan kemudian, betapa bingungnya dia ketika trend tindik kuping diadopsi oleh kelompok seniman laki-laki, wajahnya jadi ragu ketika melihat seraut wajah ganteng berambut panjang, mengenakan anting di telinganya, tapi jelas-jelas dia lelaki.

Tindikan diberbagai tempat pun makin popular di tahun ’80-an. Jadi tak lagi cuma telinga dan hidung yang dimahkotai dengan permata dan hiasan. Daerah bibir, lidah, dekat pusar, bahkan area keintiman semacam penis dan vaginapun bertindik dan beranting. Untunglah bagian yang ini tidak perlu di amati si embok ku tadi.

Seorang teman yang hobi bertindik ria pun memberikan tips, katanya kenikmatan seksualnya bertambah bila lokasi tindiknya ini pas. Btw, meski di halaman ini barangkali tidak ada penikmat penis, namun jadi teringat cuplikan adegan film Hollywood The Sweeties Thing yang menggambarkan salah seorang cewek sedang beradegan oral dengan cowoknya yang beranting dibagian “itunya”, dan ternyata nyangkut, sehingga membutuhkan bantuan pemadam kebakaran, petugas medis, pendeta, rabbi, dan berderet orang lainnya.

Adegan konyol, namun cukup menggelikan dan tak terlupakan. Karena konyolnya itu! Soal tindik-menindik ini memang sungguh menakjubkan, maka diri ini pun masih punya obsesi untuk ditindik dan memasang anting di pusar, namun seperti biasa rasa takut akan sakitnya itu lho yang tidak terbayangkan.

Maklum sejak kecil merasakan betapa sakitnya tindikan di telinga. Sehingga ketika berkumpul dengan teman-teman yang memiliki tambahan segala lubang diberbagai tubuhnya, diri ini selalu takjub, ternganga, penuh tanya: “sakit ga sih?”. Dan variasi jawabannya pun beragam: “sakit lah”, “Biasa Aja”, “Sama sekali gak kerasa”, “sakit? Apa tuh?” (pasti yang jawab seperti ini habis minum obat penghilang ingatan).

Namun yang jelas, jawaban sakit memang lebih masuk akal untuk diri ini, karena pernah mengalami sendiri. Pedihnya, seperti tersengat semut merah, belum lagi kalau nanti infeksi, hehehehe, segala kegerian yang dibayangkan sendiri. Nah seperti biasanya, karena tidak bisa menindik diri sendiri di bagian pusar, maka diri ini jadi sangat menikmati pemandangan pusar perempuan yang bertindik dan beranting, duh cantiknya. Uhmmm, seksinya……Meski ada tambahan kecil dan lirih, duh sakitnya…..

Ratri M.

a sad sunday

•April 26, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

aku tidak akan menangis lagi

meski hatiku hancur

kamu bukan malaikat

dan aku bukan masokis

 

mengapa aku masih menunggu

daun-daun gugur bercerita tentang

cinta yang tak pernah ada

 

meski aku, sama seperti mereka

mengirim lagu-lagu cinta

aku tidak ingin bait-bait celaka

ini mengajarimu tentang hidup

 

cinta satu-satunya hal di dunia

yang terlalu dielu-elu

dan terlalu sederhana;

dia tidak sama dengan apa yang

kurasakan padamu; sesuatu yang

rumit

 

mereka bilang cinta tidak harus

memiliki; memiliki apa?

ketika telah kaumiliki

semuanya; segenap hatiku

sejak pertama.

Gara-Gara Betis Ken Dedes

•April 24, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

beatiful-legs-by-wwwistockphotocomWoa…pasti betis Ken Dedes tak terbayangkan Indahnya….bayangkan saja, karena kemulusannya, keindahannya, Ken Arok, seorang prajurit kelas rendahan, pengawal raja, nekad membunuh sang raja – Tunggul Ametung. Bayangkan, pasti luar biasanya betis Ken Dendes. Diri ini yang masuk dalam kategori penikmat pemandangan betis perempuan lalu mendengar lanjutan hikayat Ken Dendes dan Ken Arok. Katanya, “Alkisah, Ken Dedes yang cantik jelita sedang mencuci kakinya di kolam ….”. Uhmm, jadi mikir, kenapa ya Ken Dedes sebagai ratu –istri Raja Tunggul Ametung tadi, kok kurang kerjaan, keluar dari kamar, menuju kolam hanya untuk cuci kaki?? Ya pastinya karena bosen ngelingker di kamar mulu kali ya. So jadilah, si Ken Arok yang kebetulan lewat tuh kolam jadi tersepona alias terpesona dengan keelokan betis kaki. Bayangin, hanya melihat kakinya, plus sampe betisnya saja, bisa kleper-kleper.
Tapi kalau dipikir-pikir memang sudah jodoh dari sananya-lah Ken Arok dan Ken Dedes, secara nama saja sudah sama-sama ber awalan dengan KEN, coba nama Tunggul Ametung di  awali dengan Ken menjadi Ken Ametung, uhmm,….kenametung, kena pentung…. Anyway, busway, begitulah alkisah tadi digariskan. Yang mengerikan tentu saja kemudian kisah kerajaan Tumapel ini menjadi sebuah kisah panjang penuh darah, saling berbalas dendam, pembunuhan tak berkesudahan, yang mengerikan. Dan awalnya dimulai dari betis Ken Dedes tadi, yah begitu kan katanya… karena bisa jadi ini kan hikayat yang didramatisir. Rasanya sangat tidak mungkin seorang Ken Arok yang kemudian menjadi raja, dikisahkan jatuh cinta pada Ken Dedes saat mengintip Ken Dedes yang sedang main congklak dengan para dayang di halaman rumah, jadi lebih masuk akal kalau adegan betis ini ditulis oleh para sejarawan kerajaan.
Sejarah kerajaan seluruh raja-raja dunia kan memang dibuat sesuai pesanan para raja. Jadi begitulah indahnya betis Ken Dedes ini dideskripsikan dengan penuh bunga keindahan.  Sama juga dengan kegemaran para penulis yang melebih-lebihkan keindahan betis orang-orang yang dilihatnya. Masuk akal juga bila kemudian diri ini menjadi penikmat pemandangan betis perempuan lain, secara diri ini bula berkaca, atau menatap betis milik sendiri, seolah mengamati  ubi talas super asal bogor, yang jelas besar, kekar, dan bertotol-totol. Maklum dulu pernah alih profesi sebagai penarik becak dalam kurun waktu sekian tahun. Masa-masa sekolah menengah yang menyenangkan.
Hanya saja anehnya, kalo sedang melihat olahragawati pebulutangkis, petenis, or perenang sedang berlaga, urusan betis tidak pernah menjadi perhatian. Tapi kalau sudah di kehidupan keseharian, maka bagian ini bisa menarik perhatian. Sampai-sampai teringat sebuah pertemuan makan siang dengan seorang sahabat perempuan yang juga teman main badminton,  setelah bertahu-tahun bersahabat, belum lama ini diri baru menyadari, betisnya juga cantik di pandang mata. Maklum hari itu dia mengenakan rok kerjanya yang cantik, sayangnya pemandangan ini baru tertangkap di kejauhan setelah berpisah, walah, telat!

Ratri M.
PS: Sorry ya sahabatku, yang yygnya sahabat ini….heheheheh, aku cuma dikittttt and bentar kok ngeliriknya, dun worielah…(pssttt, tapi aku prefer betis yygku kok hehehehe).

things

•April 24, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

i need to know
how you smell when you sweat
and how your breast would fit my hand

I don’t talk about love
I talk about how my presence would
effect your well-being;
whether my smile can do
to make you better
or do you still think I’m sexy
wearing that old ugly sweater of mine

i need to know
how you feel when it’s raining
what you say about politics and sins
and most importantly
how you see yourself
and us in the future

I don’t talk about love
I talk about how we view
money, job, and friends
how you would fit my world

i need to know
how far you’d go to save me
and how much you can stand
when i’m really bad