Perempuan Lain

•November 18, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Menyenangkan gak sih rasanya kalau dijatuhi cinta? Pasti lebih menyenangkan daripada dijatuhi tahi cicak. Cinta gitu deh. Siapa yang nolak? Apalagi kalau yang menjatuhi cinta orang yang sesuai dengan tipe kita dan punya nilai di atas rata-rata perempuan pada umumnya. Hmm… pasti sejuta rasanya kan? ditambah lagi kita juga punya ’klik-klik’ yang sama… waduh pasti makin asyik.. Masalah akan muncul, jika ternyata kita sudah punya cinta yang lain. Nah loh!

Ini yang lagi dialami Tee dan Joy. Pada saat yang bersamaan mereka sedang dekat dengan perempuan lain, gbt (gebetan) istilah mereka. Entah apa artinya gebetan itu. Tapi kata Sue, gebetan itu sejenis korek api. Yang kalau diklik bisa kebakar sendiri.. Ngerti gak? Gak ya? Hmm.. maksudnya geretan… Norak n garing.

Gebetan Joy sepuluh tahun lebih muda dari Joy. Dari cerita Joy, gebetannya ini pintar dan orangnya juga oke, manis seperti gula jawa. Sudah gitu omongannya juga nyambung dengan gaya Joy yang seorang aktivitis. Dengan segala idealisme dan istilah-istilah per-aktivis-an. Jadilah mereka semakin dekat, dari waktu ke waktu.

Sue dan Tee kenal dengan gebetan Joy, mereka juga suka ngompor-ngomporin Joy. Sebagai orang yang sangat ekspresif Joy memang suka banget menceritakan tentang gbt-nya ini. Beda dengan Tee yang punya gbt cuma untuk diri sendiri. Ngasih tahu sih ke 3P yang lain, tapi dikitttt banget.. sampai gak berasa kalau dia juga punya gbt. Kalau ngomongin gbt Tee, seperti ngomongin agen rahasia. Sudah ngomongnya bisik-bisik, yang diceritain juga gak banyak. Bikin cape badan doang. Sue yakin gebetan Tee memang mata-mata.

Sekali waktu gebetan Joy diajak ngumpul bareng 3P. Dalam impresi pertama, Tee langsung tahu kalau gbt Joy memang suka sama Joy.

”Tangannya itu lho, ramah sekali ke elo,” kata Tee saat mereka berkumpul di markas 3P. Yang dinamakan markas adalah tempat nongkrong mereka di sebuah cafe kecil, diantara deretan toko-toko dan rumah makan yang tidak terlalu ramai, di selatan kota Jakarta.

”Iya, Joy.. tangannya sering banget nyentuh-nyentuh elu.. bahkan setiap kali bicara ada kali tuh tangan lari-lari ke bahu, paha, lengan kayaknya manfaatin banget deh,” Sue membenarkan pengamatan Tee. ”Iya.. memang gue juga merasakannya,” kata Joy kalem.

”Terus elu sudah tahu belum orientasinya?” Memang dia seperti kita?” tanya Sue.

”Gak tahu. Radar gw bilang iya.. tapi sepertinya masih setengah-setengah.” ”halah..”, terdengar suara Tee mengomel. “kalau masih setengah-setengah susahlah.. mau diapa-apain ntar lebih banyak nanyanya. Mau ditiduri, mesti pake adat istiadat sgala. Susahlah..”

“gitu ya..,” kata Sue setengah bertanya. Sepertinya Tee juga punya banyak pengalaman dengan dunia per-gebetan ini.

”Itulah tantangannya. Gimana caranya supaya tahu bahwa dia L dan tidak sakit hati kalau gue tinggal,” kata Joy masih dengan kalem.

”Lagian gue juga penasaran.. kayaknya dia juga pengen coba-coba doang,” lanjut Joy lagi.

”Tancap aja, Joy, ”Kata Sue sambil makan keripik singkongnya. Hmm.. enak juga keripik singkong.

”Tancap-tancap.. emang mobil!”

”Iya tancap pake jari…,” lanjut Sue. Gila emang nih Sue.

”Maksud gue jangan lama-lama mainnya, kalau gak mau serius. Kan siapa tahu aja dia juga cuma pengen tahu rasanya dicium perempuan, kasih aja, sudah gitu elu lari.. Abis lari sepah dibuang, gitu kan peribahasanya,” lanjut Sue lagi, kayaknya dia memang gak pernah mikir kalau ngomong.

”Terus kalau dia ketagihan? Minta lagi, gimana?” Tee balik bertanya ke Sue.

“Hmm, kita gilir aja,” lanjut Sue dengan tampang serius.

“Geblek..,” suara Joy membalas Sue. “Yang geblek siapa? Bukannya dari awal juga sudah geblek,” Sue nimpalin lagi.

 

Mungkin kata gebetan muncul dari kata geblek. Baik yang menggebet dan yang mau digebet.. sama-sama geblek. Harusnya jadi geblekan ya.. kok jadinya gebetan.. atau ulekan aja? Asyik juga buat nimpuk gebetan.

Udah ah.

Dahh.

di tempat aku menunggumu

•September 18, 2009 • & Komentar
di tempat aku menunggumu
Di tempat aku menunggumu
ada enam meja
dan dua puluh kursi
yang semuanya kosong.
Ada tulisan di atas meja:
Yth Bapak/Ibu, terima kasih untuk
tidak duduk di sini kecuali tamu,
tapi aku tetap duduk.
Ya, abis gimana mau jadi tamu, wong
cafe-nya sudah tutup.
Yang tersisa hanya sebuah bar senyap;
satpam dan cleaning service yang mengobrol
tentang NU atau Muhammadiyah dan kapan lebaran
di depan kaca gedung memperlihatkan
gerakan Jakarta sehabis maghrib;
bergerak lancar. Tanda hari
sudah malam. Satu per satu
mbak-mbak kantoran berpamitan.
Bedak dan gincu telah dipoleskan,
siap menunggu jemputan dan
menyongsong malam.
Di tempat aku menunggumu
lampu pun mulai dipadamkan.
Aku bertanya-tanya… berapa lama lagi
kamu akan datang?
Waktu merangkak sepelan cicak
di sela putaran kipas angin
tua yang melambat.
ngek, ngok, ngek, ngok
Membuatku teringat penari darwish yang
lelah.
Dan bila kamu akhirnya datang
apakah mukamu berseri
atau kelelahan?
Sehabis bertarung untuk kehidupan,
apakah periku akan berubah menjadi monster malam?
Aku pun membayangkan seorang
gadis kecil yang duduk di taman
setangkai bunga di tangannya
helai demi helai dilepasnya
sambil menghitung dengan gelisah
“He loves me”
“He loves me not”
“He loves me”
“He loves me not.”

Di tempat aku menunggumu

ada enam meja

dan dua puluh kursi

yang semuanya kosong.

Ada tulisan di atas meja:

Yth Bapak/Ibu, terima kasih untuk

tidak duduk di sini kecuali tamu,

tapi aku tetap duduk.

Ya, abis gimana mau jadi tamu, wong

cafe-nya sudah tutup.

Yang tersisa hanya sebuah bar senyap;

satpam dan cleaning service yang mengobrol

tentang NU atau Muhammadiyah dan kapan lebaran

di depan kaca gedung memperlihatkan

gerakan Jakarta sehabis maghrib;

bergerak lancar. Tanda hari

sudah malam. Satu per satu

mbak-mbak kantoran berpamitan.

Bedak dan gincu telah dipoleskan,

siap menunggu jemputan dan

menyongsong malam.

Di tempat aku menunggumu

lampu pun mulai dipadamkan.

Aku bertanya-tanya… berapa lama lagi

kamu akan datang?

Waktu merangkak sepelan cicak

di sela putaran kipas angin

tua yang melambat.

ngek, ngok, ngek, ngok

Membuatku teringat penari darwish yang

lelah.

Dan bila kamu akhirnya datang

apakah mukamu berseri

atau kelelahan?

Sehabis bertarung untuk kehidupan,

apakah periku akan berubah menjadi monster malam?

Aku pun membayangkan seorang

gadis kecil yang duduk di taman

setangkai bunga di tangannya

helai demi helai dilepasnya

sambil menghitung dengan gelisah

“He loves me”

“He loves me not”

“He loves me”

“He loves me not.”

“He loves me…”

i miss you but

•September 16, 2009 • & Komentar
i miss you but
i miss you, really. But
sorry, not this one
Can you promise me
that when you see me
you’re going to be nice?
to think of our last
encounter is unbearable
you tried to eat me.
and push me.
your face was grim
like a funeral house
i miss that little lady
who cheer me up
who kills me with a smile
and poison me with dreams
i miss you, yes indeed. But
wait, I’m not sure it’s you
Maybe it’s just a
ghost (again).

i miss you, really. But

sorry, not this one

Can you promise me

that when you see me

you’re going to be nice?

to think of our last

encounter is unbearable

you tried to eat me.

and push me.

your face was grim

like a funeral house

i miss that little lady

who cheer me up

who kills me with a smile

and poison me with dreams

i miss you, yes indeed. But

wait, I’m not sure it’s you

Maybe it’s just a

ghost (again).

Ellen DeGeneres Terpilih jadi Juri American Idol, Now, that’s Interesting!

•September 10, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Dikutip dari Americanidol.com:

September 9, 2009 | 05:51 pm PT
Ellen DeGeneres Joins American Idol as Fourth Judge

Emmy Award-winning talk show hostEllen DeGeneres has joined American Idol as the new fourth judge sitting alongside Simon Cowell,Randy Jackson, and Kara DioGuardi. As the new judge, Ellen will offer her own unique perspective to the contestants throughout the competition. Season 9 will premiere this January.

Guest judges during Season 9 auditions include Victoria Beckham, Mary J. Blige, Kristin Chenoweth, Joe Jonas, Neil Patrick Harris, Avril LavigneKaty Perry, and Shania Twain. Ellen will take her seat at the judges’ table after the audition rounds commence.

Upon becoming the fourth judge on the number one show, Ellen said, “I’m thrilled to be the new judge on American Idol. I’ve watched since the beginning, and I’ve always been a huge fan. So getting this job is a dream come true, and think of all the money I’ll save from not having to text my vote.”

American Idol’s creator and executive producer, Simon Fuller, is equally as thrilled. “I could not be more excited to have Ellen join the American Idol family. Ellen has been a fan of the show for many years, and her love of music and understanding of the American public will bring a unique human touch to our judging panel. I can’t wait for this next season to begin.”

Executive producer Cecile Frot-Coutaz added, “We’re all delighted to have Ellen join our ninth season of American Idol. Beyond her incredible sense of humor and love of music, she brings with her an immense warmth and compassion that is almost palpable. She is one of America’s foremost entertainers, and we cannot wait to have her join our team.”

Mike Darnell, President of Alternative Entertainment for FOX stated, “We are thrilled to have Ellen DeGeneres join the American Idol judges’ table this season. She is truly one of America’s funniest people and a fantastic performer who understands what it’s like to stand up in front of audiences and entertain them every day. We feel that her vast entertainment experience – combined with her quick wit and passion for music – will add a fresh new energy to the show.”

A beloved television icon and entertainment pioneer, Ellen’s distinctive comic voice has resonated with audiences from her first stand-up comedy appearances through her work today on television, in film and in the literary world. DeGeneres has made a home for herself in the daytime arena with her hit syndicated talk show, “The Ellen DeGeneres Show.” The show, now entering its seventh season, won the Daytime Emmy for Outstanding Talk Show Host four years in a row and has earned a total of 29 Daytime Emmy Awards.

Recently, Ellen was included in Forbes’ Top 5 “Most Influential Women in Media” and was voted “Best Daytime Talk-Show Host” by Parade.com readers. In addition, she has been voted “Favorite TV Personality” by The Harris Poll’s annual favorite television star list, beating out Oprah Winfrey and Jay Leno. Ellen was included in MSNBC’s “Power players who shape your TV habits.” Ellen was also honored with Television Week’s Syndication Personality of the Year and voted No. 1 in Oxygen’s “50 Funniest Women Alive” special in the company of such comedic legends as Carol Burnett and Lily Tomlin and has been included in TIME’s 100 Most Influential People.

Ellen had the honor of hosting the highly rated 79th Annual Academy Awards and was nominated for a Primetime Emmy Award for Outstanding Individual Performance In A Variety or Music Program. This follows her 2005 stint hosting the Primetime Emmy Awards, which marked her third time hosting the show. Her performance hosting the 2001 award show garnered her rave reviews for providing a perfect balance of wit with heartfelt emotion to the post-September 11 telecast audience. Ellen won an American Comedy Award for her inaugural effort hosting the show in 1994. Additionally, Ellen co-hosted American Idol’s very successful Idol Gives Back special that raised money for children in extreme poverty in America and Africa.

Ellen’s career began as an emcee at a local comedy club in her hometown of New Orleans, which led to national recognition in 1982 when her videotaped club performances won Showtime’s “Funniest Person In America” honor. DeGeneres began her acting career in television on the FOX sitcom “Open House.” She moved on to ABC’s “Laurie Hill,” prior to being offered a part on “These Friends of Mine” by ABC. After the first season, the show was renamed “Ellen.”  Running from 1994 to 1998, the show garnered record ratings, with Ellen receiving Emmy nominations each season in the Best Actress category. In 1997, Ellen was the recipient of the coveted Peabody Award as well as earning an Emmy for writing the critically acclaimed “Puppy Episode” when her character came out as a gay woman to a record 46 million viewers.

Both on and off screen, Ellen’s humanitarian efforts take center stage. She is passionate about bringing awareness to the people of New Orleans, her hometown, which was devastated by Hurricane Katrina and her efforts have resulted in “The Ellen DeGeneres Show” raising over $10 million to improve the lives of New Orleans residents. Overall, “The Ellen DeGeneres Show” has raised over $50 million and brought attention to various causes, including global warming and animals. Additionally, Ellen continues to raise awareness about breast cancer, and served as spokesperson for General Mills’ breast cancer awareness initiative, Pink for the Cure, and hosted special episodes of her show to mark Breast Cancer Awareness Month.

Since she was first nationally recognized in 1982 as a comedian in New Orleans, Ellen’s many contributions to the entertainment industry have earned her numerous accolades including a Golden Apple Award as Female Discovery of the Year from the Hollywood Women’s Press Club; a Lucy Award honoring women in Television and Film, as well as an Amnesty International Award.

We’d like to welcome Ellen DeGeneres to the American Idol family!

my haiku for a friend who’s in LDR

•September 9, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar
the monitor is staring blankly at me,
while I wait for you,
today has turned into tomorrow again.

the monitor is staring blankly at me,

while I wait for you,

today has turned into tomorrow again.

Love

•September 8, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

love101k

There are times I really love you

That’s when you know the real me

Mengapa Kita Butuh Suami?

•September 7, 2009 • & Komentar

Ada beberapa alasan—atau fungsi—suami, seandainya nanti gue sampai memutuskan untuk menikah. Prokreasi sepertinya bukan alasan buat gue, secara gue gak punya apa-apa untuk diwariskan. Alasan common lainnya misalnya menikah untuk status, saat ini gue belum terdesak-terdesak amat untuk mempertimbangkannya. Untuk sex, well, saat ini sudah cukup puas sih tanpa perlu adanya p***s.

So… andai nanti gue akan menikah, berikut ini kira-kira alasan gue dan kira-kira suami gue akan difungsikan terutama dalam hal apa:

1. Gue gak suka ke bengkel. Setiap harus ada urusan ke bengkel gue mulai bingung. Dan gue selalu menunggu sampai batas akhir banget, sampai kepepet dan terpaksa gue baru deh datang ke bengkel. Dan selalu orang-orang bengkel menatap gue dengan tatapan aneh karena mereka jarang atau gak pernah kali liat cewek secantik gue ke bengkel sendirian (hahaha ngarep mode on). Selain itu gue juga gak ngerti sama sekali urusan mesin-mesin gini, dan gak pernah mau belajar. Sama halnya gue selalu nyasar dan butuh navigasi, dan dalam hal ini gue gak pernah maju-maju. Makanya gue berharap suami gue yang ngurusin semua urusan perbengkelan jadi gue tinggal pake mobilnya aja.

2. Gue udah bosen kondangan sendirian. Kalau bawa partner kayaknya gak mungkin, jadi mostly gue selalu kondangan sendiri. Itu pun akhirnya gue batasi untuk undangan temen-temen deket aja, yang gak mungkin gue tolak. Kalau dulu, masih bisa bawa temen-temen deket cowok, minta dianterin, tapi makin ke sini, teman-teman makin sedikit, mereka entah udah menikah atau udah punya pacar, lah apa kata istri/pacar mereka kalau mereka nganterin gue kondangan? Nah kalau punya suami kan gak perlu bingung lagi setiap ada acara-acara resmi kayak gini…

3. Kalau punya suami/keluarga, bisa dapat tunjangan yang lebih banyak dari kantor. Banyak perusahaan yang memberikan tunjangan untuk suami/keluarga. Tidak mungkin untuk partner kan? Dan kita juga bisa minta ijin tidak masuk karena suami sakit, atau bahkan suami cuti (jadi bisa ikutan liburan sekalian). Untuk partner, yah gak mungkin kali ya.

Hmmmm… Apa lagi ya alasannya? Ada yang mau nambahin? Kok kayaknya semuanya gak ada yang serius? :D Yah biar aja deh. Kalau untuk alasan menjalankan tugas agama, kayaknya gue juga gak terlalu religius. Untuk alasan finansial juga saat ini belum terdesak-terdesak amat. So… yah, untuk sementara, those are the reasons I can think of, mungkin karena kontext saat ini juga sih. Who knows besok-besok keadaan berubah dan juga pastinya gue akan punya alasan yang berbeda.

Who knows.

Another Earthquake

•September 3, 2009 • & Komentar
Another Earthquake
Kemarin, telah terjadi gempa. Cukup dahsyat untuk membuat Jakarta bergoyang. Goyangannya memabukkan. Getarannya cukup lama, seperti orgasme yang panjang. Mustahil untuk tidak merasakannya. Hampir seluruh Jakarta bergetar. Kaca-kaca pecah. Orang-orang pun berhamburan keluar. Para kekasih mengeluarkan handphone. Saat itulah kita tahu siapa yang paling penting. Ada yang lupa menelepon orangtuanya, bahkan lupa menelepon suaminya, tapi malah menelepon pacarnya.
Saat sebuah bencana, saatnya menunjukkan kasih sayang. Berapa banyak pasangan yang setelah syok gempa pada siang hari, pada malam harinya saling memeluk dan berkasih-kasihan, yang berujung pada terjadinya sebuah gempa yang lain?
Gempa yang ini terjadi di dalam tubuh, gemuruhnya sangat kencang, bagaikan ledakan besar yang melunturkan tebing-tebing gunung. Suara dari dalam ini hanya diketahui alam, dan telah dirahasiakannya selama bertahun-tahun dariku.
Sebelum merasakannya sendiri, aku benar-benar tidak tahu. Bahwa sesungguhnya tubuhku membawa beberapa bom (bukan bom bunuh diri) yang dapat meledak bila dinyalakan. Ledakan ini begitu dahsyat sehingga tidak bisa diceritakan ataupun digambarkan. Hanya bisa dirasakan.
Seusai semua gemuruh itu, kemudian yang keluar adalah desahan. Suara inilah yang sering disebut orang suara terindah di dunia. Padahal, setelah kamu mengetahui rahasianya, sesungguhnya, orgasme bukanlah soal desahan itu. Desahan bisa dipalsukan. Banyak yang bisa melakukan fake orgasme. Tapi ledakan atau gempa yang satu itu, tidak ada yang bisa menipu.
Seperti halnya gempa bumi, gempa tubuh juga menyisakan perasaan mabuk. Setelah merasa bergoyang-goyang padahal tidak sedang naik kapal, aku pun tiba-tiba teringat pada gempa yang lain itu. Pikiran yang sangat aneh. Aku tidak berani menceritakannya pada siapapun. Apakah ada yang merasa seperti aku? Sepuluh tahun yang lalu ketika aku masih berada dalam masa kegelapan sex, tidak akan terpikirkan olehku pikiran seperti ini.
Kupikir orgame adalah tentang Uh-oh-uh-oh, tapi ternyata orgasme lebih cocok dilukiskan dengan Duarrrrrrrrrr…. barangkali begitu.
But, maybe it’s just me. Gak tahu deh.
How about you? Kalau kamu belum tahu rasanya, well, dulu aku juga seperti kamu kok. Aku pernah mengalami masa sex tanpa orgasme. Kemesraan tanpa puncak. Appettizer tanpa main course. Jalan tiada ujung. Dan aku bisa hidup dengan itu. Aku bisa menerima itu. Setelah lelah mencoba, aku sampai pada kenyataan bahwa sex tidak harus sama dengan orgasme. Namun, itulah dulu. Itu yang kusebut dengan masa kegelapan sex dan hal itu tidak perlu dibahas lagi. Suatu saat kamu pun akan menemukan rahasianya. Dan ternyata rahasia itu bukan terletak pada pasanganmu. Jawabannya harus dicari dari dalam dirimu sendiri.
Setelah beberapa saat berayun-ayun di atas bumi Jakarta yang berguncang, aku pun merasa sedikit mabuk. Apakah tadi aku baru saja merasakan gempa bumi, atau aku hanya baru saja jatuh cinta?

gempa

Kemarin, telah terjadi gempa. Cukup dahsyat untuk membuat Jakarta bergoyang. Goyangannya memabukkan. Getarannya cukup lama, seperti orgasme yang panjang. Mustahil untuk tidak merasakannya. Hampir seluruh Jakarta bergetar. Kaca-kaca pecah. Orang-orang pun berhamburan keluar. Para kekasih mengeluarkan handphone. Saat itulah kita tahu siapa yang paling penting. Ada yang lupa menelepon orangtuanya, bahkan lupa menelepon suaminya, tapi malah menelepon pacarnya.

Saat sebuah bencana, saatnya menunjukkan kasih sayang. Berapa banyak pasangan yang setelah syok gempa pada siang hari, pada malam harinya saling memeluk dan berkasih-kasihan, yang berujung pada terjadinya sebuah gempa yang lain?

Gempa yang ini terjadi di dalam tubuh, gemuruhnya sangat kencang, bagaikan ledakan besar yang melunturkan tebing-tebing gunung. Suara dari dalam ini hanya diketahui alam, dan telah dirahasiakannya selama bertahun-tahun dariku.

Sebelum merasakannya sendiri, aku benar-benar tidak tahu. Bahwa sesungguhnya tubuhku membawa beberapa bom (bukan bom bunuh diri) yang dapat meledak bila dinyalakan. Ledakan ini begitu dahsyat sehingga tidak bisa diceritakan ataupun digambarkan. Hanya bisa dirasakan.

Seusai semua gemuruh itu, kemudian yang keluar adalah desahan. Suara inilah yang sering disebut orang suara terindah di dunia. Padahal, setelah kamu mengetahui rahasianya, sesungguhnya, orgasme bukanlah soal desahan itu. Desahan bisa dipalsukan. Banyak yang bisa melakukan fake orgasme. Tapi ledakan atau gempa yang satu itu, tidak ada yang bisa menipu.

Seperti halnya gempa bumi, gempa tubuh juga menyisakan perasaan mabuk. Setelah merasa bergoyang-goyang padahal tidak sedang naik kapal, aku pun tiba-tiba teringat pada gempa yang lain itu. Pikiran yang sangat aneh. Aku tidak berani menceritakannya pada siapapun. Apakah ada yang merasa seperti aku? Sepuluh tahun yang lalu ketika aku masih berada dalam masa kegelapan sex, tidak akan terpikirkan olehku pikiran seperti ini.

Kupikir orgame adalah tentang Uh-oh-uh-oh, tapi ternyata orgasme lebih cocok dilukiskan dengan Duarrrrrrrrrr…. barangkali begitu.

But, maybe it’s just me. Gak tahu deh.

How about you? Kalau kamu belum tahu rasanya, well, dulu aku juga seperti kamu kok. Aku pernah mengalami masa sex tanpa orgasme. Kemesraan tanpa puncak. Appettizer tanpa main course. Jalan tiada ujung. Dan aku bisa hidup dengan itu. Aku bisa menerima itu. Setelah lelah mencoba, aku sampai pada kenyataan bahwa sex tidak harus sama dengan orgasme. Namun, itulah dulu. Itu yang kusebut dengan masa kegelapan sex dan hal itu tidak perlu dibahas lagi. Suatu saat kamu pun akan menemukan rahasianya. Dan ternyata rahasia itu bukan terletak pada pasanganmu. Jawabannya harus dicari dari dalam dirimu sendiri.

Setelah beberapa saat berayun-ayun di atas bumi Jakarta yang berguncang, aku pun merasa sedikit mabuk. Apakah tadi aku baru saja merasakan gempa bumi, atau aku hanya baru saja jatuh cinta?

Comfort Zone

•September 2, 2009 • & Komentar

Comfort-ZoneComfort zone adalah wilayah yang dulu kita kejar, dan menjadi sesuatu yang berbahaya ketika sudah lama kita dapatkan. Hal ini ternyata berlaku untuk segala urusan, termasuk urusan cinta.

Dulu kita mengejar-ngejar dia, sang gebetan yang menarik dari segala sisi, yang gemerlapan karena tidak terraih, yang penuh misteri karena belum kita kenal. Kondisi ideal yang kita kejar adalah memilikinya. Mengenalinya sepenuhnya. Mengisi hari-hari bersamanya. Menyatukan dunia kita dengan dunianya. Sebelum mendapatkan tujuan  tersebut, kita pun dalam kondisi gelisah berkepanjangan. Bukankah yang kita inginkan adalah kenyamanan?

Namun setelah lama mendapatkan kenyamanan itu, perasaan hampa mulai hinggap. Bagaikan dalam sebuah karir yang stuck, hubungan pun bisa stuck, seolah tidak bisa dibawa ke mana-mana. Inilah comfort zone yang berbahaya.

Banyak hubungan yang tanpa sadar mencari pelarian dari comfort zone itu dengan memasukkan tantangan-tantangan baru ataupun pengalihan dalam bentuk lain. Ada yang bilang malah, bahwa selingkuh itu bagus. Sedikit selingan agar hubungan makin langgeng, makin lengket.

Iseng-iseng bermain kata, selingkuh mungkin cocok disebut distraction. Distraction dalam bahasa Inggris bisa berarti sesuatu yang mengganggu, mengalihkan perhatian, bisa juga berarti selingan. Dalam bahasa Perancis bahkan kata ini berkonotasi positif, seperti hiburan.

Berdua terus-menerus adalah comfort zone yang menakutkan. Bila dipaksakan bisa menimbulkan ketegangan, bahkan kebencian. Anak-anak hadir dalam hubungan heteroseksual sebagai distraction. Gangguan, selingan, hiburan, sekaligus tantangan dan perhatian baru. Hubungan heteroseksual yang diikat dalam pernikahan juga bukan lagi hanya urusan berdua, tetapi menjadi banyak melibatkan orang lain, seperti keluarga, tetangga, rekan kerja dan lain-lain. Hubungan seperti itu biasanya membuka terhadap masuknya banyak gangguan atau distraction tadi.

Sementara dalam hubungan homoseksual, terlebih lagi dalam hubungan yang amat tertutup, keberadaan gangguan-gangguan positif itu tidak ada. Yang ada malah gangguan yang bersifat lebih negatif, yang berpotensi selingkuh tadi. Tulisan ini tidak akan membahas soal selingkuh, karena kalau membahas selingkuh ya judulnya bukan lagi comfort zone, tapi selingkuh dong… Kembali lagi ke judul/topik, anyway, tulisan ini hanya ingin melukiskan bahwa, kenyamanan yang kalian kejar-kejar itu, bukanlah akhir segalanya. Malah menjadi awal dari pengejaran baru yang terus-menerus, bagaikan lingkaran setan yang tidak pernah selesai.

Itulah sebabnya saya selalu mengatakan cinta terlarang adalah satu-satunya cinta yang romantis. Romeo dan Juliet adalah cinta terlarang, bukan? Mencintai seseorang yang tidak boleh kita cintai. Mencintai seseorang yang jauh. Mencintai seseorang yang tidak direstui orangtua. Mencintai seseorang yang tidak direstui pacarnya (ya iyalah). Berdasarkan teori saya ini, maka orang-orang yang terlibat LDR, backstreet, dan perselingkuhan seharusnya lebih bahagia.

Mungkin kita memang membutuhkan kegelisahan lebih dari kenyamanan? Kita mengira kita mengejar kenyamanan, namun sebenarnya kita lebih bahagia dalam kondisi gelisah berkepanjangan ketika kenyamanan itu belum kita dapatkan.

Menjadi Lesbian di era Internet

•Juni 22, 2009 • & Komentar

Menjadi lesbian di era internet bagaikan terjebak dalam sebuah maze yang sangat rumit. Kita yang grow up di era pra-internet dan sudah dewasa pada masa sekarang mungkin mengira, Oh enak ya anak zaman sekarang, banyak informasi yang mudah didapat, jauh lebih mudah mencari teman, tapi hey, tunggu dulu. Sepertinya tidak sesederhana itu.

Bila dulu kita ketika beranjak dewasa dan mencari informasi tentang seksualitas kita, kita bisa diumpamakan bagaikan masuk sebuah hutan yang gelap, tidak ada penerangan sedikit pun, hingga kita bertemu dengan sebuah titik terang, yang mengantar kita pada hanya sebuah atau dua buah jalan kecil saja.

Sekarang, untuk anak-anak era digital ini, ibaratnya mereka baru lahir saja sudah banyak sekali informasi di sekitar mereka. Mereka mungkin dalam kondisi yang belum siap ketika banjir informasi menerpa mereka. Mereka bahkan mungkin tidak perlu mencari, informasi mengepung mereka dari segala arah dengan segala kemudahan yang ada. Jadi,
bila diumpamakan, mereka seperti berada dalam sebuah tempat yang terang (bukan hutan yang gelap seperti kita) tetapi jalan yang di hadapan mereka sangat-sangat banyak, dan bahkan melilit mengepung mereka, bagaikan sebuah maze.

Sungguh kacau kondisi kebanjiran informasi ini, karena semua orang bisa menulis. Informasi yang terakses oleh anak muda semakin tidak jelas sumbernya. Maksud saya, tidak terseleksi. Bila dulu semua yang masuk dalam publikasi ada
seleksi ketat. Ada media-media, redaktur-redaktur yang duduk di kursi kebesaran mereka dan menentukan bagi dunia
mana yang penting dan mana yang tidak penting. Mana yang layak untuk dibaca dan mana yang tidak layak dibaca. Bukan berarti yang seperti ini yang lebih baik, tetapi setidaknya sumber-sumber berita, sumber-sumber pengaruh lebih sedikit. Mereka, biar bagaimana pun adalah kalangan elit kecil yang dianggap layak duduk dalam posisinya. Tidak seperti sekarang.

Demikian pula dengan lesbian pada waktu itu. Mereka tidak punya media. Mereka harus menebeng pada media mainstream. Tokoh gay dan lesbian waktu itu, hanya ada beberapa. Mereka terpilih (atau terpanggil) karena keberanian mereka, karena kesediaan mereka untuk volunteer (ini bukan tugas sepele lho), dan mereka dapat berhubungan dengan teman-teman senasib melalui ruang yang disediakan oleh media mainstream. Dari sanalah juga aku mendapatkan kontak salah satu tokoh lesbian dulu. Dari dialah kemudian aku dikenalkan dengan teman-teman, dengan calon pacar, dan mulailah aku menjadi praktisi. Bukan hanya pengamat.

Sekarang semua berbeda. Informasi itu sangat mudah. Di dalam tangan Anda, ada sebuah HP, yang terkonek ke Facebook. Udah deh. Di sana juga ada grup-grup Lesbian. Ruang chat, ada juga. Blog bertebaran sekarang. Yang sudah menjadi majalah online Lesbian juga sudah ada.

Saya yakin ini tidak serta merta mempermudah segalanya. Awalnya tampak mudah karena mudah mencari teman, mudah mencari partner, relatif tidak terlalu kesepian. Tetapi, seperti halnya demokrasi dalam suatu negara, masyarakatnya harus cukup cerdas dan kritis agar demokrasi tidak menjelma kekacauan. Sama seperti itu, anak muda kita juga harus punya prinsip yang kuat dan tingkat kritis yang lebih tinggi dibanding pada masa kita. Di era banjir informasi yang mengerikan ini, mereka mudah menjadi bingung. Harus ke mana, karena pluralisme menjadi semakin nyata, bahkan dalam sebuah kelompok kecil, kelompok minoritas yang oleh orang-orang disebut sebagai lesbian ini.

Ada lesbian yang sangat religious, ada yang setengah-setengah, ada yang tidak percaya Tuhan. Ada yang sangat percaya diri, ada yang menerima dirinya dengan baik, ada yang tidak bisa menerima sama sekali, ada yang setengah-
setengah. Ada juga yang disebut dengan bisexual, ya, mereka beneran ada. Ada yang menikah, ada yang tidak. Ada yang percaya bahwa kamu sebaiknya menikah, ada yang merasa menikah adalah pembohongan. Ada yang tampak seperti ibu-ibu, ada yang tampak seperti bapak-bapak (hehehe).

Pluralisme ini ada sejak dulu, tapi baru sekaranglah eranya pluralisme. Dulu hanya satu dua orang yang bicara (baca: menulis). Sekarang, hampir semua orang. Inilah pesta keberagaman. Tidak ada yang salah dengan semua pilihan
itu. Tidak ada satu pun di antara pilihan-pilihan di atas lebih baik dari yang lain. Pertanyaannya adalah, pilihlah
yang sesuai dengan dirimu. Setiap orang terlempar ke dunia ini dengan kondisi-kondisi unik yang membentuk dia menjadi dirinya saat ini. Jadilah dirimu sendiri, kamu tidak perlu menjadi si A, atau si B, tokoh L maya yang sering kamu baca, yang kamu ikuti blognya, yang kamu ikuti kisah cintanya. Kamu juga tidak perlu menjadi label tertentu. Butch, andro atau femme, misalnya. Itu adalah kotak-kotak yang mempermudah orang luar melihat dan membicarakan kita. Semua itu dinilai dari penampilan (external) saja. Padahal menjadi seorang lesbian meliputi ranah-ranah yang jauh lebih luas dari apa yang dilihat orang lain pada kita.

Selain itu, menjadi lesbian juga sama saja dengan yang bukan lesbian. Kalimat klise yang sangat aku benci: Lesbian
juga manusia biasa. Kita juga mempunyai aspek-aspek kehidupan yang lain, hal ini juga menyumbang pada pluralisme
pemikiran yang sangat bercabang itu. Saya sendiri, sangat merayakan keberagaman, dan berterima kasih kepada internet atas perubahan fundamental ini. Namun, itulah sedikit yang ingin saya sampaikan, khususnya untuk kaum muda, kritislah dalam mencerna informasi. Jangan menjadi busa yang menyerap segalanya. Tapi semuanya disaring, diolah, mana yang baik untuk kita diambil dan mana yang tidak baik dibuang saja.

Demikian juga untuk para publisher, termasuk saya karena saya menulis blog, tanpa kita sadari ternyata kita adalah
elemen-elemen pembentuk pengaruh di dunia maya ini. Pemikiran yang kita lempar begitu saja, kadang berupa curhat
gak penting, kadang hanya karena kita ingin latihan menulis, tanpa kita sadari, adalah burung-burung pengaruh yang
dapat tertangkap oleh jala Google ketika seseorang melakukan pencarian. Mau gak mau, sisters, kita harus bertanggung jawab, mempunyai tanggung jawab moral terhadap apa yang kita tulis dan bagikan pada dunia. Karena, kita juga adalah para mavens.