Black Velvet

•Mei 11, 2011 • Tinggalkan sebuah Komentar

Pertama kulihat kilaumu

Aku masih terlalu muda

Hingga suatu malam

Kau dan aku jadi begitu dalam

Seorang wanita; kau dan aku

berbagi bibirnya

Musik menuang kecupan

basah; aku tak ingat

kau atau wanita, yang membuat

aku bahagia

Aku berenang di antara

lampu-lampu kota, terbang

melintas jembatan beton raksasa

Hingga malam benar-benar

menelan aku habis-habisan

dan pagi telah melupakan namaku

namun aku tak pernah lupa

kilaumu yang abadi

Desahan Petenis Putri

•Oktober 14, 2010 • 1 Komentar

Di kalangan atlet, sejak dulu paling mudah mengasosiasikan petenis perempuan yang tangguh dan perkasa sebagai lesbian. Apa sebab? Sebab nama-nama seperti Billy Jean King dan Martina Navratilova, sebagai petenis legendaris dunia, kok ya kebetulan keduanya lesbian. Kalau awalnya Billy Jean King sempat menikah, tidak pernah mengakui dirinya sebagai pecinta sesama perempuan,  kemudian terlibat affair dengan manajernya (perempuan), yang kemudian si manajer ini menuntutnya di pengadilan dan membuat King bangkrut total, maka tidak demikian halnya dengan Martina. Martina sejak menjadi warga negara Amerika  di tahun 1981-an(sebelumnya warga negara Chekozlovakia), langsung come out soal  soal orientasi seksualnya. Tapi hampir serupa dengan King, Navratilova juga harus menghadapi pengadilan ketika bersengketa  seru soal harta gono gini dengan mantan  partnernya,  Judy Nelson yang sudah 8 tahun hidup bersamanya. Hiks…kok sama apesnya ya?

Padahal secara prestasi keduanya belum bisa ada yang mengalahkan…. bayangkan saja seorang Billi Jean King, kelahiran tahun 22 November  1943,  tercatat memenangkan  12 Grand Slam untuk tunggal putri, 16 Grand Slam ganda putri, dam 11 grand slam untuk ganda campuran. Hebatnya lagi dia pernah mengalahkan pemenang tunggal putra Wimbeldon,  Bobby Riggs, sebuah rekor yang belum terpecahkan oleh pemain tenis putri lainnya sampai saat ini (lihat tanggal upload tulisan iniJ).

Sementara Martina? Wow lebih spektakuler lagi:  memenangkan 8 Grand Slam tunggal putri, 31 Grand Slam ganda campuran (masih sebagai pemegang rekor sampai saat ini), dan 10 Grand Slam ganda campuran. Jadi terbayang kan betapa hebat prestasi perempuan kelahiran 18 Oktober 1956 ini.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                     Picture: Martina Navratilova

Aduh, kok dari tadi membicarakan prestasi sih? Mana cerita desahan petenis putri?? Nah inilah kisahnya: Jadi  beberapa waktu lalu pihak persatuan tenis dunia berencana untuk mengatur soal suara desahan atau lebih tepatnya suara erangan para petenis. Gara-garanya? Suara yang ditimbulkan oleh para petenis, khususnya petenis putri sangat menganggu konsentrasi pemain lainnya. Lebih hebatnya lagi suara erangan itu sangat dahsyat, bahka tercatat nama Maria Sharapova, sebagai pemilik erangan super dahsyat setinggi 101 decibel hampir mendekati suara auaman singa yakni  110 decibel. Lalu Monica Seles  menduduki urutan berikutnya dengan erangan dan raungan setinggi 93,2 decibel. Urutan berikutnya Lindsay Davenport  (88), Venus Williams (85), Victoria Azarenka (83,5), Elena Bovina (81), Anna Kournikova (78,5), Kim Clijsters (75) dan Elena Dementieva (73). Ini urutan ketinggian decibel erangan, bukan urutan prestasi, dan jelas bukan urutan beha maupun sepatu.

Lalu apa hubungan antara lesbianisme dengan erangan atau desahan? Jelas tidak ada lah. Hanya saja sebagai gambaran, para petenis perempuan ini jauh lebih sering disorot dan dibahas oleh media massa dibandingkan para petenis pria.  Dari soal penampilan mereka sampai urusan orientasi seksual mereka.  Sampai-sampai dulu pernah ada pembahasan secara khusus, bahwa desahan dan erangan yang dihasilkan dari mulut Monica Seles saat bermain tenis di lapangan, diperkirakan memiliki pola dan kemungkinan sama ketika Monica sedang bercinta. Hah?? Jelas kurang masuk akal kan, atau bisa jadi betul? Yang jelas tidak pernah ada saksi mata atau saksi pendengaran atas asumsi tersebut. Tapi mungkin juga kamar Monica seles diberi kedap suara? Uhmmmm ini teori yang agak terlalu memaksa.

Tapi memang soal desahan, erangan di ranjang bagi sebagian besar orang tidak bisa ditahan maupun diatur-atur. Malah kalau dipaksa diam saat bercinta, tidak berisik, bisa-bisa bukan orgasme yang didapatkan, melainkan rasa lelah menahan diri dari suara mengerang dan mendesah tadi.

Sebagai penutup tulisan ini maka ada baiknya kita mengenang juga prestasi Billy Jean King dan Martina Navratilova, yang keduanya sampai saat ini menjadi aktifis di lembaga-lembaga yang memperjuangan isu LGBT. Meski tentu saja di lembaga yang berbeda, karena seperti yang ungkapkan kedua belah pihak pada media, kedua petenis ini tidak dekat satu sama lain. Catatan akhir dari yang paling akhir: tahun 2009 lalu King mendapatkan penghargaan Presidential Medal of Freedom dari presiden Amerika Obama atas aktifitasnya sebagai penggiat isu kemanusiaan khususnya isu LGBT.

Picture: Billy Jean King

Kali ini tulisan diri ini terlalu serius ya?? Kurang Juicy ya? :D

Ratri M.

Baby Dyke? No Way!

•Oktober 12, 2010 • 2 Komentar

Jadi yang namanya punya pasangan, punya pacar, atawa punya cem-cem-an harus  ada standarnya. Yah manusiawi lah…namanya juga manusia, pasti butuh kriteria ini dan itu. Nah beberapa tahun lalu ada teman  cewe, bule Ausie yang mengajak melihat-lihat mitch match room, alias situs perjodohan untuk cewe. Seru sekali kami beramai-ramai melihatnya, teman ini usia sudah cukup matang….more than 45 tahun, tapi yang jelas masih sangat seksi. Dan kebetulan dia memang sedang mencari pacar.  Tiba-tiba seorang teman lain melihat tampang imut di halaman web yang dibukanya, sontak ia berteriak: “She is so cute….” dan teman bule tadi melirik sambil membaca deretan usia yang terpampang, 20 years old. Lalu dengan spontan si bule menjawab: “No way…baby dyke!” . Saya sempat melongo, dan diapun menjelaskan panjang lebar, dia mau punya pacar, bukan mau adopsi anak perempuan. Huahahahahhaha. Dulu saya tertawa geli mendengarkan keenggan teman yang satu ini. Kriteria yang tepat menurutnya tak lebih dari 10 tahun jarak usianya.

Sekarang, begitu usia diri ini beranjak makin menjulang, perasaan sama juga hadir. Kalaupun pengen yang segar-segar, ujungnya yang dicari ya ke”segaran” usia matang. Melihat perempuan matang, dengan rambut di sana-sini uban, namun tubuh masih fit, sehat, dan bugar, adalah sebuah oase. Apalagi yang seusia tersebut, dengan kematangan berpikir dan bertindak,  sekaligus masih single, pasti langka adanya.  Jadi kalau lagi iseng pasti mengharap deh menemukan pemandangan yang indah itu. Tentunya sangat sulit ditemui di mall-mall, karena kan diri ini baru bisa jatuh cinta bila sudah mengenal lebih dekat kapasitas pemikiran si “matang” tadi. Fisik jadi urusan nomer dua.

Dalam bayangan diri yang dah makin berumur, berjalan-jalan, bergandengan dengan orang yang seusia atau bahkan yang lebih tua pastilah jadi romantisme yang dibayangkan. Menikmati keindahan alam, memanjakan diri dengan terpaaan alam yang lembut bak angin surgawi. Membicarakan banyak hal yang tidak saja melangit namun juga membumi.

Lalu tiba-tiba semalam tergerak untuk membuka mitch match room yang sempat dulu diberitahu alamatnya oleh teman bule tadi. Setelah membuka-buka halaman yang bagian cewe Indonesia…..Oh My God….rata-rata memang masih sangat muda, baby dyke. Kemudian tangan bergerak lebih lanjut membuka halaman yang berasal dari negara sebelah, Ausie, dan wala…….. semua usia yang menjadi selera terpampang dengan cantiknya. Uhmmmm, sungguh luar biasa menemukan deretan wajah cantik dengan usia yang matang-matang. Pikiran jadi melamun ke mana-mana. Tapi angan tinggalah angan, maklum diri ini tidak punya keberanian tuk menyapa  wajah dan nama yang di kenal hanya lewat website.  Ketika hari sudah berganti, diri ini pun bertutur kisah pada sahabat lain soal pengalaman membuka web dan penasaran ingin berkenalan dengan orang yang jauh di mata. “Mbak ini ada yang mo kenalan, orang cantik, baik,….. usianya 22 tahun” sahabat tadi dengan entengnya menyampaikan salam……oh not again…no baby dyke……

By Ratri M.

The Unloneliness Project

•September 7, 2010 • 1 Komentar

Mungkin, inilah misi kita hidup di dunia ini. Sebuah project besar yang tanpa sengaja selalu kita kerjakan dari hari ke hari, the unloneliness project. Proyek mengusir kesepian adalah sesuatu yang alamiah, kita lakukan tanpa kita sadari, sebagaimana kita berjalan dan bernapas.

Hingga suatu saat aku berada di suatu tempat, sendiri, barulah aku sadar. Barulah aku berpikir tentang kesepian-kesepian, barulah aku terpikir tentang proyek besar yang tidak pernah kita sadari itu.

Aku telah ditinggal sendiri di tempat ini, tempat ini bukanlah Shangrilla, bukan tempat ideal yang indah untuk menyendiri dan merenung, malah kebalikannya. Tetapi ternyata cukup untuk membuatku berpikir.

Kesepian itu macam-macam. Setidaknya ada 3 yang bisa aku pikirkan. Ketiga ini mungkin berjenjang/bertingkat, mungkin juga merupakan variasi. Entahlah, males mikir.

Kesepian tingkat pertama, pada level yang paling mendasar adalah kesepian yang bersifat fisik. Kita butuh orang lain di sekitar kita, someone to talk to, someone to be with, dan sedikit human touch. Ini bisa siapa saja, karena masih bersifat mendasar (primitif) jadi ketika lama kita tidak bertemu siapa-siapa, tidak ada kontak dengan manusia, sedikit perhatian dari siapa saja akan terasa menghibur. Karena ternyata itu adalah salah satu kebutuhan alamiah manusia.

Kesepian tingkat dua, bahkan ketika kita sudah terpuaskan pada level pertama, secara fisik kita terpenuhi, namun masih saja terkadang kita merasa lonely. Kesepian ini lebih karena keinginan kita tidak terpenuhi. Kita terlalu banyak keinginan, kita tidak pernah puas, dan seringkali kita tidak tahu apa yang kita inginkan! Lah bagaimana kita bisa memenuhi keinginan kita itu bila bahkan kita tidak tahu apa yang kita inginkan?? Ini kesepian yang cukup sulit.

Pada tingkatan ketiga, mungkin lebih tinggi dari yang level dua, mungkin juga sama. Ketiga jenis ini, bisa juga disejajarkan, sekali lagi, terserah kok. Pada tingkat ketiga, adalah kesepian karena merasa tidak dimengerti. Ini bisa disebut kesepian intelektual. Orang-orang pintar dan dalam, orang-orang “sinting”, para pemimpin, para visioner, sering merasakan kesepian ini. Tidak harus mereka, mungkin kamu juga kadang akan merasakannya.

Apakah ada lagi jenis kesepian yang lain? Tolong tambahkan bila ada. Tanpa kita sadari, sepanjang hidup kita, ketiga itulah musuh yang coba kita taklukkan. Kita adalah makhluk yang selalu membutuhkan teman, manusia adalah makhluk sosial, kamu pasti sering dengar.

Di level paling bawah adalah orang-orang di sekitar kita, tempat kita berinteraksi, melakukan aktivitas sehari-hari. Tetangga, teman kantor, teman sekolah, teman-teman. Teman pun tidak jarang ada yang bisa menjadi pembunuh kesepian tingkat kedua bahkan ketiga, mereka yang kita sebut sahabat seringkali adalah orang yang secara fisik sering bertemu dengan kita, ataupun bisa juga secara fisik jauh tapi dapat memenuhi kebutuhan pada level yang lebih tinggi itu.

Pada tingkatan tertinggi adalah cinta. Cinta adalah puncak dari unloneliness project. Seorang partner diharapkan dapat memenuhi semuanya. Mulai dari kebutuhan fisik, someone by yourside, seseorang yang nemenin kamu ke mana-mana, seseorang yang memenuhi kebutuhan akan kasih sayang, sentuhan manusia, dan seks. Seseorang yang diajak ngobrol itu sudah pasti.

Masalahnya, sampai tingkat apa kebersamaan itu dapat membunuh kesepian-kesepian kita tadi itu. Coba cek dan ricek dalam hubungan kamu bagaimana. Kalau ada waktu saya akan buatkan kuesioner untuk mengukur tingkat kepuasan sebagai seorang pasangan hehehe… tapi sementara cukuplah sampai di sini, namanya juga iseng mengeksplore sebuah wacana.

Yang bisa memenuhi semuanya, hingga setuntas-tuntasnya, hingga kita tidak lagi merasa sedikit pun kesepian. Not any slightest feeling of loneliness. Itulah ketika kita sudah menemukan si dia. The perfect partner.

Akankah kita menemukannya? Katanya, tidak ada yang sempurna…

Nuage

(Tulisan ini pernah dimuat di Sepocikopi.com)

Surat untuk Perempuanku

•Juli 6, 2010 • 1 Komentar

 

Perempuanku, aku lapar

Berilah aku pelukanmu yang bisa membuatku nyaman

Perempuanku, aku haus

Berilah aku kecupanmu yang bisa menyegarkan dahagaku

Perempuanku, aku lelah

Berilah aku tawamu yang bisa menguburkan semua penderitaanku

Perempuanku, aku sedih

Berilah aku senyummu yang bisa menghalau duka laraku

Perempuanku, aku kekenyangan

Berilah aku elusanmu yang bisa menghilangkan rasa ‘begah’ku

Perempuanku, aku berisik yah?

Itulah makanya aku kirim surat karena jika aku bicara, kamu selalu bilang bahwa suaraku seperti bunyi kereta api.. tuttt…..tutttt…tuttttt

Tuk para perempuan yang sibuk mencari nafkah, kurangilah kesibukan kalian karena kebahagiaan kalian yang sejati ada di berisiknya pasangan kalian….. (kaliii lhoh…)

:)

NB.

Surat ini ditujukan untuk semua Perempuan, termasuk Tomat dan Juice… Mana tulisan kalian lagi?

Cewek Sinting

•April 15, 2010 • 7 Komentar

Orang-orang menyebutnya gadis gila, cewek sinting; karena dia sering menunjukkan payudaranya kepada orang-orang. Itulah yang kudenger tentang dia.

Dia sangat cantik. Rambutnya tergerai megah bagai air terjun yang berkilauan. Matanya seterang pagi yang cerah sehabis hujan. Sinar matanya lembut, redup karena tertutup bulu-bulu mata yang lentik. Bibirnya bagai bunga mawar yang sedang merekah ranum. Pipinya yang merona dan kedua lesung pipitnya, menghasilkan senyum yang mematikan.

Semua mengakui kecantikan dia. Tapi tak satupun pria di kota ini mau menikahi dia. Siapa yang mau punya istri, yang payudaranya sudah dilihat oleh banyak laki-laki.

Sebenarnya, sudah berapa laki-laki yang sudah melihat payudara dia? Aku tidak tahu. Tidak ada yang pernah menghitung. Aku sendiri tidak pernah melihat aksi penunjukan itu dengan mata kepalaku sendiri. Aku hanya mendengar cerita. Dan tentu saja cerita semacam ini sangat populer, bisa dikatakan sebagai legenda kota.

Hingga pada suatu hari. Aku pulang dan mendapati si cewek sinting—aku lebih suka menyebutnya si cewek cakep—sedang menelentangkan kedua tangannya yang memegang kedua sisi kemejanya, dan sedang menunjukkan payudaranya, kepada ayahku.

Aku langsung melengos pergi. Melihat adegan itu saja sudah cukup untuk membuatku malu. Marah. Sebel. Benci. Entah perasaan apa lagi yang bercampur aduk.

Selama ini, sebelum menyaksikan sendiri adegan itu, aku percaya gadis itu seorang yang baik. Bila dia tidak sedang menunjukkan payudaranya, tampaknya dia anak yang manis. Banyak yang bilang dia juga baik hati dan suka menolong orang lain. Asal tidak melihat dia melakukan aksinya yang melegenda itu, sangat mudah untuk merasa simpati padanya. Bahkan jatuh cinta padanya.

Aku pun masuk dalam kamarku dan berganti pakaian. Tiba-tiba saja si cewek sinting sudah berada di dalam kamarku. Ternyata, mungkin karena emosi, aku lupa mengunci pintu, dan dia mengikutiku.

Aku menatapnya dan melupakan tubuhku yang terbuka, payudaraku yang terlihat olehnya. Dia memandangku dengan matanya yang super indah. Kalau tidak ingat semua yang tadi sangat mudah untuk jatuh hati pada mata yang indah itu. Mata yang seolah berkata, “aku membutuhkanmu.”

Dia membuka bajunya, sesuatu yang biasa dilakukannya di depan laki-laki. Tapi kini yang ada di hadapannya adalah seorang perempuan. Dia tampak tulus dan waras. Aku pun memeluknya.

Payudaraku secara pas menyentuh payudaranya. Aku merasakan payudaranya yang kencang. Sejenak aku merasa sangat bahagia. Namun tiba-tiba, aku merasa ada yang aneh. Maka aku pun melepaskan pelukanku.

Aku mulai mengamati pemandangan indah di hadapanku. Payudara yang cantik seperti orangnya. Namun tidak hanya dua, gadis ini memiliki tiga payudara. Yang satu, lebih kecil, tersembunyi di antara kedua payudara seperti yang biasa dimiliki gadis-gadis lain. Aku terperangah. Gadis ini bukan hanya sinting. Dia juga sakit.

Lalu aku pun memakaikan kembali bajunya, dan mulai mengajaknya bicara mengenai ke dokter. Dia tampak tidak tertarik seolah-olah aku adalah orang yang ke 2589 yang mengatakan hal itu padanya. Dia mengangkat bahu dan pergi.

“Tunggu,” kataku.

Dia berhenti.

“Kau belum bilang siapa namamu.”

“Orang-orang menyebutku gadis gila, cewek sinting.”

“Tapi kau tidak gila. Kau sakit.”

“Aku hanya aku. Terserah mau dibilang apa. Mungkin payudara kecil yang kaulihat tadi yang membuat aku suka menunjukkan payudara kepada orang-orang. Hal itu terjadi begitu saja. Aku sendiri tidak terganggu. Si kecil yang membuatmu horor itu pun tidak menggangguku. Dia tidak membuatku sakit. Hanya daging yang tumbuh tidak sama seperti orang-orang. Aku membuat semua orang takut… hehheehe…”

Dia mengangkat bahu sekali lagi.

Dan berjalan meninggalkanku. Selamanya.

Tak pernah lagi aku bertemu dengannya. Namun tetap kudengar cerita tentang dirinya. Cerita yang akan selalu hidup di kota itu. Sampai kapan pun.

Cinta dalam Sepasang Dompet

•Maret 22, 2010 • 5 Komentar

Dompet adalah barang yang biasanya selalu kita bawa ke mana saja kita pergi. Dompet adalah tempat kita menyimpan hal-hal yang penting: uang, kartu identitas, kartu-kartu finansial, foto, dan hal-hal pribadi yang esensial lainnya. Jadi, betapa pentingnya dompet, kayaknya tidak perlu diributkan lagi.

Suatu hari, tepatnya jatuh pada hari Minggu, aku dan partner terlibat dalam sebuah misi yang mulia: menemani Surti, teman dekat kita, hunting dompet di Plaza Indonesia.

Adalah sebuah butik fashion dari Perancis yang sangat terkenal itu yang kami masuki pertama kali. Outlet brand ini di Plaza Indonesia masih belum lama dibuka, dengan ukuran yang mencengangkan, mungkin salah satu yang terbesar di Asia Tenggara.

Kilauan lampu yang menyihir terpantul dari tas-tas dan benda-benda lain yang duduk manis dalam rak-rak gemerlap. Tempat ini mengeja “Glamour” di mana-mana. Aku merasa bagaikan berada di suatu tempat yang sangat asing. Ya, ngaku deh. Aku belum pernah masuk toko LV di Plaza Indonesia. Pas mau masuk saja aku takut mereka memasang alat screening kekayaan yang bisa bunyi bila manusia yang tidak termasuk kategori berkantong tebal melangkah masuk. Hehehehe kidding.

Surprisingly, mas-mas penjaga toko yang ganteng-ganteng ini, sangat baik. Melayani Surti yang tidak terlihat terlalu kaya, tapi permintaannya cukup banyak, mereka cukup sabar, dan tidak seperti penjaga toko dalam film Pretty Woman yang angkuh memandang Julia Roberts. Iya, masuk toko-toko di Plaza Indonesia, browsing keluar masuk butik-butik brand kelas atas dunia ini memang cukup membuat aku merasa seperti Pretty Woman.

Cerita hunting dompet ini gak seru kalau dompet yang dicari hanya satu. Cerita ini jadi seru karena si Surti mencari dompet yang harus sepasang. Lah ini sepasangnya bukan satu model cowok, satu model cewek. Tapi dua-duanya model cewek. Jadi harus sama persis. Dan modelnya juga gak boleh yang terlalu cewek banget. Harus bisa cocok dengan karakter si Surti dan pasangannya. Pokoknya, unisex lah sebutannya, biar mas-mas dan mbak-mbak penjaga toko tidak kebingungan.

Dengan gaya Surti yang polos, dia berhasil membuat mas-mas maupun mbak-mbak mengijinkan dia memfoto produk-produk dompet itu. Padahal itu adalah hal yang dilarang di butik-butik high class itu bukan? Alasannya, Surti mau mengirim email foto tersebut kepada orang yang memesan dompet, dan memang benar, Surti sibuk berkonsultasi dengan pasangannya yang berada di luar kota itu tentang pembelian dompet. Jadinya, aku sama partner hanya menemani secara fisik, sambil sesekali memberikan komentar bila diperlukan. Selebihnya, Surti sibuk dengan Tejowati partnernya, lewat jalur BBM, berdua memutuskan sepasang dompet yang akan menjadi teman setia mereka.

“So sweet ya…” “Lucu juga idenya…” Partnerku berkomentar.

“Kamu contoh dong,” kata dia.

“Wah, sayang, kamu jangan minta dibelikan LV ya,” kataku langsung ketakutan. Hahahahaaa.

Akhirnyaa… setelah acting seperti Pretty Woman, keluar masuk butik brand-brand Eropa, sampai kakiku pegal padahal sudah diselingin minum-minum dulu di cafe… temanku Surti akhirnya menjatuhkan pilihannya. Ini juga setelah negosiasi alot antara dia dan partnernya lewat telepon maupun BBM. Namun, ternyata oh ternyata, dompet pilhan ini stoknya hanya satu. Surti meminta mbak-mbak penjaga toko menelepon ke outlet-outlet yang lain untuk mencari dompet yang sama. Dicobalah ke Sency, PS, Kelapa Gading, bahkan sampai Bogor pun akan kudatangi, kata Surti. Harus sama pokoknya.

Aku juga baru tahu kalau butik-butik kelas atas ini tidak punya banyak stok. Satu model hanya ada 1 atau 2 atau 3. Mau beli dua aja susah, gimana beli empat ya?

Untunglah, setelah mbaknya menelepon ke sana ke mari, kita tidak perlu ke Bogor. Pasangan si dompet imut berwarna hijau lumut itu, ada di Keris Gallery Menteng. Huh, lega. Tidak jauh dari Plaza Indonesia.

Maka setelah menyelesaikan transaksi dompet pertama, berangkatlah kami bertiga, menuju Keris Gallery, untuk mencari pasangannya. Surti dag dig dug sepanjang jalan. Beneran ada gak nih pasangannya… Nanti kalau gak sama gimana… Gak seru nih… (sampai nama mbak di PI maupun di KG dicatet lho sama si Surti hehehe).

Karena nervous, atau karena memang puteran di Patung Kuda itu selalu memakan korban, Surti diberhentikan polisi di sana. Hiks. “Salah gue apa ya?” kata Surti masih gak percaya dia diberhentiin. Ternyata beneran dia yang diberhentikan. Polisi bilang: “Lampu merah, tapi ibu terus jalan.”

“Hah? Lampu merah? Emang ada ya?” kata Surti. Waduh.

Dengan kelihaian Surti bernegosiasi, akhirnya, masalah beres dengan merogoh kocek Rp 30.000 saja. Huh, lega. Hebat juga lo, Sur, kataku.

Masih bete, kami meneruskan perjalanan. Kami berdua pun berusaha menghibur Surti. Gak papa lah, Sur, demi mencari pasangan si dompet, elo sampai ditilang polisi. Pasti si Tejowati makin berbunga-bunga kalau tahu perjuangan lo mendapatkan sepasang dompet ini.

“Iya ya,” kata Surti. “Demi cinta, apa pun gw terjang,” katanya. Duhhh, so sweet…

Sampai di Keris Gallery, semua berjalan seperti yang diharapkan. Pasangan si dompet telah menanti. Surti pun mempertemukan kedua dompet yang telah ditakdirkan bersama itu.

Sampai kapan pun, kalau melihat dompet mereka, Surti dan Tejowati akan ingat cerita hari itu. Semoga saja, setiap membuka dompet, mereka akan selalu ingat bagaimana perasaan mereka saat ini.

:”> :”> :”>

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.